Pembantu Dekan Bidang Akademik (PD I) Fakultas Teknik (FT) Universitas Negeri Makassar (UNM), Syahrul saat berpidato pada acara pengukuhannya di di ruang Teater lantai 3 Menara Pinisi, Rabu (25/4) - (Foto: Wahyudin - Profesi)
Pembantu Dekan Bidang Akademik (PD I) Fakultas Teknik (FT) Universitas Negeri Makassar (UNM), Syahrul saat berorasi ilmiah pada acara pengukuhannya di di ruang Teater lantai 3 Menara Pinisi, Rabu (25/4) – (Foto: Wahyudin – Profesi)

PROFESI-UNM.COM – Pembantu Dekan Bidang Akademik (PD I) Fakultas Teknik (FT) Universitas Negeri Makassar (UNM), Syahrul resmi dikukuhkan menjadi guru besar atau profesor. Pengukuhan tersebut berlangsung di ruang Teater lantai 3 Menara Pinisi, Rabu (25/4). Ia dikukuhkan dengan menerima jabatan profesor tetap dalam bidang ilmu Penelitian dan Evaluasi Pendidikan.

Pria kelahiran Dompu ini menyampaikan pidato yang berjudul PENYELENGGARAAN PENGUJIAN BERBASIS KOMPUTER DALAM LINGKUP DUNIA PENDIDIKAN DI INDONESIA: Perkembangan, Tantangan, dan Arah Inovasinya di Masa Depan.

Syahrul mengungkapkan bahwa di era teknologi digital ini, media pengujian dalam sistem pendidikan di Indonesia sudah menggunakan computer based test (CBT). Saat ini, peranan CBT mulai berangsur secara pasti menggantikan fungsi paper and pencil test (P&P test).

“Ini merupakan upaya pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia dalam rangka mempersiapkan generasi emas menghadapi tantangan globalisasi,” ungkapnya saat memberi orasi ilmiah.

Anak ketiga dari tujuh bersaudara ini pun menjelaskan bahwa jika sistem P&P test digunakan untuk mengukur kemampuan kognitif, sikap ataupun minat peserta ujian. Sementara jika CBT menggunakan komputer untuk melakukan tes prestasi, tes kesehatan, sampai tes kejujuran.

“P&P test menggunakan lembar kerta baik untuk naskah ujian dan lembar jawaban, serta pensil. Sementara untuk CBT hanya menggunakan komputer,” tambahnya.

Saat ini, lanjut Syahrul, sistem ujian nasional sudah mulai berbasis komputer. Dilingkup pendidikan, model ini mulai dicanangkan sejak tahun 2014. Perkembangan model ini sekarang sudah melibatkan 34 provinsi di Indonesia.

“Sejauh pengamatan saya, perkembangan model pengujian CBT mengalami stagnasi baik dilihat dari bentuk model pengujian maupun dari cara mengukur hasil capaiannya,” ucapnya. (*)

[divider][/divider]

*Reporter: Wahyudin