PROFESI-UNM.COM

Salam Pergerakan

Hidup Mahasiswa

Hidup Perempuan berlawan

Hidup Rakyat Indonesia !!!

Kalimat sakral nan sakti yang mampu menggelorakan semangat perjuangan parlemen jalanan. Tetapi kalau terlalu banyak diucapkan dalam orasi tentu akan mengurangi keelokanyan.

Lembaga kemahasiswaan sekaliber Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) tentunya menjadi pelakon utama dalam hal gerakan. Namun yang perlu dipahami adalah sudahkah BEM yang milenial menghadirkan sesuatu hal yang mampu memikat mahasiswa milenial?

Lantas bagaiamana posisi Badan Eksekutif Mahasiswa dalam pusaran kaum mahasiswa milenial. Masihkah terlihat seksi dan menggoda untuk menjadi tools tempatnya mahasiswa dalam merumuskan formulasi untuk sampai pada cita-cita masa depan bangsa Indonesia?

Pada dasarnya mahasiswa mana sih yang tidak tertarik untuk nge BEM.  Anak-anak BEM kan Kharismatik, ratororikaris, pokoknya digandrungi oleh banyak orang karena memperjuangkan hak rakyat, menegangkan keadilan sampai kepada menuntun ke hal-hal yang baik. Tentu BEM akan selalu pada posisi yang mengairakan untuk dikangkangi oleh mahasiswa.

Bagaiamana kondisi BEM sekarang ini ? Masih diminati dan masih menjadi panutan dalam berlembaga ?. Mungkin jawabannya akan beragam. Kalau pungsionaris lembaga garis keras,  tentu akan selalu terdepan dalam menjawab iya. Namun rasanya belum cukup menjadi basis argumentasi yang kuat dalam menjawab pertanyaan diatas.

Kegandrungan mahasiswa saat ini begitu kompleks,  kampus menjadi sesak sebab dipenuhi oleh mahasiswa yang begitu beragam dalam  banyak hal.

Kemudian apa langkah taktis yang dilakukan untuk bisa mengakomodir keberagaman tersebut untuk menjadi energi yang hebat? Pun tentunya pendekatan yang digunakan harus variatif.

Kecenderungan mahasiswa milenial (Universitas Negeri Makassar) saat ini berada pada titik yang sedikit  memprihatinkan.  Kecakapan dalam berlembaga sedang terkikis, budaya literasi dan diskusi di sudut-sudut kampus mulai longgar.  Mereka lebih banyak menguras waktunya hangout di cafe, Jalan di mall atau menghabiskan waktu diatas kasur dan berselancar dengan gawainya. Kondisi ini tentu menjadi PR tersendiri BEM untuk menghadiri sumber daya manusia yang siap mengisi post  struktural ataupun kultural.

Hasil diskursus beberapa kawan dibale-bale, mencuat sebuah kesimpulan fiktif.

(1) Ketokohan BEM saat ini kurang familiar dikalangan mahasiswa, misalnya seberapa banyak mahasiswa yang mengenali siapa Presiden BEM nya. Asumsi yang muncul  dipermukaan bahwa hanya pengurus lembagalah yang tahu siapa dalangnya.Variabel ini dianggap penting untuk memotivasi mahasiswa untuk nge BEM dengan mengenali siapa sih orang-orang yang ada didalam perangkat BEM.

(2) program yang hadirkan kurang milenial sehingga kurang menarik simpati mahasiswa.  sebagian mahasiswa menilai tawaran program yang tawarkan BEM terkesan kaku dan monoton.  Misal Kenapa BEM tidak menghadirkan Kegiatan semacam festival musik,  festival teater, panggung talenta atau mimbar bebas yang dikemas dengan nuansa gerakan atau pendidikan massa/karakter.  Ataupun menghadirkan program berbasis hasil riset dikalangan mahasiswa. Atau kenapa pengurus BEM tdk meriset kos-kosan yang ada didekat kampus yang bisa menjadi ladang informasi kosan rekomendasi untuk mahasiswa perantau.

(3) Pendidikan massa yang belum maksimal. Misal ketika ada hasil pengkajian isu yang membutuhkan tindak lanjut, sebagian besar hanya pungsionaris lembaga yang terdidik,  masyarakat biasa hanya sebagian kecil yang paham. Diperlukan sebuah formulasi baru untuk keterjangkauan yang lebih luas,  seperti menggunakan Short video,  membuka q&a disosial media sebagai konten pendidikan massa.

Pada dasarnya BEM pun harus beradaptasi dengan zaman, sudah tidak tepat lagi menggunakan peta yang lama untuk medan baru.

*Penulis adalah Enaldi, Mahasiswa Ilmu Administrasi Bisnis Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Makassar

Share and Enjoy !

0Shares
0 0 0