Ilustrasi Semarak Ramadhan. Foto-Ist.

PROFESI-UNM.COM – Corona Virus Disease tahun 2019 atau COVID-19 pertama kali ditemukan di Wuhan, China pada akhir tahun 2019. Penyebaran virus ini begitu cepat mewabah hingga kini ada 215 negara di dunia yang terpapar (Covid19.co.id). Salah satunya di Indonesia, pertama kali diumumkan masuk di Indonesia oleh pemerintah pada Senin, 2 Maret 2020. Ada dua orang yang positif covid-19 yaitu ibu berusia 64 tahun dan putrinya berusia 31 tahun (Kompas.com). Sejak saat itu korban yang terpapar covid-19 semakin bertambah. Hingga tanggal 2 Mei 2020 di Indonesia ada 10.843 orang dinyatakan positif, 1665 sembuh dan 831 meninggal (Covid.co.id).

Peningkatan korban covid-19 yang terus bertambah setiap harinya membuat pemerintah telah mengambil kebijakan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). Berdasarkan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan Pasal 1 ayat (11), yang dimaksud dengan PSBB yaitu pembatasan kegiatan tertentu penduduk di dalam suatu wilayah yang diduga terinfeksi penyakit dan/atau terkontaminasi untuk mencegah kemungkinan penyebaran penyakit atau kontaminasi. PSBB merupakan salah bentuk satu tindakan kekarantinaan kesehatan yang diatur di dalam Pasal 15 ayat 2 UndangUndang tersebut (Purbolaksono dkk, 2020). Kebijakan PSBB ini telah disahkan melalui Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2020 tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar dalam Rangka Percepatan Penangan Covid-19.

Dampak kebijakan PSBB ini, yakni adanya pembatasan kegiatan di masyarakat. Pembatasan tersebut meliputi tiga kegiatan, yaitu peliburan sekolah dan tempat kerja, pembatasan kegiatan keagamaan, dan pembatasan kegiatan di tempat atau fasilitas umum. Dampak kebijakan tersebut mengharuskan kegiatan pendidikan (proses pembelajaran) dilaksanakan secara daring serta sholat berjamaah dan ibadah lainnya dianjurkan untuk pelaksanakannya di rumah saja. Lebih tepatnya masyarakat dianjurkan untuk tetap di rumah atau stay at home.

Anjuran ini telah disampaikan sejak pertengahan bulan maret oleh pemerintah. Telah dua bulan virus ini mewabah. Mulai dari awal Maret hingga memasuki bulan Mei. Kegiatan di sosial pun mulai dibatasi sebab mesti melakukan sosial distancing. Boleh dikata sekarang bukan lagi “Bersama kita bisa” namun “Berpisah kita bisa.” Sebab dengan memisahkan diri dan menjaga jarak maka kita akan mampu mengurangi penyebab penyebaran virus yang lebih banyak. Pemerintah pun memasuki bulan suci Ramadhan semakin gencar menganjurkan masyarakat untuk stay at home, dibuktikan dengan adanya beberapa surat edaran dari pemerintah untuk melakukan shalat tarawih di rumah masing-masing.

Salah satunya dengan adanya Surat Edaran (SE) No. 6 Tahun 2020 dari Kementerian Agama. Beberapa isi dari surat edaran tersebut adalah pelarangan untuk adanya sahur on the road dan buka puasa bersama, anjuran untuk shalat tarawih bersama keluarga inti di rumah masing-masing, serta tilawah atau tadarus Al-Qu’ran dilakukan di rumah masing-masing untuk menyinari rumah dengan sebagaimana perintah Rasulullah SAW. Awam akan berpikiran ramadhan kali ini akan sangat terasa beda dan tidak seru seperti ramadhan-ramadhan sebelumnya yang dipenuhi kegiatan-kegiatan meramaikan.

Mulai dari sahur on the road, bagi-bagi takjil di jalanan, buka puasa bersama di mesjid, keluarga besar atau pun teman-teman, serta tidak ada lagi lomba Musabaqah Tilawatil Qu’ran (MTQ) yang biasanya diselenggarakan setiap tahunnya yang membuat ramadhan terasa lebih hidup. Semua itu tidak bisa dilakukan untuk ramadhan kali ini sebab semua masyarakat dianjurkan untuk
tetap mengikuti karantina atau stay at home.
Namun, untuk menyemarakkan ramadhan kali ini kita masih bisa. Sebagaimana ramadhan adalah bulan yang penuh dengan kespesialannya.

