Bukti transfer milik mahasiswa Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS) UNM, Samsidar yang dibayarkan untuk oknum yang melakukan penipuan - (Foto: Ist)
Bukti transfer milik mahasiswa Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS) UNM, Samsidar yang dibayarkan untuk oknum yang melakukan penipuan – (Foto: Ist)

PROFESI-UNM.COM – Mahasiswa Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS) UNM, Samsidar menceritakan bagaimana dirinya kena penipuan melalui Short Message Service (SMS) untuk pendampingan penerima beasiswa PPA. Ia mengaku memperoleh pesan tersebut pada pukul 16.30, Jumat (28/4) sore.

Awalnya sempat ragu setelah memperoleh pesan tersebut. Lantas, dirinya langsung mengkonfirmasi ke beberapa pihak. Namun, tak memperoleh hasil. Sehingga, dirinya langsung menghubungi oknum tersebut melalui nomor yang tertera dalam pesan itu.

“Saya mencoba hubungi salah satu kenalan di fakultas tidak di angkat jadi saya coba-coba ikuti. Terus saya ragu, jadi saya hubungi nomor yang mengatas namakan PR lll, dia bilang ikuti saja. Jangan berpikir negatif, nanti di cancel terus kampus yang dapat teguran dari Kemenristek Dikti,” jelasnya.

Mahasiswan Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah (PBSD) ini mengatakan, setelah menghubungi oknum, ia pun terus mendapat panggilan dari pihak yang mengatasnamakan Kemenristek Dikti. Hal tersebut membuatnya merasa harus mengikuti arahan dari pihak tersebut.

“Terus orang yang selalu menghubungi saya mengatasnamakan Prof. H. Sunarto, M.Ag selaku bagian keuangan Kemenristek Dikti,” ucapnya.

Ia menambahkan, setelah menerima pesan tersebut. Lantas, dirinya mendapat perintah untuk segera melakukan pembayaran via transfer bank.

“Saya dikasih nomor registrasi peserta untuk mencairkan dana akamodasi senilai lima juta. Saya diperintahkan ke ATM, saya pikir beliau menuntun saya untuk langsung mencairkan dana. Tetapi ternyata saya diminta cek saldo, saya memiliki 600 ribu dan saya diminta transfer sebanyak 598,757,” tambahnya.

Lanjut, ia menjelaskan, bukti transfer yang diterimanya diminta untuk dirobek tanpa alasan yang jelas. Namun, arahan tersebut tidak dipedulikan. “Ini bukti transfernya, sebenarnya saya disuruh robek-robek dan buang, tapi untungnya teman saya mengingatkan agar jangan dibuang,” jelas mahasiswa angkatan 2014 ini.

Berselang beberapa jam, Samsidar baru menyadari bahwa terdapat hal yang janggal dalam pesan tersebut. Pasalnya, beberapa temannya ramai membicarakan sms yang diperolehnya di salah satu grup sosial media. Di saat itu juga, dirinya baru tahu bahwa hal itu merupakan penipuan.

“Pada saat temanku buka grup beasiswa PPA, saat itu sudah ramai mengenai info tersebut dan saat itu saya sadar mengenai semua kejanggalan yang terjadi,” ucapnya.

Ia meminta agar informasi ini dapat disebar ke mahasiswa lain, dan berharap agar tidak ada lagi yang menjadi korban. “Iya terserah yang penting infonya tersebar dan tidak ada korban selanjutnya. Cukup saya saja,” tutupnya. (*)


*Reporter: Dewi Ulfah