Narapidana Wanita Lembaga Pemasyarakatan Kelas 1, Makassar sedang melakukan Expressive Writing pada (3/5) Foto: Ist

PROFESI-UNM.COM – Sebanyak 52 judul Proposal Pekan Kreativitas Mahasiswa (PKM) Universitas Negeri Makassar (UNM) lolos pendanaan. Hasil pengumuman keluar melalui laman resmi Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti), Rabu (20/3) lalu. 

Salah satu judul PKM yang dinyatakan lolos yaitu, Pemberdayaan Narapidana Wanita Melalui Metode Ekspressive Writing Untuk Mengatasi Masalah Trauma Psikologisoleh Astriyanti mahasiswi Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Proposal ini digarap bersama dua orangnya rekannya, Rahmatiah dari Jurusan yang sama dengan Astriyanti, dan Sry Wulandari mahasiswi Jurusan Bimbingan dan konseling. Alasan dirinya dan kawan-kawannya menyusun judul ini karena ia memang senang dengan dunia kepenulisan.

“Dengan menulis, rasa gundah,  kecewa ataupun sedih bisa saya salurkan melalui tulisan, bagi saya tulisan itu adalah obat. Kepenulisan bagi saya adalah sebuah hobi untuk menuangkan ekspresi dirinya. ” katanya.

Kemudian munculnya ide ini karena keprihatinan akan nasib narapidana wanita,  sebab berdasarkan penelitian, gangguan trauma psikologi narapidana wanita jauh lebih tinggi daripada laki-laki. Mahasiswa angkatan 2017 ini ingin hadir memberi solusi akan permasalahan itu. 

Tak ayal, hasilnya luar biasa karena ekspressive writing ini narapidana merasa rileks menjalani hari-harinya di Rumah Tahanan (Rutan), bahkan mereka merasa terbantu trauma psikologisnya karena ekspressive writingini.

Expressive Writing merupakan sebuah proses terapi dengan menggunakan metode menulis ekspresif untuk mengungkapkan pengalaman emosional dan mengurangi stress yang dirasakan individu sehingga dapat membantu memperbaiki kesehatan fisik, menjernihkan pikiran, memperbaiki perilaku dan menstabilkan emosi. tulisan dapat dituangkan dalam bentuk karya baik itu puisi, cerpen atau surat dan lainnya.

“Sederhanya, Expressive Writing adalah mengungkapkan isi pikirkan atau perasaan yangdialami oleh seseorang melalui tulisan tangan,” ujarnya.

Ia berharap metode ini dapat masalah psikologis para narapidana wanita,  mereka dapat mentata masa depannya lagi setelah mereka keluar dari sel tahanan. Selain itu, mereka dapat menghasilkan sebuah karya tulisan yang dapat menginspirasi banyak masyarakat sehingga kecil kemungkinan untuk melakukan tindak kriminal kembali. Lanjut, ia juga berharap metode ini mampu diterapkan diseluruh Lembaga Pemasyarakatan di Indonesia.

“Mudah-mudahan metode ini kedepannya menjadi solusi masalah psikologis narapidana wanita dan diterapkan diseluruh Rutan,” harapnya.

*Reporter: St Reski Amalia