M Yunasri Ridho, Ketua Maperwa UNM 2017/2018. (Foto: Ist)
M Yunasri Ridho, Ketua Maperwa UNM 2017/2018. (Foto: Ist)

PROFESI-UNM.COM – “Senior yang otoriter mematikan nyali dan senior yang dimitoskan mematikan nala”. Kira-kira begitulah anekdot yang seringkali kita dengar, lebih-lebih di kampus-kampus. Ada juga pameo seperti ini “pasal 1; senior tidak pernah salah. Pasal 2; apabila senior salah, kembali ke pasal 1”. Ngeri kan? sampai-sampai ada yang menyebutnya senior itu manusia setengah hantu ehh tuhan. Saya sendiri boleh jadi pernah melakukannya, mohon ditegur kawan-kawan dan dik-dik. Penyakit itu bisa datang pada siapapun dan di manapun, paling rawan di kampus-kampus.

Senioritas, mahluk macam apa itu? pertanyaan ini barangkali sederhana, tapi menjawabnya tidaklah mudah. Kalau berdasar pengalaman sehari-hari, sebutan senioritas seringkali diidentikkan dengan bullying, perpeloncoan terhadap junior, dan sekat antar angkatan. Itu kalau berdasar pada praktek keseharian. Beda halnya kalau kita mendefiniskannya berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), di sana disebutkan bahwa senioritas memiliki arti 1) perihal senior, 2) keadaan lebih tinggi dalam pangkat, pengalaman, dan usia, 3) prioritas status atau tingkatan yang diperoleh dari umur atau lamanya bekerja. Begitupun arti kata senior yang memiliki arti sebagai 1) lebih tinggi dalam pangkat dan jabatan kedinasan, 2) lebih matang dalam pengalaman dan kemampuan, 3) berada dalam tingkat sarjana bagi mahasiswa dan tingkat terakhir bagi pelajar tingkat menengah.

Melihat pengertiannya itu (sesuai dengan KBBI), berarti pada dasarnya senioritas itu adalah suatu hal yang perlu dan penting. Kenapa? karena sejatinya, senior adalah pembimbing, pengarah, kawan belajar. Ya, mirip-miriplah dengan konsep pendidik (asah, asih, asuh). Di mana, di sana ada tanggungjawab untuk membimbing, mengajarkan, dan mengarahkan para junior untuk dapat beradaptasi dan meningkatkan kualitas dirinya di dalam komunitas yang digelutinya.

Tidak lama lagi musim penerimaan mahasiswa baru akan tiba. Para dedek-dedek baru akan berdatangan. Itu berarti lahan perpeloncoan terbuka lebar (untuk mereka yang bermental sok kuasa). Modusnya macam-macam; parkir dan jual sticker liar, suruh sana-suruh sini, pukulan dan tendangan gratis. Ya, mentang-mentang memiliki jabatan, angkatan, atau usia yang lebih tinggi kemudian menjadi sewenang-wenang terhadap junior dan seolah-olah berhak melakukan segala hal kepada juniornya. Salahkah cara-cara demikian? Menurut saya salah, karena tidak sesuai dengan konsep kaderisasi yang baik. Lalu bagaimana penyelesaiannya? Ya, penyebabnya mesti dilacak dulu, apa faktornya. Kalau berdasar pengamatan penulis, barangkali penyebabnya karena pengaru masa lalu, konsep itu terjadi secara turun temurun, diwariskan dari generasi ke genarsi. Akibatnya, hal ini menjadi sebuah tradisi yang sebenarnya tidak diperlukan. Bukan senioritas lagi dasarnya, tetapi arogansi, sok kuasa dan perasaan semena-mena yang muncul.

***
Masing-masing dari kita tentu suatu saat akan menjadi seorang senior, karena begitulah hukum kehidupan. Lantas, bagaimana cara menjadi seorang senior yang tepat? caranya tentu (ini menurut saya) dengan menjadi senior yang berkualitas, ya setidak-tidaknya seperti kata Pram jadilah senior yang adil sejak dalam pikiran, perkataan dan perbuatan. Jika yang dikejar dari senioritas hanyalah ingin dihargai atau dihormati, sebaiknya singkirkan saja dulu cara-cara yang seolah-olah Anda menakutkan. Cara-cara tersebut misalnya dengan membentak-bentak junior, arogan, menyuruh sesukanya, memperbudak, melakukan kekerasan fisik, dan lain sebagainya. Dengan cara seperti itu, penghormatan yang seharusnya Anda dapatkan malah jadi rasa jijik berlebihan dan malah menjadi rasa dendam yang bisa saja dilampiaskan kepada orang yang tingkatan atau usianya lebih rendah daripadanya.

Berlakulah sebagai senior yang biasa saja: egaliter, demokratis, berkomunikasi yang baik, menempatkannya sebagai kawan belajar, kalaupun marah ya marah yang ilmiah, maksudnya punya dasar dan niatnya untuk mendidik. Didiklah mereka agar berani dan tahu cara memprotes ketidakadilan. Dengan berlaku demikian, maka akan terwujudlah senioritas yang baik pula.

Senioritas itu perlu. Namun menjadi senior yang baik, yang jauh dari arogansi, gila hormat, dan bertindak seenaknya sendiri. Karena pada dasarnya menjadi senior hanyalah soal waktu saja. Soal pengetahuan, pengalaman, kedewasaan itu hal lain, itu tidak selalu berkorelasi dengan usia atau status senior-junior. Kebetulan saja, ada yang lebih dulu datang/masuk dan ada yang belakangan. Tapi itu bukan alasan untuk bertindak sewenang-wenang terhadap mereka yang masih baru. Menyitir apa yang dibilangkan oleh Wiji Thukul bahwa “Jika kita menghamba pada ketakutan (dan membuat orang lain ketakutan), kita hanya memperpanjang barisan perbudakan”. Salam kepala plontos. Salam cinta damai senior. (*)


*Penulis adalah M. Yunasri Ridho, Mahasiswa Jurusan PPKn (Ketua Maperwa UNM).