Andi Juliandrie Abham, Mahasiswa Jurusan Ilmu Administrasi Bisnis Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Makassar. Foto-Ist.

PROFESI-UNM.COM – Subsidi adalah bentuk bantuan keuangan yang dibayarkan kepada suatu bisnis atau sektor ekonomi sedangkan UKT adalah uang kuliah tunggal yang dibayarkan mahasiswa dengan dalil biaya keseluruhan operasional per mahasiswa setiap semesternya pada setiap program studi. Nah, jika digabungkan maka subsidi UKT adalah bantuan keuangan kepada mahasiswa terkait perekonomiannya.

Membahas mengenai subsidi, maka kampus orange dikenal dengan kampus yang lumayan sering memberikan subsidi kepada mahasiswanya tanpa kehadiran bencana. Betapa tidak, kampus dengan ikon Menara Pinisi ini gemar memberikan bantuan terhadap mahasiswanya hampir di setiap semesternya, banyak syarat dan ketentuan untuk mendapatkan subsidi, yang paling sering diterapkan ialah ketika orang tua atau wali mahasiswa mengalami kebangkrutan, terkena phk atau meninggal dunia. Jadi, jika ingin mendapatkan subsidi maka salah satu dari ketiga syarat tersebut harus dialami.

Saat ini, kita masih dalam keadaan dimana makhluk mungil masih berjaya menebar ketakutan bersama koloninya, karenanya mahasiswa terpaksa menjalani perkuliahan dengan metode online. Metode yang menguras isi dompet hanya untuk membeli paket internet, metode yang tidak sama sekali menggunakan fasilitas kampus yang ada. Terkait dengan metode online pada proses perkuliahan, pihak kampus orange tidak berdiam diri saja, mereka dengan sigap melakukan berbagai upaya untuk meringankan mahasiswanya dalam menjalani perkuliahan. Mulai dari menyiapkan LMS (Learning Management System) yang berupa KELASE (Social Mobile Learning) dan SPADA (Sistem Pembelajaran Daring), bantuan paket internet 30 GB hingga pemotongan UKT semester depan ala youtuber Ferdian Paleka pun menghiasi tindakan yang diambil oleh pihak kampus guna membantu mahasiswanya di masa pandemi corona virus ini.

Situs LMS yang berupa KELASE dan SPADA adalah salah satu tindakan yang ditetapkan oleh pihak kampus semasa pandemi, penetapan ini sangat relevan dengan situasi yang ada, hanya saja penerapannya hampir tidak ada bagi saya, aplikasi Google Classroom, WhatsApp, Telegram dan Zoom adalah media yang digunakan mahasiswa melalui petunjuk sang dosen. Bantuan paket internet 30 GB yang digaungkan hampir ke pelosok media juga adalah salah satu tindakan yang diterapkan oleh pihak kampus orange, bantuan ini didapatkan mahasiswa ketika perkuliahan menuju babak injury time atau dengan kata lain perkuliahan tersisa kurang lebih dua bulan lagi. Tindakan ini juga sempat viral di media sosial, itu karena pihak kampus terlebih dahulu menggaungkannya ke beberapa media ternama tanpa adanya bantuan sama sekali. Hingga saat ini, konspirasi paket internet 30 GB akhirnya terpatahkan dengan notifikasi paket internet 10 GB yang didapatkan minoritas mahasiswa secara bertahap katanya.

Kini, #mahasiswaunmmenuntut penggratisan UKT semester depan, tuntutan ini hadir sebagai bentuk keresahan mahasiswa di tengah pandemi ini. Di lain sisi, perkuliahan semester ini dapat dikatakan hampir melalui metode online, secara otomatis tidak menggunakan fasilitas yang tersedia. Dengan begitu, orientasi dari UKT mahasiswa sendiri dapat dikatakan tidak efektif dalam penerapannya, orientasi yang tergabung ke dalam 14 komponen BKT itu diantaranya yaitu penyambutan mahasiswa baru, wisuda, skripsi, magang/ppl, laboratorium, perkuliahan tatap muka, perpustakaan, internet (IT), BOP/administrasi, penjamin mutu, ujian-ujian semester, penelitian, pengabdian dan kemahasiswa. Melihat 14 komponen tersebut, hanya beberapa saja yang dijalankan di tengah masa pandemi ini.

Maka mahasiswa melakukan aksi menuntut pihak kampus menggratiskan UKT untuk semester depan atau jika tidak dapat menggratiskan, berikan saja potongan pembayaran UKT untuk mahasiswa. Jika tidak dapat lagi, maka silahkan mentransparansikan alokasi dana UKT mahasiswa setransparan mungkin tanpa adanya yang tertutupi meski itu satu rupiah saja.

Pihak kampus orange sepertinya mendengar tuntutan mahasiswanya sehingga menimbulkan reaksi dengan mengeluarkan kebijakan terkait pembayaran UKT semester depan. “Tidak ada istilah pemotongan, yang ada adalah penurunan. Penurunan UKT sebelum Covid-19 selalu ada, asal mahasiswa dalam kondisi orang tua atau wali mengalami meninggal dunia, pensiun/PHK dan bangkrut”[Tabloid Profesi UNM edisi 240]. Dengan begitu, sama saja dengan tidak ada kebijakan perihal syarat mendapatkan subsidi di tengah pandemi ini. Jika sebelum adanya pandemi untuk mendapatkan subsidi, mahasiswa harus mengalami salah satu dari tiga syarat itu lalu dengan adanya pandemi untuk mendapatkan subsidi, mahasiswa juga harus mengalami salah satu dari tiga syarat yang ditetapkan. Dengan dalil subsidi akibat pandemi diteoritiskan di beberapa media dan pragmatisannya ternyata #tapiboong. Ini mengingatkan kita terhadap apa yang dilakukan beberapa bulan yang lalu oleh youtuber sekaligus duta sembako versi netizen +62.

Seharusnya pihak kampus mengeluarkan kebijakan yang benar-benar membantu mahasiswa di tengah pandemi ini, jika hanya mengandalkan subsidi konspirasi paket internet 30GB itu serta KELASE dan SPADA sebagai bentuk upaya subsidinya, itu tidak sebanding dengan apa yang dibayarkan mahasiswa tiap semesternya, itu subsidi atau cashback belanjaan? Analoginya kurang lebih seperti kita memesan sebuah jas preorder untuk digunakan pada sebuah acara pernikahan keluarga seharga Rp. 4.500.000 di sebuah toko, seiring berjalannya waktu, jas yang dipesan pun tidak ada sampai hari dimana acara pernikahan digelar, si pembeli pastinya mempertanyakan kemana jas yang dipesannya? Lalu pihak toko tersebut hanya memberikan cashback Rp. 150.000 dengan dalil sebagai permintaan maaf kepada si pembeli atas ketidaknyamanannya. Terkait permintaan pembeli untuk mendapatkan feedback yang sebanding, pihak toko menutup mata dan telinga. Kurang lebih seperti itu nasib mahasiswa unm di tengah pandemi ini, alibi seperti Indira Kalistha tapi nyatanya seperti Ferdian Paleka, “saya meminta maaf dan akan memberikan bantuan sembako di tengah pandemi ini tapi boong.” (*)

*Penulis: Andi Juliandrie Abham, Mahasiswa Jurusan Ilmu Administrasi Bisnis Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Makassar

Share and Enjoy !

0Shares
0 0