Buku konsipirasi alam semesta yang ditulis oleh Fiersa Besari. (Foto: Int)

Oleh: M. Sauki Maulana

Judul : Konspirasi Alam Semesta
Nama Pengarang: Fiersa Besari
Penerbit : Mediakita
Kota Terbit : Jakarta
Cetakan : Pertama, 2017
Panjang : 19 cm
Lebar : 13 cm
Tebal Buku : 238 Halaman

PROFESI-UNM.COM – Fiersa Besari nampaknya pintar mengaduk-aduk perasaan para pembaca novelnya, novel yang kaya akan diksi, alur plot cerita yang penuh dengan teka-teki. Kemudian ditambah dengan sajak-sajak berbau romantis, semakin membuat para pembaca ikut terhanyut dalam kisah Juang Astarajingga dan Ana Tidae di dalam novel Konspirasi Alam Semesta ini

Yah, mereka merupakan tokoh utama dalam novel ini, Fiersa menggambarkan sosok Juang sebagai laki-laki dengan tubuh kurus, rambut ikal seleher, brewok tipis, dan alis tebal yang menaungi sepasang mata tajamnya. Walaupun sering dicap sebagai lelaki yang kumal, karena hanya selalu memakai jaket denim belel. dan sepatu kets yang lusuh. Namun juang merupakan sosok yang mungkin bisa dibilang rupawan.

Juang juga merupakan pribadi yang lebih suka melebur dengan buku-buku sastra ketimbang dunia luar. Baginya membaca buku merupakan cara memisahkan dirinya dengan dunia nyata.

Kisah Ana dan Juang bermula ketika Juang menyusuri lorong-lorong kota Bandung untuk mencari empat buku sastra yang ia incar. Juang yang tidak percaya dengan cinta pada pandangan pertama, dipaksa menelan ludahnya sendiri. Ana yang pada saat itu ditabraknya, sesaat membuat jagatnya berhenti.

Hatinya dicuri. Keduanya saling bertatapan untuk pertama kali saat buku-buku gadis itu dipungutnya, Juang tak tahu kenapa hatinya begitu cepat dicuri oleh gadis yang baru dijumpainya. Entah karena rambut panjang berombak sang pemilik buku yang berpendar, disapu kuning lembayung yang mengintip dari sela bangunan, entah karena struktur wajahnya yang mengingatkan lelaki itu pada ughyur nan jauh di sana, atau karena mata emasnya yang mampu menyesatkan seseorang yang memandangnya, yang jelas hatinya raib digondolnya.

 

Gadis manis itupun kemudian pergi disaat Juang masih terhipnotis dengan parasnya. Tak disangka, pertemuan keduanya kali ini berkat profesi Juang sebagai wartawan lepas. Ia yang ditugaskan untuk mengangkat berita mengenai Shinta Aksara.

Shinta Aksara sendiri merupakan sinden yang berhasil mengharumkan nama bangsa dikancah mancanegara namun terlupakan di negeri sendiri. Alam memang sepertinya punya cara sendiri untuk menyatukan mereka kembali. Juang yang memiliki ingatan fotografis, dengan mudah mengingat jelas peristiwa yang dialaminya.

Bahkan, ia masi mengingat letak tahi lalat mungil, yang berada di sudut pelupuk mata sang gadis yang berhasil memberhentikan jagatnya kala itu. Pembicaraan Juang dengan Ana yang awalnya hanya membahas riwayat ibunya terus berlanjut, obrolan mereka mulai merambat ke sana ke mari. Ke perkuliahan Ana, ke aliran musik yang ia sedang gandrungi, ke novel favoritnya, ke film-film noir yang menurutnya romantis, kemana pun dan tentang apapun itu.

Juang tidak pernah menyangka, kalau hari-harinya sebelum bertemu Ana terasa biasa saja. Semua yang dulunyan ia anggap istimewa, seketika menyerah dengan Ana. Betul, Ana memang terlalu istimewa. Juang yang sudah sadar bahwa dirinya sedang jatuh cinta, kemudian tersentak bahwa ia hanya menjadi orang ketiga dalam hubungan Ana dan Deri Ismail.

Namun sebagai lelaki, Juang tentunya harus punya pijakan. Berpijaklah!. Tak memberi kabar selama seminggu, Juang sengaja memberikan kesempatan kepada gadis yang ia sukai tersebut untuk menentukan pilihannya. Tentunya ia tidak mau terjebak pada posisi yang serba salah ini.

