Jihan Jauhar Nafisah, Mahasiswa Program PERMATA asal Universitas Pendidikan Indonesia. (Foto:Ist)
Jihan Jauhar Nafisah, Mahasiswa Program PERMATA asal Universitas Pendidikan Indonesia. (Foto:Ist)

PROFESI-UNM.COM – Sebanyak tiga puluh mahasiswa dari beberapa universitas di Indonesia secara resmi mengikuti Program Pertukaran Mahasiswa Tanah Air (Permata) di Universitas Negeri Makassar (UNM). Pertukaran mahasiswa tersebut dimulai sejak 26 Februari lalu.

Salah satu mahasiswa asal Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Jihan Jauhar Nafisah menyampaikan kesan pertamanya saat menjejaki Kampus Orange. Menurutnya, banyak hal yang dapat dikagumi dari UNM, salah satunya dari aspek sosial budaya.

Ia mengatakan, masyarakat Makassar mempunyai labelling dari orang Jawa sebagai orang berwatak kasar, namun hal itu memudar ketika ia menginjakkan kakinya di UNM. Tak hanya itu, dirinya menganggap masyarakat Sulawesi Selatan sama halnya dengan masyarakat Jawa yang mempunyai sifat ramah, hanya saja memiliki intonasi yang cepat ketika berbicara.

“Di Jawa orang Makassar kerap dicap sebagai orang yang mempunyai sifat kasar. Namun setelah sampai di UNM pandangan itu memudar”, katanya.

Selain itu, mahasiswa yang kerap disapa Jihan ini pun menuturkan Pelataran Menara Pinisi UNM yang sejuk menjadi pilihan untuk berkumpul di waktu senggang. Apalagi arsitektur Menara Pinisi UNM yang dibangun menyerupai layar perahu Pinisi yang unik dimatanya.

“Di UPI kami punya gedung isola yang menjadi ikon kampus, ternyata UNM juga punya pinisi. Gedungnya unik dan desainnya keren”, ungkapnya.

Di sisi lain, mahasiswa Pendidikan Sejarah UPI itu menyayangkan kondisi parkiran UNM yang belum tertata dengan rapi. Hal itu berbeda dengan kampus UPI yang memiliki tempat parkir khusus, sehingga tidak ada kendaran yang terparkir di jalanan dalam kampus.

“Di UPI memang disediakan tempat parkir khusus jadi di dalam kampus tidak ada kendaraan yang parkir. Beda dengan disini kendaraanya dimana-mana sehingga untuk jalan pun kadang susah,” keluhnya.(*)

*Reporter: Wahyu Riansyah/Editor: Nurulcha