Hasyim Arfah, wartawan tribun Timur saat membawakan materi Perencanaan Peliputan dan Teknik Wawancara pada Diklat Jurnalistik Mahasiswa Tingkat Dasar (DJMTD) 2016 di Ballroom lantai 2 Menara Pinisi UNM, Kamis (20/10). (Foto: Muh agung Eka-Profesi)
Hasyim Arfah, wartawan tribun Timur saat membawakan materi Perencanaan Peliputan dan Teknik Wawancara pada Diklat Jurnalistik Mahasiswa Tingkat Dasar (DJMTD) 2016 di Ballroom lantai 2 Menara Pinisi UNM, Kamis (20/10). (Foto: Muh agung Eka-Profesi)
Hasyim Arfah, wartawan tribun Timur saat membawakan materi Perencanaan Peliputan dan Teknik Wawancara pada Diklat Jurnalistik Mahasiswa Tingkat Dasar (DJMTD) 2016 di Ballroom lantai 2 Menara Pinisi UNM, Kamis (20/10). (Foto: Muh agung Eka-Profesi)

PROFESI-UNM.COM – Menjadi seorang jurnalis ataupun jurnalis kampus harus memahami isu sebelum melakukan peliputan dan wawancara. Hal tersebut diungkapkan, Hasyim Arfah saat memaparkan materi Perencanaan Peliputan dan Teknik Wawancara pada Diklat Jurnalistik Mahasiswa Tingkat Dasar (DJMTD) 2016 di Ballroom lantai 2 Menara Pinisi UNM, Kamis (20/10).

“Untuk memahami isu dilakukan dengan cara observasi dan eksperimen,” ungkap wartawan Tribun Timur ini.

Lebih lanjut, Hasim yang merupakan wartawan desk Politik juga menjelaskan Jurnalis yang telah memahami isu dapat mengatur berlangsungnya wawancara yang baik dengan narasumber.

“Jurnalis telah memahami isu apabila jurnalis telah mendapatkan fakta, mengetahui orang yang melakukan dan aturan yang berlaku,” tambahnya. (*)

 


*Reporter: St. Aminah

Share and Enjoy !

0Shares
0 0