Ketua Jurusan Pendidikan Sejarah, Rasyid Ridha menyampaikan kata sambutan saat membuka acara seminar Praktik Lapangan mahasiwa pendidikan sejarah angkatan 2016. (Foto: Wahyu Riansyah)

PROFESI-UNM.COM – Sejarah kerajaan-kerajaan yang ada di jazirah Sulawesi Selatan merupakan salah satu rentetan peristiwa yang membentuk sejarah nasional dan menjadi salah satu alasan atas terbentuknya bangsa ini. sebagai generasi muda tentu memiliki tanggung jawab untuk senantiasa menjaga dan melestarikan peninggalan sejarah tersebut.

Hal itu disampaikan Amirullah, Dosen Pendamping Mata Kuliah Sejarah Lokal, dalam acara Seminar Praktik Lapangan mahasiswa Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial (FIS) Universitas Negeri Makassar (UNM) yang berlangsung di ruang Cinema Mini Lt. 2 Perpustakaan UNM, Kamis (29/11). Agenda ini merupakan tahap akhir dari kegiatan Praktik Lapangan Mata Kuliah Sejarah Lokal yang berlangsung di lima kabupaten yang ada di Sulawesi Selatan beberapa hari yang lalu.

“Kebudayaan lokal mencerminkan nilai luhur bangsa, harus dipelihara untuk memperkuat kepribadian, serta mempertebal rasa harga diri, Kalian jangan hanya sebatas mengunjungi dan menulis laporan tapi juga implementasikan nilai-nilai kearifan lokal yang kalian jumpai selama dilapangan” ujarnya di hadapan peserta seminar.

Dalam kegiatan seminar ini dipersentasikan tujuh laporan penelitian, diantaranya situs Makam Raja Binamo, Makam Lantenriruwa, kawasan Adat Ammatoa, Batu Pake Gojeng, Benteng Balanipa, Museum Lapwuwoi, dan Bola Soba. Muhammad Akbar selaku Ketua Panitia mengatakan kegiatan ini merupakan ajang untuk mempaparkan hasil penelitian kepada Dosen Pendidikan Sejarah dan Mahasiswa Pendidikan Sejarah umumnya.

“Sebagai ajang diskusi, merefleksi kembali apa-apa yang didapat disana, dan untuk memenuhi tugas mata kuliah Sejarah Lokal,” kata pria yang kerap disapa Akbar itu.

Seminar ini dihadiri oleh 95 peserta, terdiri dari mahasiswa dan dosen Jurusan Pendidikan Sejarah. “Berbeda dengan seminar penelitian sejarah maritim yang digelar semester lalu, kali ini seminarnya tertutup,” lanjut Akbar.

Sementara itu salah satu mahasiswa pendidikan sejarah angkatan 2016 sekaligus pemakalah untuk situs Benteng Balanipa, Hermin mengatakan generasi muda merupakan tonggak kemajuan bangsa, ditangan mereka masa depan bangsa berada. Oleh karena itu wawasan kesejarahan mesti dimiliki khususnya sejarah lokal agar mengetahui jati dirinya.

“Soekarno pernah bilang Jasmerah (Jangan sekali-kali Melupakan Sejarah) saya pikir itu sudah menjadi bukti akan pentingnya wawasan sejarah,” kata dia.


*Reporter: Wahyu Riansyah