Oktofianus Luli Boli, mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UNM. (Foto: Ist)

Ayahanda tercinta, Prof. Dr. Husain Syam.

Kita sama-sama merasakan kekacauan yang disebabkan oleh Covid-19 di rumah kita, kampus Universitas Negeri Makassar. Saya anakmu, memberanikan diri untuk menuliskan surat ini. Ampunilah kata-kata anakmu yang dipenuhi dengan kedunguan ini.

Saya telah mengikuti pemberitaan oleh LPM Profesi UNM yang rilis pada Rabu 15 April 2020, bahwa Ayahanda sukses dalam mencalonkan diri kembali sebagai pimpinan kampus (rumah) kita tercinta ini. Saya yakin kesuksesan itu buah dari rumus AxBxCxD juga kiat sukses Anda di fajar.co.id. “Sukses itu harus dimulai dari diri sendiri, tidak bisa dibeli, tidak bisa dititipkan sama orang lain…” Saya pun termotivasi untuk menjadi sukses seperti Ayahanda.

Saya tulis surat ini sebagai bentuk rasa bangga seorang anak kepada ayahnya. Saya sungguh-sungguh mengucapkan selamat kepada Anda. Laksana perahu, Ayahandalah yang akan menahkodai dan membawa kita semua sejauh manapun. Ironisnya, Anda terpilih di tengah kekacaun badai Covid-19. Ayahanda tentu dirundung beban yang berat. Seharusnya momen ini kita tengah mengadakan pesta kecil-kecilan di rumah. Saya sebagai anak yang patuh, pasti akan mempersiapkan segala sesuatunya. Mendirikan tenda, menyebar undangan, membuat onde-onde dan menyiapkan tari-tarian etnis kita. Anda tentu merindukannya. Itu adalah tradisi syukuran turun-temurun di rumah kita. Tetapi karena keadaan, saya tidak bisa menunjukan kebaktian seorang anak pada ayahnya. Padahal, saya ingin menjadi sepertimu yang pada tahun 1987 menjadi anak teladan di rumah ini.

Covid-19 membuat sistem di rumah kita sudah sebagian penuh berbasis online. Anakmu sekarang asyik mengikuti perkuliahan lewat kabel-kabel telepon. Akan tetapi saya lebih sering absen dalam perkuliahan itu karena untuk sekadar mengucap salam di grub WhatsApp mata kuliah, kuota internet saya kadang tidak mencukupi. Demi mencari pembenaran atas tindakan saya tersebut, saya jungkir balik mencari cara agar setidaknya saya berguna bagi masyarakat di kota ini dan untuk rumah kita tentunya. Saya selalu memikirkan salah satu tugas wajib yang Anda berikan─Pengabdiaan pada masyarakat. Toh, di tengah segala yang serba online ini, saya belum mampu mengamalkan tugas mulia tersebut. Saya masih perlu belajar darimu sebagai pemimpin yang melayani rakyatnya.

Keadaan sekarang membuat saya malah banyak menghabiskan waktu untuk membaca dan menonton. Entah mengapa, saya sangat tertarik dengan Sarte, Soekarno, Pram, dan beberapa adegan dalam The Vikings dan Da Vincis Demons. Tokoh-tokoh dalam cerita itu membawa saya membayangkan kondisi rumah kita dan bagaimana penghuni rumah bangkit menghadapi kacau-balau ini. Saya akhirnya memantapkan diri dalam pengkajian pelajara-pelajaran budaya lokalitas. Saya membaca banyak tentang Sulawesi, khususnya Mandar.

Ayahanda, hal menarik yang saya temukan adalah kita memiliki ikatan dengan etnis Mandar. Anda adalah putra Mandar, dan perempuan yang kini mengisi hatiku adalah seorang putri yang menghuni sedepa kekosongan tanah di Mandar. Tetapi Anda jauh lebih mengenal Mandar daripada saya. Agar tidak menimbulkan ketersinggungan pihak lain, saya hanya ingin bercerita sedikit tentang konsep pemimpin Mandar dan ajaran I Manyambungi.