Ramadhan ini terdiri dari lima huruf, yaitu ra, mim, dha, alif, dan nun. Masingmasing huruf ini memiliki artinya masing-masing. Ra yang berarti rahmah (kasih sayang), mim yaitu maghfirah (ampunan), dha yang bermakna dhaman lil jannah (jaminan surga), alif yang berarti aman min an-nar (selamat dari neraka), dan nun yang berarti nur min al-Allah (cahaya Allah) (Nafis, 2015). Dari hal tersebut dapat dimaknai bahwa bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah, memperoleh kasih sayang dan ampunan, mendapat jaminan surga, selamat dari neraka dan selalu diberikan cahaya Allah untuk menerangi setiap langkah di kehidupan ini.

Itulah kiranya kenikmatan yang dapat diperoleh dibulan Ramadhan, seandainya di imani dengan baik maka semua orang akan berharap semua bulan adalah bulan Ramadhan. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda, “Seandainya semua manusia mengetahui di dalam Ramadhan begitu melimpah kebaikan, niscaya mereka akan mengharapkan agar Ramadhan berlaku sepanjang tahun” (HR. Ibnu AbialDunya).

Memperoleh berkah bulan Ramadhan adalah dengan menjalani semua amal shaleh sebanyak-banyaknya. Seperti berpuasa, menunaikan shalat tarawih, tadarus atau tilawahtil Qu’ran, bersedekah ke kaum yang kurang mampu dan hal lainnya yang membawa kebaikan. Ramadhan kali ini dengan kondisi yang sekarang, tidak perlu disemarakkan dengan berkumpul seperti biasanya mengadakan lomba MTQ, sahur on the road, buka puasa bersama.

Tapi ramadhan kali ini hanya perlu
disemarakkan dengan keluarga, dengan tetap menjalankan dan mematuhi aturan pemerintah. Amalan-amalan dibulan Ramadhan dapat dilakukan di rumah saja yang akan lebih mendekatkan hubungan dengan keluarga. Dimana biasanya di Ramadhan sebelumnya mungkin disibukkan dengan pekerjaan, tugas kuliah dan sebagainya. Kali ini mari bersama menyemarakkan Ramadhan dengan menyibukkan bersama keluarga, menjalin harmonisasi dan mengikuti anjuran pemerintah untuk tetap stay at home.

Dokter, tenaga medis atau pun relawan lainnya yang sementara berjuang merawat pasien covid-19, sekarang ini adalah pahlawan yang akan dikenang. Masyarakat lainnya pun dengan tetap di rumah akan menjadi pahlawan yang akan turut membantu memutus rantai penyebaran COVID-19. Salah satu hal untuk memutus rantai penyebaran covid-19 ini adalah dengan karantina kesehatan yakni tetap stay at home kecuali jika ada hal penting yang menjadi urusan di luar.

Hal ini mungkin akan sangat terasa membosankan,
terlebih lagi ini telah berlangusng selama dua bulan, hingga memunculkan anekdot dikalangan kaum hawa “Sudah seperti ibu rumah tangga yang tanpa suami” Para kaum rebahan pun mulai jenuh dengan kegiatan rebahannya yang sudah overdosisi. Memasuki bulan Ramadhan ini, kasus covid-19 pun belum mengalami penurunan sama sekali. Hal yang bisa dilakukan untuk menyemarakkan Ramadhan adalah dengan bersama AL-Qu’ran.

Tak perlu memaksakan diri untuk tarawih berjamaah sekampung untuk menyemarakkan
cukup tetap di rumah saja perkuat harmonisasi dengan keluarga dengan bersamasama tadarrusan atau tilawahtil Qu’ran. Terlebih lagi dibulan Ramadhan ini yang terbaik adalah membaca Al-Qu’ran sebab pahalanya dilipat gandakan. Sebagaimana dalam HR At Turmudzi, “Dari Abdullah bin Mas’ud r.a. berkata, “Rasulullah SAW bersabda: barang siapa yang membaca kitab dari Allah SWT (Kalam Allah), maka satu huruf baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan akan dibalas dengan sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan alif lam mim (satu huruf), namun alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf.”

Memperbanyak membaca dan mempelajari Al-Qu’ran selama masa stay at home dibulan Ramadhan adalah moment yang sangat bisa dimanfaatkan oleh seluruh kalangan mulai para orang tua, remaja dan anak-anak Hal ini pun bisa dijadikan ajang bagi para orang tua atau kakak untuk lebih dekat dengan anak atau adiknya, dengan mendidik dan mengajarinya membaca Al-Qu’ran, yang mungkin biasanya belajar di Taman Pendidikan Al-Qu’ran (TPA/TPQ) namun karena kondisi sekarang tidak bisa lagi.

