Seminar nasional transportasi HMSP FT UNM di ruang teater menara pinisi UNM, Senin (11/11). (Foto: Ist)

PROFESI-UNM.COM – Himpunan Mahasiswa Sipil dan Perencanaan Fakultas Teknik Universitas Negeri Makassar (HMSP FT UNM) menggelar Seminar Nasional Transportasi, Senin (11/11). Kegiatan yang mengangkat tema ‘Manajemenen dan Inovasi Infrastruktur Untuk Mewujudkan Sistem Peradaban Transportasi Berkelanjutan yang Lebih Baik di Era Industri 4.0’ ini digelar di ruang teater Menara Pinisi UNM lantai 3.

Ketua HMSP, La Ode Zainul Syahputra mengatakan seminar ini ditujukan agar para mahasiswa mengetahui manajemen dan inovasi infrastruktur untuk sistem peradaban transportasi yang lebih baik. “Sebagai intropeksi diri bagi kita jika kita hari ini yang masih belum tertib sebagai pengguna jalan,” ujarnya.

Seminar nasional ini menghadirkan tiga orang pemateri. Diantaranya kepala pusat studi transportasi dan logistik UGM sekaligus ketua masyarakat transportasi Indonesia, Agus Taufik Mulyono, dosen FT UNM, Qadriathi Dg. Bau, dan Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Sulsel, Fahlevi Yusuf.

Di sela-sela materinya, Agus Taufik Mulyono mengatakan ada 3 hal komponen penting dalam transportasi yaitu simpul, ruang, dan pelayanan.

Simpul transportasi diantaranya terminal, pelabuhan, bandara, stasiun, pintu tol, halte, dan agen. Ruang transportasi seperti jaringan jalan dan jelan rel kereta api, jalur pelayanan, dan jalur penerbangan.

Kemudian pelayanan yakni travel time, waiting time, keselamatan, keterjangkauan biaya, kelancaran dan ketertiban, kemantapan, keadilan, kesehatan, dan kepastian hukum.

Selain itu, ia juga menjelaskan pilar dan sasaran perencanaan transportasi berkelanjutan. Tiga pilar yang ia jelaskan yakni ekonomi, sosial, dan lingkungan.

“Sasaran perencanaan transportasi berkelanjutan yakni keberagaman sistem transportasi, integrasi sistem transportasi, keterjangkauan, efisiensi sumber daya, pricing dan prioritas yang efisien dan efektif, aksesibilitas guna lahan, efisiensi operasional, serta perencanaan yang komprehensif dan inklusif,”

Sementara itu, Kadishub Sulsel, Fahlevi Yusuf mengatakan untuk menjawab perdaban transportasi berkelanjutan, maka perlu mempertimbangkan sembilan hal. Regulasi, SDM, data informasi, teknologi, mitigasi risiko, keputusan, infrastruktur, dan pelayanan.

Regulasi perlu tersedia, lengkap, tidak menghambat, dan legal. Kemudian antisipasi percepatan teknologi dan geopolitik.

“Walau sarananya baik, tetapi kita sebagai user/pengguna jalan tidak tertib berlalu lintas maka tidak akan ada peradaban transportasi yang berkelanjutan,” katanya.

Senada dengan itu, Dosen Teknik Sipil UNM Qadriathi Dg Bau menekankan kepada generasi milennial untuk menumbuhkan kesadaran tertib berlalu-lintas. Menurutnya, kecelakaan lalu lintas maupun pelanggaran lalu lintas di beberapa provinsi dilakukan oleh usia produktif atau generasi millenial di atas 50 persen.

“Generasi millenial perlu menyadari kedudukan sebagai penentu keberadaban transportasi yang berkelanjutan,” katanya.

Seminar nasional transportasi ini dihadiri oleh sekitar 600 orang peserta dari berbagai universitas baik S1, tingkat pascasarjana, berbagai instansi maupun konsultan.

Selain itu juga dihadiri oleh mitra mahasiswa Makassar, perwakilan dari lembaga-lembaga kemahasiswaan se-UNM, Dirlantas Polda Sulsel, ATKP Makassar, Perwwakilan BPTD Wilayah XIX Sulselbar, Balai Besar Jalan Sulsel, Perwakilan Kepala RS Bhayangkara, Dinas Perhubungan kab/kota se sulsel, serta perwakilan dari kantor syahbandar. (*)

*Reporter: Andi Dela Irmawati