Ilustrasi orang berdoa memohon ampunan dan keselamatan kepada Allah SWT. Foto-Ist.

PROFESI-UNM.COM – Ramadhan adalah satu-satunya nama bulan yang diabadikan oleh Allah SWT di dalam Al-Qur’an. Bulan diturunkannya Al-Qur’an sebagai pedoman bagi umat muslim. Bulan Ramadhan merupakan bulan yang penuh berkah dan penuh ampunan. Ramadhan menjadi berkah karena enam keutamaan, yaitu bulan diturunkannya Al-Qur’an, puasa di siang hari, shalat tarawih di malam hari malam lailatul qadr (malam penentuan bagi hidup seseorang), pelaksanaan zakat fitrah, dan hari raya Idul Fitri.

Keistimewaan pada bulan ini membuat umat muslim bergembira dan bersuka cita dalam menyambutnya. Namun, kegembiraan yang dirasakan oleh umat muslim sepertinya juga diiringi dengan kesedihan karena hadirnya wabah yang tidak di inginkan dan akan menemani selama bulan Ramadhan bahkan mungkin beberapa bulan ke depan. Wabah yang tidak di inginkan tersebut adalah Corona Virus Disease (Covid-19).

Virus ini berasal dari Negara Cina Kota Wuhan Provinsi Hubei yang seolah-olah begitu semangat menyebar ke berbagai negara dan tak terkecuali di negara Indonesia. Menyikapi hal ini, pemerintah Indonesia menyatakan pandemi virus tersebut sebagai status bencana nasional dengan mengeluarkan aturan physicaldistancing sebagai upayah pemutusan mata rantai penyebaran Covid-19 karena penyebaran virus ini begitu masif.

Berbagai kegiatan dihentikan, seperti proses kegiatan belajar mengajar secara langsung (tatap muka) di Universitas ataupun di sekolah-sekolah di alihkan ke proses belajar mengajar sistem daring, pengelolaan sejumlah perusahaan dan berbagai instansi di imbau untuk bekerja di rumah, dan berbagai kegiatankegiatan yang mengumpulkan banyak orang di kurangi bahkan dihentikan.

Pemerintah juga mengeluarkan kebijakan Pemberantasan Sosial Berskala Besar (PBB) dengan tetap beraktivitas di rumah (stay at home) dalam upaya penanganan virus ini dikarenakan korban yang terinfeksi semakin bertambah. Dunia seakan diistirahatkan oleh berbagai aktivitas manusia. Kondisi yang terjadi tentu menjadi kabar buruk bagi semua manusia, terlebih umat islam di Indonesia maupun di seluruh dunia yang berharap dapat menjalani ibadah puasa Ramadhan dengan tenang. Situasi Ramadhan di tahun 2020 ini, berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya atau sepanjang perjalanan umat muslim.

Di tengah pandemi saat ini, seluruh masyarakat diimbau untuk lebih banyak berdiam diri di rumah, termasuk beribadah. Berbagai amalan ibadah bersama yang dinanti-nantikan oleh umat muslim, seperti shalat tarawih di masjid beramairamai, tadarus dan berbuka puasa bersama masyarakat sekitar kini hanya boleh dilakukan bersama anggota keluarga inti di rumah masing-masing. Kegiatan–kegiatan keagamaan yang dilakukan di masjid maupun di berbagai tempat tidak semeriah dan semarak biasanya.

Berkaca dari sejarah, banyak sekali peristiwa dalam peradaban umat muslim yang terjadi pada bulan Ramadhan, seperti perang badar, pertempuran kaum muslim dengan kaum kafir dan peristiwa Fathu Mekkah (pembebasan Kota Mekkah). Perjuangan yang luar biasa untuk memenangkan peperangan walaupun dalam keadaan berpuasa. Ruang yang terbatas karena pandemi Covid-19 tidak menjadi alasan untuk bermalas-malasan. Berdiam diri di rumah masing-masing
memiliki banyak hikmah dan manfaat yang dapat di peroleh.

