Saddang Husain saat menajalankan program SM-3T di pelosok hutan daerah terpencil di tengah hutan, Desa Long Lamcin, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. (Foto: Ist)
Saddang Husain saat menajalankan program SM-3T di pelosok hutan daerah terpencil di tengah hutan, Desa Long Lamcin, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. (Foto: Ist)
Saddang Husain saat menajalankan program SM-3T di pelosok hutan daerah terpencil di tengah hutan, Desa Long Lamcin, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. (Foto: Ist)

PROFESI-UNM.COM – Mengabdikan diri di pelosok hutan daerah terpencil di tengah hutan, Desa Long Lamcin, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur menjadi momen pengabdian dirinya untuk melestarikan pendidikan di daerah pelosok Indonesia.

Melalui program SM-3T UNM Angkatan V, Saddang Husain bersama rekannya Akhwan ditugaskan mengajar di SDN 012 Kelay, Berau. Sekolah itu terdiri dari tiga ruangan, masing-masing disekat tripleks sehingga terbagi menjadi enam ruang kelas.

Sulitnya hidup di hutan pun tetap tak mematahkan tekadnya untuk membawa perubahan di daerah pedalaman itu. Tekad menyiarkan pendidikan dengan membimbing 31 murid itu justru menjadi tantangan baginya. Kepedulian pendidikan yang kurang, dan tingkah laku siswa yang tak disiplin merupakan hal yang harus dihadapinya tiap hari.

“Anak-anak terkadang meludah di kelas. Kalau marah, mereka pukul dinding tripleks atau papan tulis sampai berlubang,” jelasnya.

Tak sampai disitu, keinginan untuk memperlihatkan dunia luar kepada siswanya juga dilakukan. Tak tanggung-tanggung ia menghabiskan sebagian honornya untuk memperkenalkan sepak bola dan takraw pada kegiatan Porseni Kabupaten Berau. Untungnya, kegiatan inspirasi tersebut mendapat respon positif dari warga setempat.

“Tidak ada bantuan dari pihak sekolah jadi kami kumpulkan warga. Untunglah warga merespon positif dan memberikan bantuan dana,” kenangnya. (*)


*Tulisan ini telah terbit di Tabloid Profesi Edisi 210