Ketiga teroris yang menyerang Hotel Mumbai. (Int - bookandfilmglobe.com)

PROFESI-UNM.COM – Diangkat dari Kejadian serangan teroris di Mumbai, India tahun 2008, film Hotel Mumbai sukses membuat penonton terkagum dengan plotnya yang memukau, mampu menghadirkan berbagai emosi bercampur ketegangan di setiap durasi hingga akhir film.

Terinspirasi dari kisah nyata serangan teroris Taj Hotel di Mumbai dan film dokumenter Surviving Mumbay, sutradara Anthony Maras berhasil menciptakan kisah dramatis dari berbagai prespfektif diantara tegangnya alur yang akan membuat penonton lupa bernafas. Namun, kisah ini tidak lepas dari sudut pandang bagaimana perjuangan dan dedikasi dari pegawai hotel untuk menyelematkan para tamu.

Mengangkat kisah tentang staf hotel yang rela memperteruhkan hidupnya demi menjaga semua tamu tetap aman, tentang keluarga yang berusaha saling melindungi agar tetap hidup dan serangan teroris yang menyebabakan kekacauan dan hilangya banyak nyawa. Dalam kejadian serangan 11 tahun silam, sedikitnya sekitar 170 korban meninggal pada kejadian tersebut.

Cerita dimulai ketika empat orang teroris remaja india berlatar belakang islam muncul di hotel dan menembaki setiap orang yang ditemuinya dengan biadab. Adegan penembakan manuasia yang membabi buta akan memaksa penonton bergidik ngeri. Letupan senapan dan darah menjadi bumbu utama dalam film yang terkesan thriller ini. Adegan kucing-kucingan antara teroris dengan tamu dan staf hotel menjadi kunci alurnya. Pertanyaannya hingga akhir adalah, siapa yang selamat, siapa yang tidak?

Penggambaran berbagai emosi dalam film ini tentu saja tidak lepas dari kualitas para pemain yang diperankan oleh aktornya. Ketika letupan senapan mulai berdebum di sudut-sudut bangunan Hotel Mumbai, beberapa karyawan hotel memilih melarikan diri lewat pintu belakang. Staf hotel, Arjun (dev patel) dan kepala koki, Hemant Oberoi (Anupam Kher) memilih tinggal dan mencoba menyelamatkan tamu yang terjebak. “tamu adalah tuan kami” begitu Arjun mebuktikan ketulusannaya.

Kisah David (Armie Hammer) dan Zahra (Nazain Boniadi) yang mencoba menyelamatkan anaknya, cameron, yang terjebak bersama bibinya di kamar juga mendramastis keadaan hingga AKhir.

Terlepas dari luar biasanya alur yang tercipta, pesan yang tersampaikan melalui film ini sangat sarat tentang pentingnya saling menolong dan mengesampingkan ego tanpa memandang ras dan warna, bahkan dalam hal mengorbankan nyawa sekalipun. Tentu saja, sedikit banyak film ini barangkali akan menuai kontorversi di negara mayoritas muslim ini, sebab mengangkat islam sebagai tokoh utama kerusuhan dan pertumpahan darah.

Aksi ekstrim itu jelas dilakukan atas nama islam, sebab para pelaku berkali-kali melafazkan nama Allah saat melancarkan aksi. Selain itu, film ini sebelumnya bayak menuai kritik sebab kekerasan dalam film ini dianggap terlalu realistis dengan tragedi nyata 2008.

Seringnya teroris dan pelaku bom bunuh diri selalu identik dengan islam. Barangkali pula kita diingatkan untuk tak menuding agama tertentu karena sejatinya, teroris tak punya agama. Dengan berbagai perspektif berbeda-beda tentang teroris, john Coller dan Anthony Maras justru sukses menciptakan alur film dengan atribut islam tanpa menekankan islam sebagai pelaku kejahatan.

Sisi kelam karakter Film Hotel Mumbai bukan terjadi pada staf dan tamu hotel saja, namun Anthony Maras di detik-detik terkahir film kembali menyentuh penonton dengan mengangkat sisi pribadi teroris. Disini, ia justru menggambarkan mereka sebagai remaja lugu yang terjerat oleh keadaan dan doktrin paham radikal, dimanfaatkan dengan iming-iming uang dan surga atas nama jihad.

Hotel Mumbai memiliki plot yang tak jauh beda dengan film- film lainnya, dengan alur tebak-menebak hingga ending, film ini juga memiliki banyak pesan moral, selain menambah wawasan tentang salah satu peristiwa india yang pernah terjadi. Film ini akan mengajarkan kita bagaimana menyimpan harapan bahkan disaat-saat harapan itu terasa mustahil.

Penulis : Nurul istiqamah

Share and Enjoy !

0Shares
0 0 0