Andi Juliandrie Abham, Mahasiswa Ilmu Admninitrasi Bisnis, Fakultas Ilmu Sosial (FIS), Universitas Negeri Makassar (UNM). (Foto: Ist)

PROFESI-UNM.COM – Universitas Negeri Makassar yang biasa disingkat dengan sebutan UNM adalah kampus yang melahirkan ratusan bahkan ribuan bibit bakal calon orang sukses di dunia ini. Sejatinya UNM sendiri memiliki lulusan-lulusan terbaik disetiap tahunnya yang mampu bersaing di setiap bidangnya di Indonesia, segudang prestasi sudah ditorehkan dari berbagai mahasiswa dari tahun ke tahun. Mungkin menimbah ilmu di kampus orange adalah cita-cita sebagian anak muda didalam maupun diluar Sulawesi Selatan, universitas yang dulu dikenal dengan sebutan IKIP Ujung Pandang ini selain dikenal sebagai tempat mencetak generasi-generasi penerus bangsa, juga dikenal sebagai universitas negeri yang memiliki infrastruktur kampus yang lengkap di kota Makassar. Bagaimana tidak, Bangunan phinisi yang tinggi dan megah menghiasi infrastruktur di universitas ini. Selain menara 17 lantai, sarana dan fasilitas umum yang diperlukan dan tersedia di kampus UNM antara lain Poliklinik, BNI Kantor Kas Pembantu UNM, Bank Mandiri Kantor Kas UNM, Auditorium, Masjid, tempat ibadah, Asrama mahasiswa, Guest House, sarana olah raga dan kesenian, kafetaria, kantin, toko dan koperasi, tempat parkir, dan wartel.

Bicara tentang sarana dan fasilitas di UNM yah mungkin sudah lengkap jika hanya dilihat sekilas. UNM, ketika disebut dengan namanya pasti akan terbesit bahwa tempat itu adalah kampus yang menjadi tempat menimbah ilmu dengan segala fasilitas yang dimiliki sangat memadai untuk mahasiswa dalam pembentukan karakter atau jati dirinya. Kenyataannya hanya sebuah halusinasi yang sudah berpolarisasi dalam pikiran calon mahasiswa.

Sungguh sangat disayangkan, ketika memasuki lingkungan universitas yang katanya “ NEGERI “ tetapi memiliki citra bak swasta. Jangan fasilitas yang memadai dalam kelas, jalan-jalan disepanjang kampus masih banyak yang rusak, parkiran motor hingga mobil tak beraturan disepanjang jalan. Terlalu banyak menerima mahasiswa sehingga di dalam satu kelas menampung lebih dari standar biasanya, kelebihan kapasitas akan membuat proses pembelajaran akan terhambat ditambah lagi fasilitas kelas yang berupa AC 2-3 buah memiliki kegunaan tidak semesti pada fungsinya tetapi hanya untuk memperindah ruangan saja. Toilet yang kurang bersih hingga janji-janji tentang penambahan kelas baru menghiasi sisi kiri kampus orange ini.

Tak salah rasanya jika menerima banyak mahasiswa baru disetiap tahunnya, hanya saja seharusnya pihak birokrasi mampu mengimbangi kebutuhan para mahasiswa dalam menimbah ilmu dengan menyediakan fasilitas yang berbanding lurus dengan uang kuliah tunggalnya. Selain fasilitas, juga terdapat kekeliruan yang sudah tertanam dalam setiap mahasiswa UNM tentang adanya uang kuliah tunggal atau yang biasa dikenal dengan singkatan “ UKT “ itu memiliki kekeliruan dimana kegunaannya tidak transparansi kepada para mahasiswa. Ingin menanyakan akan tetapi mahasiswa sudah tahu bahwa pihak birokrasi kampus mengeluarkan ucapan berupa “ janji “ tapi tak ada implementasi.

Sebagaimana yang dituliskan dalam cuitan twitter Bang Rocky Gerung yang mengatakan bahwa “ tak ada kaum radikal jika penguasa tak diskriminatif “. Nah, alih-alih berperan sebagai seorang ayah bagi anak-anaknya, birokrat kampus justru berperan sebagai kaki tangan rezim orde baru di lingkungan kampus. Mereka enggan dikatakan sebagai diktator agar merasa tetap menghargai akan tetapi ini hanya sebuah lelucon dan akan selalu teringat dalam benak mahasiswa. Apakah pantas seorang berpendidikan mengatakan, “ jika anda tak suka dengan sistem yang diterapkan di UNM, silahkan cari sistem yang lain“, suatu hal yang buruk yang pernah terlontar dari mulut seorang peemimpin. Bahkan tak alih-alih mengeluarkan kata-kata yang tak selayaknya itu terlontarkan ketika ditanya oleh mahasiswa di hadapan Bapak Gubernur Sulawesi Selatan, Bapak Walikota Makassar hingga Sang Motivator Mbak Najwa Shihab dalam acara Narasi Tv beberapa bulan yang lalu.

Ketika ditanya tentang pembelajaran dan fasilitas kampus ingin rasanya diri ini menolak untuk menjawab dan memilih diam saja agar tak ada yang keliru, menuliskan ini dengan rasa semangat yang tinggi meski ancamannya sangat fatal, yah inilah pilihan, berbagi tentang sisi kiri orange tercinta mungkin rasanya sah-sah saja selagi tidak melanggar kode etik penyebaran kebenaran yang selama ini ditutupi oleh kebohongan-kebohangan.


*Penulis adalah Andi Juliandrie Abham, Mahasiswa Ilmu Admninitrasi Bisnis, Fakultas Ilmu Sosial (FIS), Universitas Negeri Makassar (UNM)