Firdaus, Guru besar bidang Evaluasi pembelajaran Biologi saat menyampaikan orasi ilmiah Paradigma Baru Pengurangan Resiko Bencana di Ruang Teater Menara Pinisi UNM, Selasa (21/2). (Foto: Resa-Profesi)
Firdaus, Guru besar bidang Evaluasi pembelajaran Biologi saat menyampaikan orasi ilmiah Paradigma Baru Pengurangan Resiko Bencana di Ruang Teater Menara Pinisi UNM, Selasa (21/2). (Foto: Resa-Profesi)
Firdaus, Guru besar bidang Evaluasi pembelajaran Biologi saat menyampaikan orasi ilmiah Paradigma Baru Pengurangan Resiko Bencana di Ruang Teater Menara Pinisi UNM, Selasa (21/2). (Foto: Resa-Profesi)

PROFESI-UNM.COM – Kurikulum pembelajaran mesti berisikan paradigma pengurangan risiko bencana. Hal tersebut diungkapkan oleh Firdaus Daud saat pengukuhannya sebagai Guru Besar Bidang Evaluasi Pembelajaran Biologi di Ruang Teater, lantai 3 Menara Pinisi UNM, Selasa (21/2).

“Pada perguruan tinggi, mitigasi bencana dapat dimasukkan ke dalam mata kuliah Pendidikan Lingkungan Hidup. Kalau di sekolah menengah dapat dimasukkan ke dalam muatan lokal dengan asumsi setiap daerah punya kekhasan jenis bencana,” beber pria asal Maros ini.

Orasi ilmiahnya berjudul “Paradigma Baru Pengurangan Risiko Bencana (Suatu Kajian Evaluasi Pembelajaran Biologi).

Dalam orasi ilmiahnya, Firdaus menjelaskan, Indonesia terletak di lokasi rentan berbagai jenis bencana alam, seperti gempa bumi, tsunami, gunung berapi, banjir, tanah longsor, kebakaran hutan dan lahan. “Selain bencana yang disebabkan kejadian alam, bencana juga disebabkan oleh ulah manusia,” ujarnya.

Namun lulusan Doktoral Universitas Negeri Jakarta ini mengimbuhkan, penduduk Indonesia masih memiliki paradigma konvensional terkait bencana alam. “Masih banyak penduduk menganggap bencana merupakan takdir dan kutukan atas dosa dan kesalahan yang diperbuat. Sehingga tidak perlu berusaha untuk mengambil langkah-langkah pencegahan atau penanggulangan,” bebernya.

Padahal paradigma seharusnya sudah beralih dari paradigma bantuan darurat menuju paradigma mitigasi/preventif sekaligus paradigma pembangunan. Dalam pendekatan paradigma yang disebutnya paradigma pengurangan risiko, Firdaus menggambarkan formulasi secara skematis, yaitu risiko suatu bahaya sama dengan hasil perkalian antara bahaya tersebut dengan kerentanan penduduk terhadapnya.

“Semakin tinggi risiko tersebut maka semakin mendesak untuk mendahulukan kerentanan bahaya sebagai target mitigasi dan usaha kesiapan, demikian pula sebaliknya. Contohnya, gempa bumi di pulau yang tidak ada penduduknya,” jelasnya. (*)


*Reporter: Awal Hidayat