Niko Demus, Mahasiswa PLB FIP UNM. (Foto: Ist)

PROFESI-UNM.COM – Suasana haru mewarnai sore itu, Kamis (4/4), di depan ruang jurusan Pendidikan Luar Biasa (PLB) FIP UNM puluhan mahasiswa dari jurusan tersebut bergantian memberikan ucapan selamat kepada Niko Demus Palembang, ia baru saja menyelesaikan ujian proposalnya. Niko sapaan akrabnya merupakan penyandang disabilitas, ia kehilangan penglihatan sejak lahir, meski dengan keterbatasan itu semangat juangnya tak pernah padam. “Selamat ya Niko,” Ucap salah satu temannya.

Seperti mahasiswa yang ujian proposal pada umumnya, dengan busana hitam putih, ia tampak riang sore itu “Saya Niko, saya tunanetra” katanya, sambil menjulurkan tangan kanannya kepada salah satu awak Profesi hendak memperkenalkan diri.

Sebagai penyandang disabilitas Niko tak pernah merasa rendah diri, berbagai prestasi pernah ia toreh ia juga memiliki nilai akademik yang bagus. Hingga kini ia telah menorehkan sedikitnya lima medali yang ia peroleh dari berbagai olimpiade tingkat provinsi. “Saya beberapa kali mewakili Makassar dalam ajang lomba lari tingkat provinsi (Peparprov),” akunya.

Seperti sebelumnya, Niko terpaksa harus memotong omongannya tatkala beberapa temannya kembali menyambanginya untuk megucapkan selamat, yang kemudian disambut hangat olehnya. Ia sendiri mengaku selama ini memang memiliki hubungan yang sangat baik dengan teman-teman sejurusannya. “Sampai saat ini saya tidak menemukan kendala yang berarti selama kuliah. Saya memiliki teman yang baik dan selalu membantu dan memotivasi saya dalam berbagai hal,” katanya setelah menyambut sapaan dari beberapa temannya tadi.

Sambil menunduk, Niko berusaha mengingat peristiwa 10 tahun silam, Ibunya berkata emoh menyekolahkannya. Alasannya ia memiliki keterbatasan yang menurut ibunya Niko tidak akan mampu sekolah seperti anak-anak pada umumnya. Beruntung saat itu ia memiliki guru Sekolah Dasar (SD) yang hampir setiap hari datang memahamkan orang tuanya begitu pentingnya pendidikan bagi kaum disabilitas. Saat itu ia sekolah di salah satu SD luar biasa di kabupaten Toraja, ia merupakan warga di kota ikon wisata dunia tersebut, sebelum akhirnya ia pindah ke Makassar dan tinggal di salah satu yayasan disabilitas.

“Orang tua tidak mengisinkan saya sekolah, mereka menyarankan saya untuk tinggal dirumah saja karena keterbatasan ini,” kenangnya.

Kelas enam SD, ia pindah sekolah ke Kota Makassar. Di kota ini ia bertemu dengan kaum disabilitas lainnya, saling berbagi, bersinergi dan saling menginspirasi. Sejak berada di yayasan tersebut ia juga aktif di salah satu organisasi nasional yang menghimpun kaum tunanetra (Pertuni). Di organisasi tersebut ia aktif mengadvokasi kasus kaum disabilitas yang jadi korban stigmatisasi atau diskriminasi. Ia menyadari memang harus ada orang yang benar-benar paham kebutuhan penyandang disabilitas.

Hingga saat ini, ia telah menjabat sebagai Ketua Biro Pendidikan di organisasi tersebut. Berbagai kasus telah ia tuntaskan, yang paling melekat dibenaknya ialah saat dirinya dan teman-temannya menentang keputusan Forum Rektor se-Indonesia yang pada saat itu digelar di Unhas mengeluarkan kebijakan yang mendiskriminasi kaum disabilitas, bahwa peyandang disabilitas tidak diterima di kampus negeri. Menurut Niko tanpa diberi batasan, kaum difabel sadar akan keterbatasan. Mereka tidak mungkin memilih jurusan yang mereka tak bisa menjalani tanpa fisik tubuh.
“Mereka melarang kami kuliah di kampus negeri, padahal kami juga punya hak mengenyam pendidikan. Tanpa diberi batasan kami sadar akan keterbatasan,” ucapnya dengan nada lirih.

Selain itu, Mahasiswa angkatan 2015 ini juga menyoroti faslitas kampus UNM yang tidak ramah terhadap penyandang disabiltas. Menurutnya kampus mestinya ramah terhadap penyandang disabilitas, dari fasiltas jalanan hingga media pembelajaran. “UNM tidak ramah terhadap kami (Disabiltas),” ketusnya.

Selama ini Niko memang dikenal kritis, beberapa kali ia pernah melontarkan pernyataan kritis terhadap kampusnya melalui media pers mahasiswa. Selain itu bagi teman-temannya ia juga dikenal sebagai pribadi yang mandiri, dalam mengerjakan tugas kuliah maupun ketika ujian ia tidak menggunakan volunteer seperti tunanetra pada umumnya, ia memiliki program khusus didalam laptonya yang ia pelajari selama tiga bulan. Program tersebut membantunya menuntaskan tugas akademiknya tanpa bergantung pada orang lain.

Masanya dikampus tidak lama lagi berakhir, ia sangat berterimakasih terhadap orang-orang yang telah menginsprasi dan memotivasinya. Dirinya juga menaruh pesan kepada peyandang disabilitas lainnya agar tetap bersemangat menjalani hidup ditengah keterbatasan, selain itu ia juga berpesan kepada mereka yang dilahirkan dengan kondisi sempurna secara fisik agar tetap menjaga dan merawat organ yang telah Tuhan anugrahkan dan juga senantiasa peduli pada sesama manusia, khususnya pada mereka yang lahir dalam kondisi disabilitas.

*Wahyu Riansyah

Share and Enjoy !

0Shares
0 0