Anggota Sanggar Seni Sulappa Appa Makassar saat berpuisi di acara pembukaan Diklat Jurnalistik Mahasiswa Tingkat Dasar (DJMTD) 2017 di Ballroom Menara Pinisi, Kamis (12/10) - (Foto: Dasrin - Profesi)
Anggota Sanggar Seni Sulappa Appa Makassar saat berpuisi di acara pembukaan Diklat Jurnalistik Mahasiswa Tingkat Dasar (DJMTD) 2017 di Ballroom Menara Pinisi, Kamis (12/10) – (Foto: Dasrin – Profesi)

PROFESI-UNM.COM – Sanggar Seni Sulappa Appa Makassar mengkritik budaya modern melalui musikalisasi puisi saat pembukaan Diklat Jurnalistik Mahasiswa Tingkat Dasar (DJMTD) 2017 di Ballroom Menara Pinisi, Kamis (12/10).

Dalam puisi yang bertajuk “Mangkasara’ku” ini, Sulappa Appa menjelaskan bagaimana budaya lokal Makassar yang santun dirubah oleh modernitas menjadi tidak sesuai lagi dengan norma yang dianut oleh masyarakat Makassar. Tak hanya itu, kata prihatin melihat perubahan ini, juga terlontar melalui puisi tersebut.

“Mengapa sinrili’ tuanta salamaka diganti alunan rock n roll. Mengapa ganrang bulo menjelma menjadi tabuhan Ibanez. Lalu, mengapa baju bodo gadis Makassar diformat hingga pusar dan belahan dadanya nampak dengan jelas. Lalu pantaskah mangkasara’ku’ menyandang kota Daeng?,” penggalan puisi

Sementara itu Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan (PR III), Arifuddin Usman turut mengapresiasi penampilan tersebut. Menurutnya fenomena yang dipaparkan dalam puisi ini merupakan sebuah hal yang patut dihindari oleh mahasiswa.

“Untuk penampilannya, patut diapresiasi. Dalam puisinya yang mengatakan bagaimana perawaan desa ditelanjangi di tengah kota. Hal ini yang harus dihindari dan diwaspadi oleh anak-anak muda khususnya mahasiswa,” katanya.

Selain musikalisasi puisi, Sanggar Seni Sulapa Appa juga menampilkan akustik. (*)


*Reporter: Faisal Fajar

Share and Enjoy !

0Shares
0 0