11885194_1023320284385386_5036006619065929784_n
Arlin, Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Sastra, Universitas Negeri Makassar. (Foto: Ist)

PROFESI-UNM.COM – Ts’ai Lun, menurut catatan sejarah Cina merupakan orang pertama yang menemukan kertas. Meski terlebih dahulu di Mesir ditemukan media tulis yang dinamakan papyrus. Selain papyrus, banyak negara yang menggunakan bambu dan kulit binatang sebagai media tulis.

Hal tersebut tentunya dianggap tidak efisien jika dibandingkan dengan penggunaan kertas sebagai media tulis. Ts’ai Lun menemukan kertas di Cina sekitar tahun 105 M. Ts’ai Lun merupakan
seorang pegawai kerajaan yang pertama kali melaporkan penemuannya kepada Kaisar Ho Ti. Penemuan kertas tersebut sangatlah membantu pelaksanaan administrasi pemerintahan dan urusan kerajaan.

Michael H. Hart dalam buku Seratus Tokoh Paling Berpengaruh di Dunia mengemukakan kemajuan negeri Cina setelah penemuan kertas sebagai media tulis. Tokoh yang berpengaruh tersebut tentu saja adalah Ts‟ai Lun. Penemuan kertasnya yang efesien tentunya memudahkan proses penyalinan ilmu pengetahuan maupun sastra untuk dinikmati khalayak banyak. Demikian halnya
setelah penemuan mesin cetak oleh Johann Gutenberg (1400-1468) di Eropa.

Bangsa Eropa mengalami perkembangan pesat, bahkan melampau bangsa Cina dan bangsa-bangsa lainnya. Tetapi sebelum masa kejayaan Eropa, terlebih dahulu umat Islam mengalami kejayaan ilmu pengetahuan. Hal ini tidak terlepas dari produksi kertas oleh bangsa Arab di Bagdad dan Sarmarkand setelah berhasil mempelajari cara pembuatan kertas dari orang Cina. Penemuan kertas beriringan dengan kemajuan peradaban Islam. Lahirlah buku-buku kedokteran, astronomi, matematika, sastra, dan ilmu pengetahu lainnya melalui ilmuan-ilmuan muslim.

Sayangnya, kehancuran dinasti Abbasiyah oleh tentara Mongol mengakibatkan penghancuran catatan dan manuskrip ilmu pengetahuan Islam. Demikian halnya di Andalusia, salah satu pusat ilmu pengetahuan Islam, mengalami pemberangusan, seperti yang digambarkan Tariq Ali dalam novel Bayang-bayang Pohon Delima. “Pada Desember 1499. Prajurit-prajurit Kristen di bawah komando kelima kesatria itu memasuki 195 perpustakaan kota dan selusin rumah besar tempat menyimpan beberapa koleksi pribadi yang yang terkenal baik”. Buku-buku tersebut ditumpuk menyerupai benteng, kemudian dibumi beranguskan melalui pembakaran.

Baru pada abad ke-12, orang-orang Eropa belajar teknik pembuatan kertas melalui bangsa Arab. Terlebih setelah invasi Kristen di Spayol, bangsa Eropa mengalami perkembagan pesat. Hal ini kemudian dipermudah dengan penemuan mesin cetak oleh Gutenberg. Bermunculanlah penemuan-penemuan penting oleh bangsa Eropa yang menjadi cikal bakal kemajuan Eropa, bahkan dunia.

Tokoh dan kisah di atas adalah pengantar untuk membuktikan hubungan erat antara kemajuan peradaban suatu bangsa dengan buku dan perpustakaan suatu bangsa. Tetapi di zaman sekarang, masihkah kita berada di pundak Ts‟ai Lun dan Gutenberg untuk menjadi bangsa besar. Menjadikan membaca buku sebagai kebutuhan, bukan sebagai pengisi waktu senggang semata. Tetapi, inilah yang kemudian menjadi permasalahan bangsa Indonesia, minat baca yang diambang kritis dan sarana yang tidak mendukung. Mereka tak menyadari manfaat yang berlimpah dari kebiasaan membaca buku.

Bahkan beberapa data dan fakta mencengankan dikeluarkan berbagai penelitian dunia tentang fakta dunia-baca Indonesia. Menurut data yang dikeluarkan UNESCO pada tahun 2012, minat baca di Indonesia hanya 0,001 atau dari 1000 orang, hanya satu orang yang mempunyai minat baca yang serius. Bahkan menurut data terbaru yang dikeluarkan World‟s Most Literate Nations, yang
disusun oleh Central Connecticut State University tahun 2016, peringkat literasi Indonesia berada di peringkat 60 dari 61 negara, hanya berada di atas Bostwana, negara di kawasan selatan Afrika (Femina, 23 April 2016).

Masalah minat baca yang kurang ini jangan lagi diperparah dengan ketidakpedulian kita terhadap buku dan perpustakaan. Meski pada akhirnya kita harus akui bahwa muncul sikap apatisme terhadap perpustakaan, khususnya di Universitas Negeri Makassar (UNM). Perpustakaan yang sejatinya menjadi tulang punggung dan pusat ilmu pengetahuan, tidak mendapatkan perhatian serius dari birokrat kampus.

