Aan Mansyur saat membawakan materi Talk Show Literasi DJAa 2019 (Foto: Ilham-Profesi)

PROFESI-UNM.COM – Salah satu sastrawan nasional, Aan Mansyur kupas tuntas budaya literasi bangsa Indonesia. Saat ini, kata dia, kemampuan membaca tidak lagi menjadi tolok ukur literasi, utamanya di dunia digital.

Pria asal Kabupaten Bone itu mengatakan bahwa saat ini, jumlah orang yang tidak bisa membaca dengan yang tidak mau membaca itu sama. Hal tersebut ia ucapkan saat membawakan materi Tradisi Menulis Ala Milenial di Diklat Jurnalistik Abu-abu (DJAa) Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Profesi Universitas Negeri Makassar (UNM) di Ballroom Menara Pinisi, Kamis (7/3).

“Kalo kita ngomong literasi di dunia digital, kemampuan membaca tidak lagi menjadi tolak ukur literasi, kenyataannya jumlah orang yang tidak bisa membaca dengan yang tidak mau membaca itu sama besarnya,” ucapnya.

Ia mencontohkan sebuah buku yang pernah ia baca. Dalam buku tersebut, kata dia, disebutkan bahwa yang perlu kita takutkan adalah banyaknya orang-orang yang bisa menyembunyikan kebenaran dan tidak adanya lagi kekuatan untuk mengungkap kebenaran itu.

Terakhir, sastrawan nasional ini berpesan agar tidak mudah percaya pada sesuatu sebelum mencari sendiri kebenarannya.

“Jangan sampai hal yang kita cintai adalah hal yang akan menhancurkan kita,” katanya dalam Talkshow yang bertajuk “Narasi Kebenaran di Era Post Truth”. (*)

*Reporter: Andi Dela Irmawati