Sebenarnya Juang mengetahui bahwa hubungan Ana dengan Deri akhir-akhir ini sedang tidak baik. Deri, lelaki yang menemaninya selama setahun terakhir, tertangkap mata bermesraan dengan Camar yang tidak lain sahabat Ana sendiri. Hingga akhirnya, di tengah hujan Ana menentukan pilihan.

Diketuknya pintu kos Juang dalam kondisi tubuh yang basah. Mengatakan bahwa hujan membawanya ke sana, memilih Juang untuk menjadi semestanya.

Tugas Juang sebagai seorang wartawan membawanya ke tanah Papua. Berat rasanya bagi Ana, melepaskan lelaki yang membuatnya tahan berjam- jam di depan handphone hanya
sekadar mengirim pesan dengan Juang. Namun hati Juang sudah bulat, ia harus ke Papua, ada rekam jejak sejarah yang harus ia eksplore lebih dalam.

Berbulan-bulan Ana tak mendapat kabar dari Juang, keterbatasan sinyal tentuya membuat mereka tak bisa menanyakan kabar, Juang yang ditemani dua sahabatnya itu tak menyangka akan menemukan keluarga baru. Papua dengan segala streotip negatifnya mampu selami dan menepis pandangan setiap orang terhadap tanah timur Indonesia itu.

Lama tak memberikan kabar, Ana mencoba bertanya ke pihak kantornya, namun sama saja. Hingga akhirnya, satu pesan mendarat di handphone Ana, permintaan Juang agar Ana setia menunggu. Dan Juang kembali pada Ana dengan celengan rindu yang tak lagi bercelah. Juang yang telah lama tak kembali ke rumah karena pertengkaran dengan Ayahnya, dikejutkan dengan kabar ibunda tercinta dirawat di rumah sakit.

Hingga sang Ibu pergi dan Juang kehilangan sumber cahaya hidupnya. Memaki diri sendiri yang belum sempat mengabdi. Ana yang paham dengan keadaan Juang, tak tega jika harus mengatakan bahwa ia pun harus melakukan operasi karena tumor yang tumbuh di kepala bagian belakang.

Belum sempat Juang mengetahui keadaan Ana, ia terlebih dulu kecewa pada Ana yang ia temukan berada dalam pelukan Deri yang saat itu, memang masih mengharapkan Ana kembali. Juang melarikan diri ke Nias, lagi-lagi karena tugasnya. Namun kali ini, ia memang ingin melarikan diri dari Ana. Cemburu membuat ego Juang tak terkendali.

Ana sebenarnya masih enggan melakukan operasi, karena ia paham keadaan Ayahnya sebagai seorang pensiunan. Ia hanya menyerahkan hidupnya pada takdir, jika memang tak dapat melanjutkan kehidupan. Satu pesan dari Ayah Ana, membuat Juang bergegas meninggalkan Nias. Kemudian mengutuki diri mengapa egonya begitu tinggi.

Juang pulang, dengan keadaan Ana yang tengah berbaring di rumah sakit. Juang berusaha meyakinkan Ana, bahwa tak ada harga yang pantas untuk sebuah nyawa. Maka berapapun pembiayaan operasinya, itu bukanlah masalah.

Juang meyakinkan Ana bahwa ia cukup kuat untuk berbagi penderitaan. Ana dengan perjuangan dan rasa optiminsya, mampu kembali menjadi gadis periang dan tangguh. Tumor kecilnya telah lenyap. Juang dan Ana menikah.Hidup sederhana di sebuah rumah di perkebunan teh. Berjanji untuk saling menemani hingga hari tua, hingga maut menjemput.

Juang kembali pergi meninggalkan Ana untuk membantu sahabatnya yang terkena letusan Gunung Sinabung. Sekuat apapun Ana memintanya untuk tidak pergi, tak akan mengubah keputusan Juang.

Juang pergi meninggalkan Ana yang ternyata tengah mengandung. Sebisa mungkin Juang membatu korban bencana itu, namun naas Gunung Sinabung belum sepenuhnya stabil. Saat juang mengevakuasi warga yangmasih enggan mengungsi, awan panas itu menyembur kembali.  Membinasakan Juang yang tengah bergerilya mengabdi.

Anak dalam kandungan Ana terlahir, Ilya Astrajingga menjadi pengganti Juang di samping Ana. ILYA, kata terindah dalam kehidupan Juang dan Ana. I Love You, Always. (*)