Hamzah, mahasiswa Pendidikan Teknik Elektronika (PTA) Fakultas Teknik (FT) Universitas Negeri Makassar (UNM) saat membuat salah satu robot sepak bola di Bengkel PTA FT UNM. (Foto: Wahyu - Profesi)
Hamzah, mahasiswa Pendidikan Teknik Elektronika (PTA) Fakultas Teknik (FT) Universitas Negeri Makassar (UNM) saat membuat salah satu robot sepak bola di Bengkel PTA FT UNM. (Foto: Wahyu – Profesi)

PROFESI-UNM.COM – Empat mahasiswa Jurusan Pendidikan Teknik Elektronika Fakultas Teknik (FT) Universitas Negeri Makassar (UNM) tengah mengembangkan sebuah robot yang terbilang unik. Pasalnya robot ini dirancang untuk bisa bermain bola.

Robot yang diberi nama “Lontara” adalah buah dari tangan dingin Hamsah, Resa Pamilianto, Rusdi, dan Nurfitriah Ningsih. Lontara akan diikutkan dalam Robot Sepak Bola Indonesia (KRSBI) Humanoid yang akan dilaksanakan di Universitas Lampung pada 26-28 April mendatang.

Apabila pada tahap tersebut, Lontara menang maka ia berhak melaju ke tingkat nasional di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya pada 28 Juni – 1 Juli mendatang.

Nama Lontara ini terinspirasi dari aksara kuno suku Bugis-Makassar yang meleganda. Nama tersebut juga diharapkan dapat membumikan kebudayaan Bugis-Makassar di kancah nasional.

Alasan lainnya ialah agar generasi muda terkhusus mahasiswa UNM tidak lupa akan budaya daerahnya meski sekarang sudah era digital sekalipun.

Berat dari robot tersebut ialah 40 kg, dimana untuk membuat robot ini dibutuhkan tiga perangkat penting yang harus disediakan, yaitu, sismin selenoid dan kamera Sismin merupakan perangkat yang berfungsi mengontrol semua perangkat pada robot, kemudian selenoid yang berfungsi melontarkan bola, dan bagian yang tak kalah penting adalah kamera berfungsi untuk melihat bola dan lawan.

Hamsah, Ketua Tim tersebut menjelaskan robot ini bisa memerlukan dana antara 10 hingga 15 juta. “Perangkat Lontara ini mahal, jadi kami menghabiskan dana sekitar 10-15 juta,” jelasnya.

Ia mengaku sangat membutuhkan dukungan penuh dari kampus. “Kami butuh dukungan dari kampus, terutama dalam dana. Hingga saat ini dananya belum cair, jadi kami masi menggunakan dana pribadi,” akunya.

Sementara itu untuk bagian luar robot, bodinya menggunakan plat besi kemudian ada roda dan penendang. Roda dan penendang ini digerakkan oleh motor yang terdiri dari sumber listrik entah itu dari baterai ataupun aki.

Pengerjaan robot ini terbilang cepat, Hamsah menuturkan hanya membutuhkan waktu sekitar dua pekan untuk merakit Lontara. “Waktu pengerjaan sekitar dua minggu, jika seluruh onderdil yang dibutuhkan sudah siap,” tuturnya.

Ketika ditanya mengenai kendala dalam pengerjaan Lontara ini, mahasiswa asal Wajo ini mengaku menemui kesulitan dibagian program, karena program harus benar-benar sesuai dengan pergerkan yang diinginkan yaitu bermain bola.

Lanjut pria kelahiran 1997, ada tiga robot yang akan dibuat. Dua berperan sebagai pemain dan satu kiper. Pengerjaan robot kiper ini diakuinya juga agak sulit dalam perakitannya dikarenakan ada beberapa mekanik khusus yang berbeda dari dua robot lainnya.

“Sebenarnya yang paling sulit itu program karena harus di program untuk bisa bermain bola ini merupakan program yang tidak mudah dibuat. Kemudian penjaga gawang ada beberapa mekaniknya yang agak susah,” jelasnya.

Terlepas dari itu, Hamzah berharap robot hasil karyanya bersama tim bisa lolos hingga tingkat nasional. Tak luput ia juga memohon bantuan dan doa dari seluruh sivitas akademik kampus peraih Satker terbaik di Indonesia tahun 2018.

“Setelah kami mengerjakan robot ini sepenuh hati, saya dan tim berharap agar Lontara bisa lolos hingga tingkat nasional, dan kami memohon doa dan batuan kepada pihak birokrasi dan stake holder lainnya di kampus orange ini,” harapnya. (*)

[divider][/divider]

*Tulisan ini telah terbit di Tabloid Profesi edisi 223