Aksi lanjutan "Orange Menggugat" oleh LK se-UNM di Jl. A.P. Pettarani, Senin (31/7). Terdapat emoat tuntutan yang dilayangkan LK UNM. (Foto: Aminah-Profesi)
Aksi lanjutan “Orange Menggugat” oleh LK se-UNM di Jl. A.P. Pettarani, Senin (31/7). Terdapat emoat tuntutan yang dilayangkan LK UNM. (Foto: Aminah-Profesi)

PROFESI-UNM.COM – Mahasiswa Universitas Negeri Makassar (UNM) yang tergabung dalam aksi lanjutan tuntut penurunan UKT mahasiswa semester sembilan sempat menyebut Rektor sebagai ayahanda palsu.

Hal tersebut dilontarkan ketika Mantan Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Bahasa dan Sastra, Salman Azis memancing dengan pernyataan bahwa birokrasi kampus tak layak disebut orangtua.

Salman mengatakan, tiap perguruan tinggi memiliki sosok yang dijadikan sebagai orangtua. Tugasnya ialah menyayangi anak-anaknya.

“Pimpinan birokrat adalah ayahanda yang notabenenya menyayangi anaknya. Namun faktanya ayahanda kita sekarang malah memberikan penindasan kepada anaknya,” tegasnya.

(Baca juga: Belum Ada Solusi, LK UNM Kembali Aksi)

Selain penurunan UKT, Lembaga Kemahasiswaan se- UNM ini juga menuntut pencabutan surat edaran yang dikeluarkan UNM terkait nominal pembayaran mahasiswa Bidikmisi dan UKT nol ketika melewati masa studinya.

Hingga aksi tersebut usai, tak satu pun pihak pimpinan universitas turun untuk konsolidasi dengan LK UNM. (*)


*Reporter: St Aminah