Mahasiswa UNM saat menggunakan perahu dengan mesin berbahan bakar gas LPG 3 Kg. (Foto: Ist.)
Mahasiswa UNM saat menggunakan perahu katinting dengan mesin berbahan bakar gas LPG 3 Kg. (Foto: Ist.)

PROFESI-UNM.COM – Terobosan Ahsan dan Sunardi dosen Jurusan Pendidikan Teknik Otomotif, Fakultas Teknik (FT), Universitas Negeri Makassar (UNM) dalam inovasi teknologi ramah lingkungan melalui bahan bakar gas berhasil menghemat konsumsi energi Bahan Bakar Minyak (BBM), langkah ini juga mampu mereduksi kadar emisi CO2 pada kendaraan.

Selain Ahsan dan Sunardi, penelitian ini turut melibatkan mahasiswa dan teknisi Pendidikan Teknik Otomotif FT UNM serta masyarakat dalam pengembangannya.

Ahsan mengatakan, konversi energi ini dinamakan konverter KIT yang bertujuan agar masyarakat mulai menggunakan bahan bakar alternatif selain dari bahan bakar minyak.

“Sebenarnya kalau menggunakan gas itu lebih hemat, karena 3 kg tabung gas itu setara dengan enam liter bensin sehingga ada keuntungan dari segi finansial juga,” katanya.

Lebih lanjut dijelaskannya, proses kerja dari inovasi ini sebenarnya tidak jauh berbeda ketika menggunakan bahan bakar minyak, akan tapi dengan melakukan modifikasi pada bagian karburator sehingga mesin dapat memanfaatkan dua jenis bahan bakar sebagai sumber energinya.

“Di karburatornya ada yang kita modifikasi sehingga bisa menggunakan bahan bakar gas. Tapi sebenarnya dua-duanya tetap bisa dipakai. Hal itu karenakan kita sudah menyediakan pengaturan yang disebut hybrid,” tegasnya.

Selain ramah lingkungan karena mampu mereduksi kadar emisi CO2, teknologi tepat guna ini juga memiliki kelebihan hemat dari segi finansial.

Selama tidak ada kesalahan dalam proses pembuatannya, maka konverter KIT ini akan bekerja dengan baik pada mesin yang menggunakan teknologi karburator.

“Sebenarnya kalau menggunakan gas itu lebih hemat, karena 3 kg tabung gas itu setara dengan enam liter bensin. Sehingga ada keuntungan dari segi finansial juga,” ujarnya.

Ia menuturkan, pengaplikasian teknologi tepat guna ini baru diuji cobakan pada mesin yang masih menggunakan karburator.

“Mesin yang sudah memakai sistem injeksi itu belum diuji cobakan karena agak rumit memang untuk memodifikasi mesin injeksi ketimbang karburator,” tuturnya.

Untuk tahap pengembangan selanjutnya Ahsan dan Sunardi akan melakukan penelitian serta uji coba pada sistem injeksi. “Kita akan ujikan pada kendaraan yang menggunakan sistem injektor dan tentunya itu membutuhkan penelitian yang lebih mendalam lagi,” tandasnya.

Sebenarnya bukan cuma bahan bakar gas saja yang dikembangkan, kedua dosen Pendidikan Teknik Otomotif ini juga berupaya mengembangkan limbah masyarakat menjadi sesuatu yang berguna. Misalnya saja Solar sel dari limbah tongkol jagung.

Ahsan berharap agar kedepannya masyarakat mulai menggunakan bahan bakar ramah lingkungan selain bahan bakar minyak. karena selain harganya yang mahal emisinya juga tinggi.

“Insya Allah nantinya saya juga akan membuat biogas di Jeneponto, jadi limbah ternak itu kita akan ubah menjadi biogas,” harapnya. (*)

[divider][/divider]

*Tulisan ini telah terbit di Tabloid Profesi Edisi 223