Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Republik Indonesia (RI), Zulkifli Hasan memberikan kuliah umum di Ruang Teater Lantai 3 Menara Pinisi, Minggu (7/5) - (Foto: Muh. Agung Eka S - Profesi)
Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Republik Indonesia (RI), Zulkifli Hasan memberikan kuliah umum di Ruang Teater Lantai 3 Menara Pinisi, Minggu (7/5) – (Foto: Muh. Agung Eka S – Profesi)

PROFESI-UNM.COM – Dalam kuliah umumnya di Universitas Negeri Makassar, Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Republik Indonesia (RI), Zulkifli Hasan membahas bagaimana kekuatan rakyat di dalam suatu demokrasi.

Zulkifli mengatakan, alasan rakyat mempunyai kekuatan dalam demokrasi lantaran merupakan komponen paling penting dalam sistem tersebut. Mestinya diperlakukan dan dilayani secara baik oleh pemimpin. Bahkan, pemimpin yang telah dipilih sudah seharusnya menjadi pelayan bagi rakyat.

“Yang milih DPR siapa, yang milih bupati siapa, yang milih gubernur siapa, yang milih Presiden siapa, jawabannya yah rakyat, jadi bosnya yah rakyat,” katanya saat kuliah umum di Ruang Teater Lantai 3 Menara Pinisi, Minggu (7/5).

Mantan Menteri Kehutanan Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II ini juga menambahkan, bahwa rakyat dalam pesta demokrasi tetap mempertimbangkan konsekuensi yang akan di dapat jika calon yang mereka jagokan menang.

“Tidak apa-apa terima sembako kalau lagi musim kampanye asal jangan milih pemimpin karena itu, tetap harus melihat bagaimana pemimpin yang kita pilih,” tambahnya.

Pria asal Lampung ini pun menuturkan bahwa secara keseluruhan rakyat merupakan tanggung jawab negara agar bisa hidup berdaulat.

“Kalau ada rakyat yang tidak berdaya, kalau ada rakyat yag tersakiti, kalau ada rakyat yang dihinnakan, kalau ada rakyat yangg dizalimi, kalau ada rakyat yang tidak bisa pergi sekolah, kalau ada rakyat yang tidak bisa pergi kerumah sakit, kalau ada rakyat yang kelaparan maka negara mesti hadir. Negara hadir dan membantu melayani mereka tanpa alasan apapun tanpa terkecuali,” tuturnya.

Sementara itu, kuliah umum ini digelar oleh Himpunan Mahasiswa Pascasarjana Indonesia (HMPI) bekerjasama dengan Program Studi (Prodi) Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) UNM. (*)


*Reporter: Ayu Ananda Pratiwi