Dua mahasiswa mesin memperlihatkan solar cell yang diciptakan. Rencananya, sel surya ini akan ditujukan untuk masyarakat pedesaan - (Foto: Ist)

PROFESI-UNM.COM – Mahasiswa Fakultas Teknik (FT) Universitas Negeri Makassar (UNM), Riska Ardila dan Akram Tuhira menciptakan sebuah listrik dengan merakit perangkat sel surya (solar cell). Hal ini diperuntukkan bagi sejumlah pedesaan yang masih memiliki akses listrik terbatas.

Solar cell buatan mahasiswa Prodi Pendidikan Teknik Mesin ini dikombinasikan dengan mesin pompa air. Sehingga  alat tersebut dapat mengalirkan listrik sekaligus air bersih langsung ke rumah warga. Riska Ardila mengatakan, solar cell saat ini masih belum banyak dilirik industri, apalagi di pedesaaan.

Padahal, solar cell yang menggunakan sinar matahari sebagai sumber energi memiliki kelebihan tersendiri.  Kelebihan tersebut berupa jumlahnya yang besar dan tidak menyebabkan polusi udara sehingga alat ini ini dinilai  ramah lingkungan karena tidak menggunakan bahan bakar minyak bumi sebagai sumber energi utama.

“Indonesia merupakan negara yang memiliki banyak sekali daerah yang terpencil yang tidak tersuplai aliran listrik dari PLN,maka pengembangan solar cell untuk desa sangat bermanfaat,” katanya, Minggu (26/2).

Lebih lanjut, mahasiswa angkatan 2012 ini menambahkan, karya yang dihasilkan sangat efisien karena tidak memerlukan transmisi energi. Tidak hanya itu, alat ini dinilai sangat bermanfaat bila diaplikasikan di wilayah terpencil. “Karya kami sangat efisien, warga tidak lagi susah mengambil air dengan ember maupun jerigen,” tambahnya.

Riska pun menjelaskan, pada alat yang diciptakan terdapat beberapa komponen utama yang memiliki fungsi yang  saling berkaitan. Di antaranya, panel surya yang berfungsi untuk menangkap cahaya yang selanjutnya diubah  menjadi energi listrik, Solar Charge Controller yang mengatur arus untuk pengisian ke baterai/aki, dengan adanya  alat juga dapat membuat semua komponen aman, Inverter yang mengubah tegangan DC (Direct Current) dari tenaga surya menjadi sistem tegangan AC (Alternating Current) yang nilai tegangannya dapat diatur sesuai dengan  kebutuhan.

Sementara itu, di dalam baterai/aki berlangsung proses perubahan kimia menjadi energi listrik dan sebagai tempat  untuk menyimpan sumber tenaga listrik yang dihasilkan, dan terakhir ialah mesin pompa. “Ada lima bagian utama.  Pada alat ini solar cellnya kami mengambil ukuran 70×30 cm, ini masih bisa diubah sesuai dengan kebutuhan yang diinginkan. Dan untuk ukuran tersebut sudah menghasikan energi sebanyak 12 giga watt,” jelasnya.

Ia pun menuturkan, penggunakan solar cell tidak hanya dapat digunakan pada skala besar, namun alat ini dapat  digunakan langsung oleh warga di rumahnya masing-masing. “Inikan disesuaikan dengan kebutuhan warga, ada juga ukuran yang dapat dipasang di rumah warga, tapi untuk solar cell yang ini digunakan jika jarak antar rumah warga berjauhan,” tuturnya.

Perkembangan solar cell saat ini memang mulai menunjukkan geliat yang maju, hal ini tidakterlepas dari  kepedulian akan penggunakan bahan bakar fosil yang dinilai sudah berkurang. “Beberapa negara maju sudah  mewajibkan penggunakan solar cell. Kami juga menginginkan hal yang seperti itu, supaya masyarakat Indonesia  tidak lagi bergantung pada BBM,” nilainya.

Hingga saat ini, mereka tengah mengembangkan karya yang diciptakan agar dapat digunakan secara massal. Perbaikan demi perbaikan dilakukan, tujuannya untuk meningkatkan kerja alat.

“Tetap kami akan mengembangkan alat ini. Karya ini sudah diuji coba di beberapa tempat dan hasilnya cukup memuaskan. Sekarang kami tengah mencari rekan yang dapat membantu menyalurkan alat ini sampai kedaerah pedesaan. Apalagi harga alat ini bisa dijangkau untuk mssyarakat pedesaan,” pungkasnya. (*)


*Reporter: Resa Saputra