Banyak hal yang dapat dilakukan dalam mengisi waktu luang di rumah masing-masing seperti memperbanyak membaca buku, menulis, mengikuti kegiatan keagamaan secara daring dan sebagainya. Hal yang paling utama dalam bulan Ramadhan, yaitu memperbanyak ibadah kepada Allah SWT. Berbagai ibadah dapat dilakukan untuk memancarkan cahaya-cahaya ilahi di rumah masing-masing. Ibadah-ibadah dan amalan-amalan yang dapat dilakukan di rumah, yaitu:

  1. Banyak berdoa kepada Allah SWT
    Berdoa merupakan hal yang harus dilakukan oleh seluruh manusia
    untuk meminta dan memohon pertolongan serta petunjuk kepada Allah
    SWT. Memohon kepada Allah SWT agar diberi umur panjang, kesehatan, dan sebagainya, tetapi yang paling penting adalah memohon kepada Allah
    agar pandemi Covid-19 segera berakhir.

“Dan jika hambaKu bertanya kepadamu (wahai Muhammad) tentang Aku,
sesungguhnya Aku dekat…(Q.S al-Baqoroh:186)”.

  1. Memperbanyak membaca Al-Qur’an dan berzikir
    Membaca Al-Qur’a di bulan Ramadhan memiliki keutamaan tersendiri dan pahala yang berlipat ganda. Al-Qur’an merupakan petunjuk dan pedoman bagi semua umat muslim. Hidup dengan petunjuk berarti hidup di bawah cahaya terang benderang, ibarat lilin yang menerangi di saat gelap gulita.

“Bulan Ramadhan adalah (bulan) diturunkannya al-Quran sebagai
petunjuk bagi manusia dan sebagai penjelas berupa petunjuk dan
pembeda (al-haq dengan albathil)… (Q.S al-Baqoroh:185)”.

Selain itu, banyak berzikir juga akan mendekatkan diri kepada sang pencipta. Allah SWT memerintahkan seseorang untuk banyak berdzikir menyebut nama Allah, contohnya setelah menyelesaikan suatu ibadah
tertentu seperti shalat.

“Jika kalian telah menyelesaikan sholat, berdzikirlah (menyebut) Allah
dalam keadaan berdiri, duduk, dan berbaring (Q.S anNisaa’:103)”.

  1. Bersedekah
    Bersedekah dapat dilakukan walaupun berada di rumah. Cara yang dapat dilakukan untuk bersedekah, yaitu melalui transfer secara daring atau online.
  2. Mengajarkan anak membaca dan menulis Al-Qur’an
    Keluarga adalah lingkungan pendidikan pertama bagi seorang anak. Melaksanakan ibadah bersama dan mengajarkan anak untuk membaca
    serta menulis Al-Qur’an akan memberikan manfaat. Larangan untuk
  3. Menjalin dan menjaga silaturahmi
    Menjalin dan menjaga silaturahmi merupakan salah satu hal yang dapat memperpanjang umur dan melapangkan rezeki seseorang. Imbauan untuk tetap di rumah saja tidak menjadi alasan terputusnya jalinan
    silaturahmi karena silaturahmi dapat dilakukan melalui media sosial ataupun telepon.
  4. Berdoa bersama pada malam lailatul qadar
    Malam lailatul qadar adalah malam yang lebih baik dari seribu malam dan hanya ada pada bulan Ramadhan. Pada malam tersebut, ibadah dan doa dapat dilakukan dengan anggota keluarga.

“Di dalamnya terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan.
Barangsiapa yang terhalangi darinya, maka sungguh telah terhalangi
kebaikan seluruhnya (H.R Ibnu Majah, Ahmad, dishahihkan Syaikh alAlbany)”.

  1. Itikaf bersama
    Itikaf merupakan ibadah berdiam diri yang dilakukan dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada sang pencipta. Biasanya itikaf dilakukan di masjid pada 10 malam terakhir bulan Ramadhan. Walaupun ibadah ini
    tidak dapat dilakukan di masjid, tetapi tetap dapat dilakukan di rumah masing-masing bersama anggota keluarga.

Pada tahun-tahun sebelumnya, kesibukan dan rutinitas yang dilakukan di luar rumah sering kali banyak menghabiskan waktu sehingga tak jarang umat muslim melupakan atau meninggalkan ibadah-ibadah dan amalan-amalan baik di bulan Ramadhan padahal sangat disayangkan untuk melewatkan momentum yang hanya terjadi setahun sekali ini. Pandemi Covid-19 banyak memberikan pelajaran bagi semua umat manusia. Penyebaran virus ini, tidak untuk di jadikan momentum kesedihan tetapi kita harus mengambil hikmah di balik peristiwa yang terjadi.

