Ratnawati Fadhilah, Dosen Program Studi Pendidikan Teknologi Pertanian memberdayakan Mangrove hingga ke Srilanka. (Foto: Wahid-Profesi)
Ratnawati Fadhilah, Dosen Program Studi Pendidikan Teknologi Pertanian memberdayakan Mangrove hingga ke Srilanka. (Foto: Wahid-Profesi)
Ratnawati Fadhilah, Dosen Program Studi Pendidikan Teknologi Pertanian memberdayakan Mangrove hingga ke Srilanka. (Foto: Wahid-Profesi)

PROFESI-UNM.COM – Berawal dari kecintaannya terhadap alam sekitar membuat hati Ratnawaty Fadilah, dosen Pendidikan Teknologi Pertanian Fakultas Teknik Universitas Negeri Makassar ini tergerak untuk melakukan usaha pelestarian dan pemberdayaan lingkungan. Ratna aktif bergelut di beberapa organisasi yang peduli terhadap pelestarian lingkungan.

Semenjak duduk di bangku kuliah, ia bergabung dengan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala). Tak hanya itu, ia juga pernah terjun ke media sebagai reporter sebuah stasiun Radio  Komunitas yang berbasis lingkungan.

Melihat peluang dan potensi yang ada, ia mulai memberdayakan masyarakat pesisir dengan mengembangkan produk lokal berupa olahan mangrove. Beragam produk berhasil dibuat dari olahan mangrove tersebut. Seperti teh, selai, sirup, dan tepung mangrove.

“Banyak olahan yang kita buat. Tetapi lebih cenderung ke teh mangrove karena pengelolaannya lebih praktis dan tahan lama,” katanya.

Upaya rehabilitasi magrove di daerah Sulawesi Selatan pun kerap kali dilakukan demi menjaga keseimbangan ekosistem. Namun, kurangnya lahan potensial menjadi kendala untuk melangsungkan program tersebut.

“Itupun ada lahan yang sesuai dan layak sudah menjadi hak milik yang telah dijadikan tambak,” katanya

Terlepas dari produk yang telah ia hasilkan dari tanaman Mangrove, dara asal Pangkep ini juga telah menjajal berbagai daerah untuk memberikan pelatihan pemanfaatan potensi lingkungan, baik di dalam maupun di luar negeri. Seperti Aceh, Medan, Manado, Nusakambangan, dan Papua. Di luar negeri, ia pernah memberikan pelatihan terkait mangrove di Malaysia hingga ke negeri Ceylon, Srilanka. (*)


*Tulisan ini telah terbit di Tabloid Profesi Edisi 211