Belajar Al-Qu’ran ini pun bukan hanya untuk anak-anak namun itu siapapun yang ingin belajar atau dengan mengajarkan AlQu’ran bisa menjadi pendorong untuk lebih mempelajari kalam Allah SWA tersebut. Sebab bagi orang yang ingin belajar dan mengajarkan Al-Qu’ran adalah suatu kesyukuran, sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Sebaik-baik kalian (orang Islam) adalah orang yang belajar Al-Qu’ran dan mengajarkannya.”

Al-Qu’ran merupakan Kalam Allah SWT, yang diwahyukan (diturunkan) kepada Nabi Muhammad SAW, dengan melalui pengantar malaikat jibril yang merupakan mukjizat dan membacanya adalah ibadah. Membaca, mempelajari dan mengajarkannya adalah ibadah sebab ada banyak keutamaan yang dapat diperoleh melalui Kalam Allah SWT ini diantaranya: mendapat ketenangan, menyehatkan fisik, mencerdaskan otak, melancarkan rezeki, menyembuhkan penyakit, mencegah musibah, memudahkan masuk surga, memperoleh pahala serta mendapatkan syafa’at di alam kubur (Syarbini dan Sumantri, 2012).

Memang sebaiknya selama bulan Ramadhan ini Al-Qu’ran diajarkan dalam keluarga selama stay at hom, memperbanyak membacanya. Ayat Al-Qu’ran yang
diturunkan oleh Allah SWT pada tanggal 17 Ramadhan kepada Nabi Muhammad SAW adalah Iqra “Bacalah” dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan
kalam. Dia mengajarkan manusia sesuatu hal apa yang tidak diketahuinya.”

Ayat ini menunjukkan bahwa kelebihan umat manusia adalah ilmu yang dapat diperoleh melalui membaca dan tulisan (qalam). Dari hal ini pula semestinya
manusia memperhatikan dan membaca kondisi saat ini, wabah semakin merajalela. Maka sudah seyogyanya mengikuti apa yang telah disarankan oleh
pemerintah dan yang disampaikan ilmuan bahwa wabah ini akan terputus dengan kita melakukan social distancing dan stay at home.

Jika mungkin sebelumnya di dalam sejarah Ramadhan, ada beberapa kemenangan umat Islam yang diperoleh, seperti saat perang Badar Kubra adalah kemenangan besar umat Islam terjadi pada tahun ke 2 hijriyah, Ramadhan tahun ke-8 Hijriyah Rasulullah mengutus sahabat agar merobohkan berhala kaum kafir Quraisy, Khalid bin Al-Walid merobohkan berhala Al-Uza, Amr bin Al-Ash merobohkan berhala Suwa dan Sa’ad bin Zaid Al-Asyhali merobohkan berhala
Al-Manat.

Pada 28 Ramadhan tahun ke-92 Hijriyah panglima pejuang Islam Tariq bin Ziyad berhasil mengalahkan Raja Rodrik dalam peperangan sengit dan mengusai selat Giblaltar (Jabal Thariq) Spanyol(Nafis, 2015). Semoga saja pada ramadhan ditahun ke-1441 Hijriyah ini semua umat Islam dan umat beragama lainnya memperoleh kemenangannya lagi, terlebih lagi untuk melawan covid-19 ini.

Melawan wabah ini bukan hal yang mudah. Telah banyak kejadian yang hanya mengedepankan iman namun tak dibarengi dengan akal sehingga akhirnya hanya mendapatkan buntung. Sesuai dengan Al-Qu’ran, iqra (bacalah), kita diminta untuk membaca fenomena yang ada, disini kita diminta untuk membarengi iman dengan akal atau pengetahuan. Pengetahuan atau akal mestinya sejalan dengan keimanan, demikian juga keimanan harus diringi dengan pengetahuan atau akal. Pengetahuan yang lepas dari keimanan maka akan melahirkan kezaliman dan malapetaka yang menjauhkan dari Allah SWT.

Maka dari itu mari mempelajari Al-Qu’ran lebih dalam lagi dan mempelajari ilmu pengetahuan dengan leih baik lagi. Terlebih lagi wabah yang sekarang ada, tetap di rumah perbanyak amal ibadah dengan berpedoman pada Al-Qu’ran. Bersama kita menjadi pahlawan bersama AL-Qu’ran di bulan Ramadhan ini dan semarakkan Ramadhan bersama keluarga dengan memperbanyak tadarus dan
tilawahtil Qu’ran bersama keluarga.(*)

*Penulis: Nur Asiah, Mahasiswi Jurusan PPKn FIS UNM.

Share and Enjoy !

0Shares
0 0 0