Jika menilik keyataan perpustakaan UNM yang saat ini terletak di gedung rektorat lama kampus Gunung Sari, maka patutlah kita untuk sedikit mengoreksi kembali “kepedulian‟ kita terhadap buku dan perpustakaan. Sebuah perpustakaan „universitas‟ yang hanya mengoleksi buku-buku tua dengan kuantitas yang kurang dari kata cukup. Koleksi buku perpustakaan kita begitu terbatas, bahkan banyak yang sudah tidak layak baca.

Ayahanda Rektor baru UNM, perlu Ayahanda ketahui, selain koleksi buku yang kurang mamadai, sistem di perpustakaan kita masih sangat bergantung pada sistem manual. Sesuatu yang mengherankan di tengah majunya teknologi dan infromasi, tetapi sistem yang kita gunakan masih begitu tertinggal. Daftar buku yang tidak teratur, lemari yang tidak penuh, kartu perpustakaan yang masih berbasis manual, serta sistem dan cara peminjaman yang juga masih manual.

Padahal salah satu poin dari visi-misi perpustakaan UNM adalah perpustakaan yang berbasis teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Isu-isu pembuangan skripsi ataupun karya ilmiah mahasiswa juga perlu untuk ditanggulangi UNM. Seperti yang kita ketahui bahwa beberapa bulan lalu, kasus “pembuangan skripsi” marak dibicarakan masyarakat, kita tentunya tidak ingin hal itu terjadi di UNM.

Maka salah satu solusi terbaik adalah digitalisasi setiap karya ilmiah mahasiswa, hal ini juga untuk mempermudah setiap mahasiswa melakukan akses terhadap penelitian-penelitian terdahulu. Itu semua demi kemajuan basis pendidikan kita di UNM, serta untuk menjaga karya-karya anakanak UNM. Pada akhirnya kita mengerucut pada beberapa hal sederhana yang harus dilakukan Rektor baru UNM untuk perpustakaan kita.

Solusi tersebut berupa penataan ulang buku serta koleksi perpustakaan, penambahan koleksi buku-buku yang terbaru dan berkualitas, digitalisasi karya ilmiah mahasiswa, serta sistem berbasis IT dalam pelayanan. Beberapa hal sederhana di atas perlu untuk dipertimbangkan sebagai langkah pasti untuk menciptakan perpustakaan yang baik.

Selain perpustakaan universitas, keadaan perpustakaan fakultas pun sangat memprihatinkan. Berdasarkan survei kecil-kecilan yang dilakukan oleh penulis, hanya ada beberapa fakultas yang memiliki kualitas dan kuantitas buku yang mamadai. UNM yang kita ketahui memiliki basis di fakultas, teryata keadaan perpustakaannya juga begitu memprihatinkan. Secara keseluruhan, kita butuh perubahan terhadap perpustakaan. Kebijakan-kebijakan yang menyangkut perpustakaan di universitas maupun di fakultas harus segara dikeluarkan oleh rektor baru.

Hal ini sebagai langkah awal untuk melihat civitas akademik membudayakan literasi di rumah kita sendiri, Universitas Negeri Makassar. Saya yakin, masih banyak orang yang masih peduli terhadap peradaban kita, orang-orang yang mencintai buku dan perpustakaan. Jauh hari sebelumnya, Milan Kundera sastwaran Ceko ini dalam bukunya Kitab Lupa dan Gelak Tawa sudah menghubungkan peradaban bangsa dengan buku, “jika ingin menghancurkan sebuah bangsa dan peradaban, hancurkan buku-bukunya; maka pastilah bangsa itu akan musnah”.

Kita tentunya tidak ingin berada di antara barisan orang-orang yang menghancurkan peradaban dengan wujud ketidakpedulian terhadap buku dan perpustakaan. Menjadi orang-orang yang lupa pada karya nyata dari pemikiran Gutenberg dan Ts‟ai Lun.Gagasan saya sepertinya terlalu sederhana, tetapi jika terjadi perubahan pada
perpustakaan UNM, saya yakin seluruh sivitas UNM akan merasakan efeknya.

Terutama bagi mahasiswa, ketersediaan buku dan sarana perpustakaan yang mamadai, akan memudahkan kita mendapat akses pengetahuan yang baru. Hal ini juga mempermudah mahasiswa untuk menemukan referensi-referensi akademik untuk menunjang proses perkuliahan di kampus. Maka, harapan kami ada pada ayahanda Rektor baru UNM, untuk melakukan trobosan sederhana untuk perpustakaan UNM melalui penataan, penambahan koleksi buku, digitalisasi dan sistem berbasis TIK.


Tulisan ini menjadi Esai terbaik dan mendapat Juara 1 pada lomba menulis Esai dengan tema “Untuk (Rektor Baru) UNM” sebagai rangkaian Hari Lahir Lembaga Pers Mahasiswa Profesi UNM yang ke-40 tahun.

*Penulis: Arlin, Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Sastra, Universitas Negeri Makassar.

Share and Enjoy !

0Shares
0 0