Hikmah di balik dari pandemi virus ini, di antaranya:

  1. Menjaga kualitas ibadah puasa.
    Umat muslim saat melakukan aktivitas di luar rumah biasanya membuat kualitas ibadah puasanya berkurang karena jika bertemu dengan orang lain maka kegiatan yang dilakukan adalah membicarakan keburukan
    orang lain juga. Hal-hal inilah yang sering kali membuat kualitas ibadah puasa berkurang. Abul ‘Aliyah –seorang tabi’i- menyatakan: Seorang yang berpuasa berada dalam keadaan beribadah selama ia tidak berghibah (menggunjing orang lain). (riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam Mushonnaf no 8982).
  2. Menjaga ucapan
    Saat berkumpul bersama dengan teman-teman, perkataan buruk sering terlontar bahkan kalimat-kalimat yang tidak pantas. Berdiam diri di rumah akan menjaga ucapan dari perkataan-perkataan buruk.

Puasa adalah tameng, maka janganlah berbuat rofats (ucapan atau
perbuatan kotor), dan jangan berbuat kebodohan (H.R al-Bukhari no. 1761I).

  1. Menjaga pandangan
    Aktivitas di luar rumah membuat umat muslim dapat berjumpa dengan siapa saja, tidak terkecuali dengan lawan jenisnya. Batasan untuk tetap di rumah saja akan menghindarkan diri dari tatapan yang mengundang hawa nafsu.
  2. Berkumpul bersama keluarga
    Biasanya, banyak anggota keluarga yang tidak melakukan puasa di bulan Ramadhan bersama anggota keluarga lainnya karena berbagai alasan. Di balik pandemi Covid-19, semua anggota keluarga justru bisa
    berkumpul dalam satu rumah. Kegiatan bersama dilakukan mulai dari sahur hingga berbuka puasa dengan anggota keluarga.
  3. Menumbuhkan rasa cinta antar anggota keluarga
    Ruang gerak seluruh umat muslin membuat seluruh anggota keluarga untuk tetap berada di rumah. Keadaan ini menjadikan rumah sebagai tempat untuk saling mendekatkan diri satu sama lain dan saling
    bercengkerama bersama.
  4. Lebih memerhatikan dan memenuhi kebutuhan makanan dan gizi.
    Salah satu faktor munculnya COVID-19 berasal dari makanan. Kondisi saat ini memberikan pelajaran untuk lebih memerhatikan dalam memilih makanan dan kandungan gizi yang terdapat pada makanan yang akan dikonsumsi untuk menjaga imun tubuh agar tetap sehat. Makanan yang dikonsumsi harus benar-benar bersih dan tidak terkontaminasi dengan kuman ataupun virus. Menyiapkan menu sahur dan berbuka puasa dapat pula dilakukan secara bersama-sama anggota keluarga.

Semua ini adalah hikmah di balik peristiwa pandemi Covid-19 yang menjadi masalah di berbagai negara. Selama ini banyak umat muslim yang melaksanakanibadah dan amalan-amalan di bulan Ramadhan secara sendiri-sendiri. Banyak yang terbiasa melaksanakan shalat tarawih di tempat lain dan berbuka puasa pun masing-masing di tempat yang berbeda. Saat ini, kita mengerjakan ibadah-ibadah dan amalan-amalan di rumah bersama anggota keluarga masing-masing.

Kehangatan bersama keluarga kian semakin terasa. Kegembiraan dan semangat di bulan Ramadhan harus tetap di pertahankan. Tidak ada hal yang berkurang di dalam pelaksanaan ibadah di rumah. Ibadah-ibadah dan amalan-amalan di bulan Ramadhan tetap dilaksanakan seperti biasanya hanya di tempat yang berbeda.(*)

*Penulis: Andi Adhe Amalya, Mahasiswa Jurusan Ilmu Administrasi Angkatan 2018.

Share and Enjoy !

0Shares
0 0