Saya membaca Gunt Sumedi (dalam Liputan6.com, 2016) yang sangat dalam berkisah tentang etnis Mandar. Ayahanda tentu mengenal sosok I Manyambungi, raja pertama Balanipa. Saya sangat mengaguminya. Beliau adalah sosok pemimpin agung yang meredam dan memulihkan kekacauan di tanah Mandar. Ia hadir membawa perubahan pada sistem politik pemerintahan hingga melahirkan acuan dasar hukum ketatanegaraan di kerajaan Balanipa.

Kisah I Manyambungi sangat menggugah hati saya. Ia telah memberikan gambaran seorang pemimpin yang demokratis. Kesetian dan pelayanannya pada rakyat ia tunjukkan selama masa hidupnya. Hingga sebelum mangkat, sang Raja menitipkan pesan, yang oleh Profesor Darmawan Masud (dalam Adi Arwan Alimin, 2015) telah menerjemahkan pesan tersebut dalam bahasa Indonesia,

“…besok atau lusa manakala saya mangkat, walau dia putraku atapun cucuku, janganlah hendaknya diangkat menjadi Raja (pemimpin). Kalau dia tidak mencintai tanah air, dan tidak membela nasib rakyat kecil. Jangan pula mengangkat seorang raja bila ia mempunyai tutur kata, perbuatan dan tindakan kasar. Karena orang seperti itulah yang akan menghancurkan negeri.”

Pesan tersebut sangat kental dengan masa depan yang demokratis dan transparan bagi seorang pemimpin dalam tatanan masyarakat modern. Hanya saja, dunia sekarang berbeda, Ayah. Tatanan sosial begitu berbeda. Kini, pemimpin adalah untuk menjadi penguasa, bukan lagi menjadi pelayan atau abdi masyarakat. Kepercayaan itu kerap harus dibeli karena kita mimiliki sifat penguasa lebih besar daripada sifat pelayan. Kepercayaan tidak lagi muncul dari hati karena kita mimiliki satu tujuan yang sama dan karena kita saling memahami.

Ayahanda tentu sangat memahami kepemimpinan I Manyambungi. Bahkan saya memberanikan diri untuk mencocokkan antara Ayahanda dan I Manyambungi. Saya menemukan kemiripan. Kalian sama-sama pada masa muda memilih merantau ke Makassar dan akhirnya menjadi orang kepercayaan di tanah Makassar. Saya kemudian membaca, Ayahanda adalah Ketua Umum Kerukunan Keluarga Mandar Sulawesi Barat (KKMSB) Sul-Sel dan telah menorehkan berbagai prestasi di tanah ini. Hal ini menambah keyakinan saya akan spirit I Manyambungi dalam dirimu, bahwa Ia benar-benar mewariskan konsepsi kepemimpinan dari generasi ke generasi.

Ayahanda, Anda adalah kepala rumah tangga di rumah ini. Seorang pemimpin. Meskipun sejak 2016 Anda seakan membuat kita tidak lagi saling memahami. Saya kerap menemukan kepercayaan itu tidak pernah muncul lagi dari dalam hati saya. Anda tidak mungkin membeli kepercayaan itu dengan janji. ya, janji subsidi kuota 30 GB per bulan, infrastuktur, dan janji masa depan untuk rumah kita yang tetap jaya dalam tantangan.

Badai ini begitu keras menghajar saya, Ayah. Saya sangat ketakutan akan itu. Saya mengharapkan Ayahanda hadir sebagai sosok pemimpin yang mampu menghalau rasa takut saya. Badai ini membuat kita semua terisolasi dan menjadi penyendiri. Tetapi apakah kemuliaann jiwa juga harus terisolasi? Ayahanda, jangan lockdown spirit I Manyambungi dalam dirimu.

Ayahanda, mengakhiri surat ini, saya mengutip sebuah pesan dari raja ke-11 Balanipa, Tomatindi Dilangganna, keturunan ke-4 I Manyambungi. “…Rajalah yang akan menyayangi negeri dan rakyat, dan raja pula bagaikan pohon kayu tempat rakyat berlindung” (Idham Khalid Bodi, 2007).

Hormat saya, anakmu yang payah. (*)

*Penulis adalah Oktofianus Luli Boli, mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Makassar angkatan 2015.

Share and Enjoy !

0Shares
0 0 0