Muh. Fahrul Haeri (Foto: Ist)


PROFESI-UNM.COM – Tanah airku adalah replika surga di dunia yang amat indah dan menjadi primadona dunia betapa luas lautannya, betapa subur tanamannya, dan betapa banyak kekayaan alamnya. Berbagai suku, bahasa, agama, dan rasa hidup berdampingan dan saling menghargai (katanya)yang menjadi salah satu daya tarik bagi negara lain. Pemimpinnya pun katanya sangat dipuji dan dihormati di negara lain bahkan tercatat menjadi salah satu pemimpin yang sangat populer( menurut versi mereka).

Inilah tanah airku yang amat kucintai dan kubanggakan sampai-sampai aku hormat padanya setiap hari senin dibawah terik matahari yang membakar sampai ke lapisan dalam kulit.

Dari tanah jawa gedung pencakar langit menghiasi sudut-sudut jalan dan berdiri perkasa bagaikan lelaki kekar yang sedang menggoda wanita, tembok beton berdiri kokoh bagaikan tembok cina yang amat mustahil dihancurkan hanya dengan sebutir peluru, dan suara kendaraan bersenandu bagaikan seorang seniman yang memainkan musik untuk menyenangkan telinga para pendengarnya.

Akan tetapi rakyat kecil semakin melarat dibawah kaki para keparat gedung pencakar langit yang berdiri perkasa itu adalah bekas tanah milik rakyat jelata yang dipaksa untuk menyingkir dari tanahnya dengan ancaman moncong senjata dan mobil lapis baja. Disana para konglomerat tertawa terbahak bahak sedangkan rakyat jelata merinti kelaparan, disana bangunan lebih penting daripada  mensejahterakan rakyat, disana teriakan perlawanan dibalas dengan gas air mata, disana mulut dibungkam dengan alasan –alasan yang tak jelas

Dari tanah borneo hutan membentang luas sejauh mata memandang dan menjadi paru-paru dunia. Satwa-satwa langka berkeliaran dan saling bersenda gurau diatas pepohonan dan saling menyayangi pada saat malam, kekayaan alamnya sangatlah banyak mulai dari batu bara, minyak bumi dan masih banyak lagi yang berada dalam perut bumi.

Akan tetapi hutan dibabat habis  demi kepentingan pribadi, satwa –satwa yang awalnya hidup tenang akhirnya terancam akibat pembakaran lahan yang membabi buta, dan kekayaan alamnya dikeruh demi memperkaya para kaum konglomerat dan rakyat kecil hanya menjadi budak yang digaji secukupnya. Apalagi tanah borneo sebentar lagi akan jadi ibukota negara yang tentunya akan banyak berdiri gedung-gedung pencakar langit.

Dari tanah sumatera kepulan asap menjulang tinggi ke angkasa dan menyesakkan nafas bahkan telah mencemari negara tatangga. Harimau sumatera hidupnya tak lagi tenang akibat industri fashion yang menggiurkan bahkan populasinya sudah mulai berkurang setiap tahunnya.  jadi jangan heran anak cucu kita kelak hanya mendengar dongen tentang harimau sumatera

Dari tanah celebes suara-suara kaum muda bergema di tengah jalan diiringi oleh kepulan asap dari ban bekas yang menambah semangat juang demi membela kaum yang lemah. Akan tetapi suara itu hanyalah suara kentut bagi para penguasa dan tak berarti apa-apa bahkan sering kali dibalas dengan pukulan dan ancaman akademik maupun penjara. Ditambah lagi sistem nepotisme masih mengakar dan tak kunjung punah.

Ditanah papua kekayaan melimpah dan menjadi aset negara tapi warganya malah dikatai monyet dan diusir dari tanahnya sendiri.


*Penulis adalah Muh. Fahrul Haeri, mahasiswa jurusan Pendidikan IPS angkatan tahun 2016 Fakultas Ilmu Sosial (FIS) Universitas Negeri Makassar (UNM)