(Foto: Ist)

Homoseksual adalah ketertarikan melakukan hubungan seksual dengan sesama jenis (pria dengan pria atau wanita dengan wanita), atau yang lazim disebut dengan gay jika dilakukan antara pria dan pria dan lesbi jika dilakukan oleh sesama wanita, (Sunaryo, 2004).  Homoseksual adalah ketertarikan seksual terhadap jenis kelamin yang sama. Ketertarikan seksual yang dimaksud adalah orientasi seksual yaitu kecenderungan seseorang untuk melakukan perilaku seksual dengan laki – laki atau perempuan. Homoseksualitas bukan hanya kontak seksual antara seseorang dengan orang lain dari jenis kelamin yang sama tetapi juga menyangkut individu yang memiliki kecenderungan psikologis, emosional, dan sosial terhadap seseorang dengan jenis kelamin yang sama.

Berbicara mengenai homoseksual, sejak zaman dahulu homoseksual sudah ada, hal ini dibuktikan dari beberapa kitab suci agama yang menjelaskan hal ini. Terlihat juga pada tahun 570, masyarakat Arab yang mayoritas Islam banyak yang bersifat phallosentrik (lebih mengistimewakan laki laki), sehingga banyaknya hubungan homoseksual terjadi, dan pandangan mengenai sex anal dibolehkan dalam Islam banyak berkembang di tahun ini (Spencer,2004:111).

Homoseksual yang saya angkat ditulisan ini yaitu kaum gay. Kaum gay modern saat ini juga memanfaatkan media sosial sebagai ruang tempat mereka berinteraksi. Kaum homoseksual merupakan bagian dari masyarakat yang keberadaanya masih sulit diterima terutama di Indonesia. Mereka menjadi bagian dari masyarakat yang terpinggirkan karena perilakunya yang dianggap menyimpang. Meskipun keberadaan mereka ditolak namun kenyataannya kaum homoseksual itu ada dan berinteraksi disekitar kita. Kaum homoseksual tertarik kepada sesama jenisnya. Ketertarikan tersebut kemudian diwujudkan melalui pencarian sesama jenis melalui beragam cara, salah satunya melalui media sosial.

Kaum gay memiliki cara tersendiri saat mencari pasangan yang disebut dengan istilah gay-dar, sebuah insting ketika menemukan seseorang yang juga gay. Ada pula yang sudah bergabung dalam komunitas khusus yang memang menampung para kaum gay. Namun, untuk beberapa yang masih discreet, belum mendeklarasikan dirinya sebagai gay di kalangan publik cenderung memilih mencari teman di jejaring sosial khusus untuk mereka. Indonesia memang masih terbilang sebagai Negara konservatif dalam hal penerimaan kaum gay. Namun, saat ini sudah banyak pasangan sesama jenis yang sudah mengumumkan hubungan mereka secara terbuka. Bagi mereka yang belum mempunyai pasangan, mereka akan mengunduh sebuah aplikasi yang menunjang dalam hal proses pengungkapan diri mereka di sebuah aplikasi yaitu Tinder, Grindr, dan lain-lain untuk saling berinteraksi, berkenalan, dan mendapatkan pasangan.

Perbedaan cara kaum gay dalam menggunakan aplikasi Tinder terletak pada pengaturan penemuan di Tinder. Dalam pengaturan penemuan terutama pada kolom jenis kelamin, terdapat tiga pilihan yaitu pria, wanita, serta pria dan wanita. Kaum gay akan mengatur ulang pengaturan penemuan dengan cara mengubah jenis kelamin penemuan ke pria, sehingga pada saat masuk ke tampilan utama, kaum gay akan menemukan Inner Circle yang sesama jenis, namun semua pria yang ter-innercircle belum tentu kaum gay juga. Sehingga, menariknya disini, peneliti ingin mengetahui bagaimana Self Disclosure kaum gay dalam mencari pasangan pada aplikasi Tinder.

Perkembangan media saat ini semakin pesat yang dibuktikan dengan munculnya berbagai aplikasi sosial media yang dapat digunakan oleh masyarakat dalam menunjang keseharian mereka. Diantara berbagai macam jenis aplikasi sosial media yang ditawarkan, juga muncul aplikasi sosial media yang diciptakan untuk mengakomodir atau memenuhi kebutuhan akan interaksi dan sosialisasi kelompok – kelompok tertentu misalnya kelompok gay.

Kaum gay adalah bagian dari masyarakat yang dianggap sebagai kelompok atau kaum minoritas dan terpinggirkan. Adanya stigma negatif yang melekat pada kaum gay karena apa yang mereka lakukan dianggap oleh sebagai besar masyarakat sebagai perilaku yang menyimpang dan tidak sesuai dengan norma agama, hukum, serta kebiasaan yang berlaku di Indonesia. Kaum gay sampai saat ini masih ada dan terus berekspresi dan berinteraksi melalui berbagai ruang sosial salah satunya melalui aplikasi yang memang khusus diciptakan untuk kelompok atau kaum ini. Beamer & Varner (2010), dalam bukunya intercultural communication menyatakan bahwa komunikasi adalah suatu proses penyampaian pendapat, pikiran, perasaan kepada orang lain yang di pengaruhi oleh lingkungan sosial dan budayanya.

Karakteristik aplikasi chating dalam media sosial ini sangat mewakili eksistensinya yaitu, partisipasi, keterbukaan, perbincangan, komunitas, dan keterhubungan. Selain beberapa karakteristik media sosial dalam hal ini dapat kita lihat pada aplikasi Grindr.

Dalam tulisan ini menggunakan beberapa teori pendukung , seperti : teori penetrasi sosial (sosial penetration theory).  Teori penetrasi sosial (social penetration theory) oleh Altman & Taylor merupakan salah satu teori yang digunakan oleh peneliti dalam memberikan penggambaran mengenai interaksi gay dalam menjalin hubungan personal melalui aplikasi Grindr. Keintiman di sini, menurut Altman & Taylor, lebih dari sekedar keintiman secara fisik dimensi lain dari keintiman termasuk intelektual dan emosional, hingga pada batasan di mana kita melakukan aktivitas bersama, West & Turner (2006). Artinya, perilaku verbal (berupa kata – kata yang digunakan), perilaku non verbal (dalam bentuk postur tubuh, ekspresi wajah, dan sebagainya), serta perilaku yang berorientasi pada lingkungan (seperti ruang antara komunikator, objek fisik yang ada di dalam lingkungan, dan sebagainya) termasuk ke dalam proses penetrasi sosial.

*Penulis adalah Nurfazila, Mahasiswa Prodi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial (FIS) Universitas Negeri Makassar (UNM) angkatan 2017.