Masyarakat Kelurahan Kaca, Kecamata Marioriawa saat lomba tarik tambang, Kamis (26/4). Kegiatan tersebut diadakan oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) reguler Universitas Negeri Makassar angkatan XXXVIII untuk melestarikan budaya dan kearifan lokal masyarakat Sulawesi Selatan. (Foto: Ist.)
Masyarakat Kelurahan Kaca, Kecamata Marioriawa saat lomba tarik tambang, Kamis (26/4). Kegiatan tersebut diadakan oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) reguler Universitas Negeri Makassar angkatan XXXVIII untuk melestarikan budaya dan kearifan lokal masyarakat Sulawesi Selatan. (Foto: Ist.)

PROFESI-UNM.COM – Budaya Cule-cule Toriolo atau permainan tradisional menjadi hal yang patut untuk dilestarikan di era digital saat ini. Apalagi, permainan tradisional sangat sarat akan kearifan lokal.

Olehnya itu, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) reguler Universitas Negeri Makassar angkatan XXXVIII dari Kelurahan Kaca, Kecamata Marioriawa menggelar kegiatan “Olahraga Gembira dan Cule-cule Toriolo” di Lapangan setempat, Kamis (26/4).

Sejumlah permainan tradisional dilaksanakan yang diikuti oleh masyarakat sekitar. Diantaranya, Massallo, Majjeka, Tarompa, Perang-perangan bambu, Engrang batok, Lari kelereng, Tarompa dan Karung resing. Pertandingan olahraga gembira seperti tarik tambang, voli dan sepak takraw juga dilaksanakan.

“Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mempererat kekeluargaan, melestarikan budaya dan kearifan lokal kita, serta menumbuhkan rasa kebahagiaan masyarakat,” ucap Lurah Kaca, Sudarmono dalam sambutan pembukaan kegiatan.

Koordinator KKN UNM Kelurahan Kaca, Muhammad Fadlan menjelaskan, kegiatan tersebut merupakan salah satu program kerja yang digagas bersama masyarakat setempat. Turut bekerjasama dalam menyukseskan kegiatan, Karang Taruna Kelurahan Kaca serta pihak Kelurahan Kaca.

“Kegiatan akan kami laksanakan sampai 1 Mei mendatang. Jadi pelaksanaannya akan dilakukan selama sepekan,” ucap mahasiswa Ilmu Administrasi Negara FIS UNM itu.

Ia menjelaskan, permainan tradisional saat ini sudah mulai dilupakan. Apalagi dengan banyaknya permainan digital menggunakan perangkat elektronik membuat Cule-cule Toriolo sudah jarang ditemui.

“Kami mencoba untuk mengajak dan memperkenalkan kembali permainan tradisional masyarakat kita di Sulsel yang sudah bisa dikatakan sulit untuk ditemui, khususnya di kalangan anak-anak saat ini,” tuturnya.

Pada pelaksanaan kegiatan itu, tampak antusias masyarakat dalam mengikuti sejumlah permainan. Termasuk keseruan yang tampak saat para ibu-ibu berlomba tarik tambang. (*)

[divider][/divider]

*Reporter: Resa Saputra