Muhammad Awwal, mahasiswa Pendidikan Sejarah FIS UNM (Ketua Umum MAPERWA FIS UNM). (Foto: Int)
Muhammad Awwal, mahasiswa Pendidikan Sejarah FIS UNM (Ketua Umum MAPERWA FIS UNM). (Foto: Int)

PROFESI-UNM.COM – Bulan Suci Ramadhan merupakan bulan yang agung dan penuh berkah bagi umat muslim. Kita ketahui bersama pada bulan ini seseorang yang mengerjakan amalan shalih akan dilipatgandakan pahalanya.

Keistimewaan bulan ramadhan disebut demikian, salah satu alasannya pada bulan ini kitab suci Al Quran diturunkan, yang merupakan pedoman kita sebagai makhluk ciptaannya menuju kebenaran dari setiap kesesatan yang dihadapi.Patutlah kita memanfaatkan bulan suci ini tuk meningkatkan ibadah sebagai bekal di akhirat kelak.

Tepatnya di Universitas Negeri Makassar, salah satu perguruan tinggi negeri di bagian timur Indonesia. Nuansa bulan suci Ramadhan juga dirasakan setiap civitas akademika kampus tersebut. Pemandangan yang biasa saat bulan suci, juga kerap ditemui di dalam kampus, salah satu contoh terdapat Buka puasa bersama yang dilakukan Mahasiswa baik itu bersama dengan Teman satu angkatan, senior dan junior sesama Fungsionaris LK internal maupun eksternal kampus, serta Berbuka bersama para Dosen – dosen.

Adanya undangan berbuka bagi kalangan Mahasiswa pastinya menjadi kesyukuran tersendiri, selain dijadikan ajang menjaga solidaritas, meningkatkan jalinan silaturrahmi juga dapat membangun komunikasi yang baik. Menghadiri undangan berbuka juga dapat menghemat pengeluaran mereka di tengah semakin tingginya biaya kebutuhan setiap harinya. Itu sudah menjadi rahasia umum bagi mayoritas Mahasiswa di kampus itu.

UNM kampus yang mempunyai tujuan World Class University, memiliki gedung dengan desain menarik dan berhasil menjadi salah satu icon Kota Makassar. Terkenal sebagai kampus pencetak Guru profesional di bidangnya. Dan yang terbaru menjadi kampus dengan status akreditasi A. Semakin mengesahkan dan seolah memberi bukti memang layak disebut sebagai kampus terbesar dan patut diperhitungkan di wilayah timur bahkan dengan beberapa kampus negeri lainnya.

Begitulah gambaran yang akan diterima oleh Calon Mahasiswa Baru angkatan 2017 yang beberapa waktu kedepan akan disambut kedatangannya. Sederet prestasi tersebut akan di sosialisakan. Mereka akan menikmati gedung pinisi bangunan kampus yang menjadi icon kota, tetapi terlebih dahulu melakukan proses transaksi tunai bersama pengelola gedung. Dengan tarif telah ditentukan, sulit untuk kantong seorang Mahasiswa.

Mereka akan menjadi warga kampus, terdaftar sebagai Mahasiswa perguruan tinggi negeri berstatus akreditasi A. Tetapi harus sabar dengan fasilitas, sarana dan prasarana kurang memadai. Mereka akan bangga ketika kelak lulus di kampus pencetak guru profesional, tetapi dipaksa taat kepada regulasi cacat (UKT) yang diterapkan di kampus tersebut.

Selanjutnya, Mereka akan membentuk karakternya dengan berproses di dalam Lembaga Kemahasiswaan ataupun Unit, Biro Kegiatan Mahasiswa. Wadah belajar lainnya ketika dimanfaatkan, Tetapi siap menghadapi keterbatasan serta belum maksimalnya perhatian ataupun dukungan pimpinan kampus.

Benar saja mahasiswa baru ini nantinya akan mendapat intimidasi untuk tidak berkumpul bahkan bercengkrama dengan para senior, Seolah mereka akan diarahkan ke arah yang salah ketika bersama para seniornya. Bisa dikatakan pihak kampus membatasi ruang gerak, merenggut hak demokratis mereka.

Yaa seperti itulah yang akan mereka terima, disamping itu lingkungan Kota besar dengan segala bentuk godaan dapat membuat mereka terjerumus ketika salah langkah. Untuk orang tua ada kebanggan ketika sang anak bisa melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi, tetapi disisi lain kekhawatiran luar biasa juga tak dapat mereka hindari saat melepas sang buah hati menetap di daerah yang berbeda, jauh dari pengawasannya.

Pendampingan untuk mereka dibutuhkan, seperti bayi yang baru lahir membutuhkan kasih sayang membimbing hingga di usia remaja supaya menentukan jalannya pada saat dewasa.

Bukan berharap mereka menjadi apatis akan keadaan mereka terima, tidak memiliki keresahan terhadap persoalan itu, besar harapan timbul kesadaran bahwa mereka berada di lingkungan yang sedang tidak baik – baik saja kemudian berani mempertanyakan. Semoga tak ada penyesalan melainkan kebanggaan karena pada dasarnya berhasil terdaftar di kampus yang sebentar lagi ber – BH ini adalah keberuntungan banyak orang lain yang ingin rasakan.

Seharusnya kampus menjadi ruang dialektika, berperan sebagai tempat mendapatkan ilmu, sebab pendidikan sangat penting diakses semua kalangan kemudian sebaiknya kampus tidak di komersilkan. Bahkan berubah fungsi sebagai sektor penindas rakyat.

Nuansa bulan suci Ramadhan seperti yang terjadi di UNM saat ini, Para Mahasiswa baru juga akan rasakan, menjalankan ibadah puasa dengan gelar sebagai seorang Mahasiswa tentunya berbeda ketika masih berstatus seorang Siswa. Semoga senantiasa dilancarkan ibadah puasanya.

Selamat berdinamika dan berproses di kampus yang selalu jaya dalam tantangan Sang Mahasiswa Baru… (*)


*Penulis adalah Muhammad Awwal, mahasiswa Pendidikan Sejarah FIS UNM (Ketua Umum MAPERWA FIS UNM)