Dwi Rezky Hardiyanto, Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Negeri Makassar (UNM) periode 2018-2019 (Foto: Ist.)
Dwi Rezky Hardiyanto, Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Negeri Makassar (UNM) periode 2018-2019 (Foto: Ist.)

PROFESI-UNM.COM – Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Terpilih UNM, Dwi Ari Reski kecam aksi pemukulan mahasiswa oleh beberapa oknum dosen. Peristiwa yang terjadi di Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) ini dinilai telah mencederai Hak Asasi Manusia (HAM) sebagai landasan terwujudnya demokrasi dalam Kampus.

“Ini jelas bentuk pelanggaran HAM,” kata Dwi Ari Reski saat dihubungui via Whats App, Kamis (20/9).

Dirinya sangat menyayangkan peristiwa yang terjadi di fakultas pencetak atlit itu. Ia berpandangan kampus tidak akan pernah bisa hidup tanpa mahasiswa, kewajiban yang telah dilunasi mahasiswa mestinya mendapat balasan dengan terpenuhinya hak mereka sebagai pelajar.

“Kewajiban mahasiswa adalah melunaskan biaya kuliah, kewajiban itu mestinya dibalas dengan pengadaan sarana dan prasarana yang layak. Jika itu tidak dipenuhi wajarlah mereka menuntut,” katanya.

Dwi Ari Reski mengatakan, krisis Intelektual telah tergambarkan dari tindakan birokrasi yang tak dialogis dalam menghadapi mahasiswa. Hal tersebut terlihat dari tindakan birokrasi di FIK pada saat mahasiswa sedang melakukan demonstrasi di depan fakultasnya.

“Sangat disayangkan apabila pihak birokrasi menjalankan pola-pola totalitarian dalam menggunakan kekuasaannya. Ya apa bedanya dengan fasisme ala hitler yang terjadi di Jerman,” Tutupnya.


*Reporter: Ulil Afiah Az-zakiyah