Salah satu guru besar UNM yang juga merupakan Pakar Pendidikan, Suparlan Suhartono. (Foto: Dok. Profesi)
Salah satu guru besar UNM yang juga merupakan Pakar Pendidikan, Suparlan Suhartono. (Foto: Dok. Profesi)

PROFESI-UNM.COM – Beberapa guru besar Universitas Negeri Makassar (UNM) tidak hanya minim publikasi internasional. Tetapi juga kerap kali mangkir kala menjalankan tanggung jawab lain, yakni mengajar. Padahal, tunjangan mereka terbilang banyak apalagi bagi yang menyandang gelar profesor.

Menanggapi hal tersebut, Pakar Pendidikan, Suparlan Suhartono menilai tak sewajarnya apabila guru besar mangkir dari tugas mengajarnya. Terlebih, jika memiliki jam kuliah yang sedikit. Pasalnya, ada gelar yang harus dipertanggung jawabkannya.

“Jangan sampai seorang profesor tidak pernah memberikan kuliah, patut diragukan itu karya-karyanya,” tegasnya.

Menurut Suparlan, seorang guru besar patut hadir sebagai teladan bagi sivitas dan masyarakat. Diakui lantaran telah memiliki prestasi dibidang akademik.

“Yah kalau sudah terangkat jadi guru besar itu, sebelum jadi guru besar itu karena prestasinya, antara lain, menulis, buat jurnal dan menulis buku,” jelasnya.

Ia justru menyebutkan jika memang ada indikasi bahwa guru besar tidak melaksanakan tanggungjawabnya dengan baik, maka bisa dipertanyakan gelar profesor yang disandangnya.

“Menjadi profesor itu jelas terbukti akademiknya., profesor itu familiar dengan kelas,” ujarnya.

Tanggapan yang sama juga dilontarkan oleh Kepala Unit Pelaksana Teknik (UPT) Penjamin Mutu UNM, Sapto Haryoko. Ia malah menyebut sikap dosen yang seperti itu kekanak-kanakan lantaran malas menjalankan tugas tersebut.

“Mestinya karakternya itu sudah tidak lagi seperti anak-anak. Yang hanya mencari duit terus yang kalau ditugaskan mengajar di S1 kadang-kadang tidak mau. Nah itu yang mestinya harus dirubah,” sebutnya.

Salah satu mahasiswa Jurusan Administrasi Pendidikan (AP) Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP), Musfirah Mochtar mengaku bahwa selama perkuliahan, profesor yang menjadi pengampu mata kuliah itu kadang tidak hadir.

“Dia sebenarnya mengajar tapi yang kenyataannya tidak mengajar. Ada dosen pengganti yang menggantikan kedudukannya sebagai pengajar,” akunya.

Lanjut, menurutnya, profesor mesti selalu sadar terhadap tanggung jawabnya. Ia pun meminta agar mereka tidak lagi jarang hadir selama perkuliahan. “Karena mau dibilang dia lebih mengetahui ilmu tentang mata kuliah itu sendiri,” pintanya.

Senada dengan Musfirah, Winda juga mengatakan hal yang sama. Ia turut membenarkan jika terkadang guru besar kerap tak hadir menjalankan tugasnya. Kemudian justru digantikan oleh asisten dosen (Asdos).

“Kadang kalau prof tidak bisa, biasanya ada asdos,” ungkap mahasiswa Jurusan Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial (FIS) ini. (*)

[divider][/divider]

*Tulisan ini telah terbit di Tabloid Profesi edisi 224