Proses penggusuran PKL di deoan Kampus UNM sektor Parangtambung. (Foto: Istiqamah)

PROFESI-UNM.COM -Pedagang Kaki Lima (PKL) yang berada di depan area kampus Universitas Negeri Makassar (UNM) sektor Parangtambung, di gusur siang kemarin, Rabu (5/12). Pedagang yang menjadi korban mengaku kecewa dengan penggusuran tersebut.

Mereka menyesalkan tidak ada solusi yang ditawarkan agar mereka bisa melanjutkan usahanya. Ika, salah satu pedagang yang digusur merasa dibohongi. ” Tadi pas dibongkar katanya akan diberikan tempat, tapi tidak tahu di mana,” tuturnya.

Selain itu, ia juga mengaku tidak mampu jika harus pindah kedalam area kampus. Sewa tempat yang mahal dinilai sangat memberatkan,”Sewanya mahal, sedangkan untung kami dari menjual juga tidak seberapa,” ungkapnya.

Tidak hanya pedagang, beberapa mahasiswa juga mengeluhkan penggusuran tersebut. Nurazizah misalnya, mahasiswi Program Studi Fisika ini mengaku lebih suka belanja di luar dari pada dalam kampus. Menurutnya, keberadaan para PKL itu sangat membantu mahasiswa karena harga yang ditawarkan relatif lebih murah.

Sebagian besar barang dan makanan yang dijual PKL itu juga tidak sama dengan yang dijual di kantin kampus. “Saya lebih suka di luar situ, kalau digusur begini kan kalau ingin ngemil jadi tidak tahu kemana,” keluhnya.

Penggusuran ini dilakukan karena pihak birokrasi UNM menilai keberadaan PKL tersebut mengotori area kampus. Penggusuran ini melibatkan Satuan Pamong Praja Kota Makassar, Polisi bahkan beberapa tentara untuk meredam perlawanan dari para pedagang.


*Reporter: Istiqamah Hamid / Editor: Wahyu Riansyah