Presiden BEM UNM, Dwi Resky Hardianto (ujung kanan) saat memimpin jalannya aksi bisu tolak status BLU di UNM. (Foto: Muhammad Ilham Akbar. B - Profesi)
Presiden BEM UNM, Dwi Resky Hardianto (ujung kanan) saat memimpin jalannya aksi bisu tolak status BLU di UNM. (Foto: Muhammad Ilham Akbar. B – Profesi)

PROFESI-UNM.COM – Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Negeri Makassar (UNM), Dwi Resky Hardianto mengungkapkan bahwa demokrasi di kampus Oemar Bakri telah dipenjarakan.

Hal tersebut ia ungkapkan saat diwawancarai di setelah melakukan aksi bisu tolak status BLU di Jalan A.P. Pettarani depan Menara Pinisi, Kamis (20/12). “Demokrasi di kampus ini telah dipenjarakan oleh birokrasi,” ungkap pria yang akrab di sapa Ari itu.

Aksi tersebut merupakan bentuk penolakan status Badan Layanan Umum (BLU) di UNM. Pada aksi tersebut tak ada sorakan orasi yang dilontarkan oleh Koordinator Lapangan setiap Lembaga Kemahasiswaan (LK) maupun dari Jenderal Lapangan aksi.

Selain itu, ia mengatakan, pihaknya menolak bila UNM menerapkan sistem BLU. Pasalnya ia beranggapan kampus berakreditasi A tersebut masih perlu mengintrospeksi diri terlebih dulu.

“Sebelum beralih ke status BLU, birokrasi perlu membenah diri,” tutupnya.

Aksi bisu tersebut diikuti oleh enam LK tingkat fakultas. Antara lain, FIK, FIP, FE, FPsi, FT, dan FBS. (*)


*Reporter: Muhammad Ilham Akbar. B