Awal tahun 2000-an telah berkembang gaya traveling di kalangan muda untuk menghemat biaya, mereka menyebutnya dengan istilah backpacking. (Foto: Int)
Awal tahun 2000-an telah berkembang gaya traveling di kalangan muda untuk menghemat biaya, mereka menyebutnya dengan istilah backpacking. (Foto: Int)
Awal tahun 2000-an telah berkembang gaya traveling di kalangan muda untuk menghemat biaya, mereka menyebutnya dengan istilah backpacking. (Foto: Int)

PROFESI-UNM.COM – Setiap orang mendambakan untuk bisa mengunjungi berbagai tempat wisata menarik di dunia. Namun, kebiasaan jalan-jalan alias travelling sejak dulu dianggap hal yang mewah, hanya orang-orang kaya yang biasa melakukannya. Seiring waktu, kini hampir setiap orang bisa mendatangi tempat-tempat yang mereka inginkan.

Keterbatasan dana bukan lagi menjadi persoalan utama. Awal tahun 2000-an telah berkembang gaya traveling di kalangan muda untuk menghemat biaya, mereka menyebutnya dengan istilah backpacking. Jika biasanya seluruh persiapan perjalanan memakai jasa tour agent, maka seorang backpacker melakukannya secara mandiri dengan mencari tarif transportasi dan penginapan yang termurah. Alhasil, kenyamanan tidak lagi menjadi hal yang utama.

Keberadaan maskapai lowcost bahkan membuat biaya ke luar negeri terkadang lebih murah dibandingkan perjalanan dalam negeri. Tidak heran, semakin banyak orang yang melakukan perjalanan kebeberapa negara dengan modal tidak sampai Rp 2 juta.

Saat inipun, kegiatan travelling malah didominasi kalangan mahasiswa. Tujuannya bermacam-macam, ada yang melakukan travelling semata-mata untuk liburan, dan tidak sedikit juga yang bepergian untuk mengenal lebih jauh tempat yang mereka kunjungi. Pada akhirnya, travelling menjadi gaya hidup bahkan suatu kebutuhan.

Traveling ala backpacker ini juga mulai merambah kalangan mahasiswa UNM. Beberapa dari mereka bahkan telah mengunjungi beberapa negara dengan biaya minim. Salah satunya Fajrianto Jalil, mahasiswa Prodi Administrasi Negara ini pernah menyusuri lima negara di Asia Tenggara hingga ke negeri tirai bambu, Cina melalui jalur darat.

Saat ditanya mengenai jumlah uang yang ia habiskan, Fajri sapaan akrabnya mengaku hanya menghabiskan budget Rp 7,5 juta. Jumlah tersebut sudah temasuk biaya transportasi (pesawat, bus dan kereta api), penginapan dan makanan selama 3 bulan.

“Saya memanfaatkan waktu promo untuk mendapatkan harga tiket yang murah, contohnya tiket ke Singapura dari Indonesia hanya Rp 170 ribu,” ungkap Fajri yang berencana ke Nepal dan India akhir tahun ini.

Hal yang memotivasi Fajri untuk travelling adalah keinginannya untuk mempelajari budaya dan kebiasaan masyarakat di luar Indonesia. Selain itu, menurutnya travelling membuat pikiran lebih terbuka dan memiliki sudut pandang yang lebih luas. Meski untuk mewujudkan hal itu ia harus bekerja sebagai pelayan sambil kuliah untuk mengumpulkan uang. (*)


*Reporter: Mentari Jati Pratiwi

Tulisan ini terbit di Tabloid Profesi Edisi 202 bulan April 2016

Share and Enjoy !

0Shares
0 0