Dirjen Belmawa Kemenristekdikti, Intan Ahmad saat membawakan orasi ilmiah dalam peringatan Dies Natalis ke-56 UNM. (Foto: Dasrin-Profesi)
Dirjen Belmawa Kemenristekdikti, Intan Ahmad saat membawakan orasi ilmiah dalam peringatan Dies Natalis ke-56 UNM. (Foto: Dasrin-Profesi)

PROFESI-UNM.COM Perguruan Tinggi (PT) sebagai satuan pendidikan penyelenggara pendidikan tinggi memang memiliki kewajiban untuk mengemban Tri Dharma PT. Utamanya, dalam poin satu.

Pendidikan dan pengajaran sudah mesti dilakukan oleh PT dalam mewariskan ilmu pengetahuan kepada mahasiswa. Tentu saja agar kelakdipergunakan saat telah lulus nanti.Akan tetapi, di dalam prosesnya. Sering saja terjadi masalah yang kerap menganggu kegiatan akademik mahasiswa. Kualitas mutu PT lantas kemudian dipertanyakan. Adanya penjaminan mutu menjadi salah satu bentuk pengawasan terhadap kualitas mutu yang selalu menjadi masalah. Pihak penjamin mutu pun dituntut mengawal hal tersebut.

Berikut hasil wawancara Reporter Profesi, Andi Asoka Ulfa dengan Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa), Intan Ahmad terkait penjaminan mutu perguruan tinggi.

Siapa yang melakukan penjaminan mutu di setiap perguruan tinggi?

Yang melaksanakan itu dari sistem penjaminan mutu internal. Terus bisa beri sedikit penjelasan, bagaimana sih tugasnya? Sistem penjaminan mutu internal dikatakan sudah berjalan, seperti memeriksa apakah dosen mengajar dengan baik, apakah materi ajarnya sesuai dengan janji yang diberikan. Jadi ada proses, ada input ada prosesnya.

Apakah hanya dari faktor akademik saja?

Oh semua, misalnya ada yang melakukan evaluasi apa dosen mengajar sesuai dengan sapnya. Satu semester itu berapa kali pertemuan, bagaimana penilainnya.

Misalkan penjaminan mutu sudah melakukan tugasnya dengan baik. Lalu menurut anda, bagaimana kita bisa melihat hasilnya terhadap mutu PT?

Macam- macam, tergantung publikasi, misalnya dosen yang berkualifikasi doktor bagaimana, kerjasama, internasionalnya bagaimana. Jadi ada kriteria umum. Misalnya mahasiswa ingin memperoleh proses pembelajaran yang baik mulai semester satu sampai akhir anda mengetahui kompetensi. Kalau mengerjakan tugas apakah dikembalikan atau tidak, misalnya dapat nilai A, B atau C tahukah kenapa. Jadi harus dikembalikan, jadi proses dan output. Kan anda tau kriteria kualitas biasanya apa? Indeks prestasi kan, tapi apakah indeks prestasi sarjana yang benar. Misalnya anda sarjana bahasa inggris tapi begitu ujian toefl 500 aja ga nyampe kan jadi di pertanyakan. Kalau lulus jadi sarjana IPK tinggi mau daftar pasca sarjana apakah lulus atau tidak.

Untuk tips, apakah ada cara meningkatkan kualitas mutu PT itu bagaimana?

Misalnya saja kualitas mahasiswa, kualitas pembelajaran mengacu pada standar nasional perguruan tinggi jadi harus ada standar nasional. Supaya kalau misalnya saya belajar biologi bagaimana menghasilkan sarjana biologi yang terstandar jangan pula kita menghasilkan sarjana biologi yang sebutlah IPK tinggi tapi ternyata kompetensinya berbeda adari kampus yang lain.

Harapan anda terhadap universitas yang bisa dikatakan dapat penjaminan mutu yang bagus?

Kalau memang baik, patut kita beri apresiasi sehingga dapat menjadi motivasi bagi universitas lain. Yang lain bisa bertanya kenapa yang lain bisa. (*)

*Tulisan ini terbit di Tabloid Profesi edisi 219