Ismail Syam, Mahasiswa Pendidikan Antropologi FIS UNM - (Foto: Ist.)
Ismail Syam, Mahasiswa Pendidikan Antropologi FIS UNM – (Foto: Ist.)

PROFESI-UNM.COM – Tak lengkap rasanya ketika mahasiswa yang akan melaksanakan ujian akhir tidak menyiapkan parcel dan amplop. Menyiapkan parcel yang berisikan berbagai macam makanan dan minuman. Mulai dari buah-buahan dan nasi wongsolo sampai minuman botol.

Belum lagi, amplop yang berisikan uang ratusan ribu untuk diberikan kepada dosen penguji sebagai dana transportasi.
Pengetahuan dan pemahaman mengenai isi dari skripsimu seolah tak penting. Yang terpenting adalah seberapa banyak makanan dalam parselmu. Serta, seberapa banyak uang yang ada dalam amplopmu.
***
Budaya parcel dan amplop sudah menjadi tradisi –di beberapa fakultas– dalam kampus negeri, utamanya kampus oranges. Bahkan, kerap pihak dosen memberikan patokan nominal bagi mahasiswa yang akan melaksanakan ujian akhir. Parcel dan amplop seolah menjadi hal wajib yang harus dipersiapkan oleh mahasiswa. Banyak waktu terbuang untuk mempersiapkan hal-hal non teknis seperti sajian makanan yang harus dipersembahkan pada saat ujian.

Coba kita hitung biaya kasar yang dikeluarkan oleh mahasiswa, mulai seminar proposal sampai ujian akhir. Seminar Proposal Rp. 600.000 (amplop dosen Rp. 400.000 masing-masing Rp. 100.000 untuk setiap penguji dan pembimbing + komsumsi Rp. 200.000), sedangkan Ujian Hasil Rp. 600.000 (amplop dosen Rp. 400.000 masing-masing Rp. 100.000 untuk setiap penguji dan pembimbing + komsumsi Rp. 200.000) dan Ujian Akhir Rp. 800.000 (amplop dosen Rp. 600.000 masing-masing Rp. 150.000 untuk setiap penguji dan pembimbing + komsumsi Rp. 200.000).

Selain itu, dalam ujian akhir, mahasiswa juga dibebankan untuk membawa parsel sesuai dengan kebutuhan finansial masing-masing. Namun tetap menjadi salah satu penolong/penunjang mahasiswa dalam melaksanakan ujian akhir.

Misalnya parsel teman saya yang berisikan 2 bungkus kopi toraja, 1 kotak teh sariwangi, 1 biskuit kaleng tango, 1 biskuit kaleng Khong Guan, 2 keripik kentang, 1 kacang disko, 1 botol cocacola, 2 bungkus permen dengan total biaya Rp. 295.000 (masing-masing diberikan kepada setiap dosen penguji dan pembimbing serta sekertaris ujian dengan total Rp. 295.000 X 5 = Rp. 1.475.000). Total yang di keluarkan oleh mahasiswa mulai dari seminar proposal sampai ujian akhir yaitu Rp. 600.000 + Rp. 600.000 + Rp. 1.475.000 = Rp. 2.675.000.

Tradisi turun temurun yang diterapkan –di kampus negeri– ini merupakan hal yang dapat membebankan mahasiswa. Bagi mahasiswa kalangan ekonomi atas mungkin tidak terlalu merasakan dampaknya, namun berbeda dengan mahasiswa yang memiliki ekonomi rendah. Tradisi ini pastinya menjadi momok yang menakutkan.

Belum lagi, kerap adanya perbedaan perlakuan saat melakukan ujian antara mahasiswa yang membawa parsel dan memberi uang amplop dengan yang tidak. Mahasiswa yang membawa parcel dan memberi uang amplop hanya mendapatkan pertanyaan konyol. Pertanyaan dosen penguji kerap berubah menjadi “kenapa asam rasanya apelmu ?”. Sedangkan bagi mahasiswa yang tidak, harus siap mental untuk mendapatkan pertanyaan maut penguji. Bahkan, kerap mereka di persulit dalam proses penyelesaian studinya.

Apabila hal tersebut masih tetap dibiarkan, tunggu saja akan terjadi revolusi bersar-besaran dalam universitas. Kualitas seorang sarjana tidak lagi ditentukan dari seberapa banyak buku yang dibaca, sedalam apa ia berpikir, dan apa saja yang telah ia hasilkan bagi umat manusia, melainkan seberapa mewah parsel dan setebal apa amplop yang diberikan. Atau boleh jadi, meraih gelar sarjana akan semudah membeli parsel di toko-toko.

Pada akhirnya, pendidikan bukan lagi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, melainkan untuk memenuhi kebutuhan pengusaha. Ilmu pengetahuan dan institusi pendidikan tak lagi mengajarkan kita akan kebenaran yang sesungguhnya. Benar kata Nietzche -seorang filsuf nihilis- “bahwa kebenaran adalah hal yang menakutkan”.
Bravo !. (*)

*Penulis adalah Ismail Syam, Mahasiswa Jurusan Pendidikan Antropologi Fakultas Ilmu Sosial