Redaktur Senior Tirto.id, Sarfah Fahri Salam. (Foto: Masturi-Profesi)
Redaktur Senior Tirto.id, Sarfah Fahri Salam. (Foto: Masturi-Profesi)

PROFESI-UNM.COM – Di zaman sekarang ini, kebutuhan masyarakat akan informasi sudah kian meningkat. Keingintahuan mereka seputar kejadian dan permasalahan yang ada saat ini pun sangatlah besar. Tak ayal, jika media terus menggenjot menghasilkan pemberitaan yang bisa memenuhi kebutuhan pembacanya.

Meski begitu, media acap kali melupakan data dalam berita. Sebab, hal tersebut menjadi bagian terpenting agar berita makin aktual dan dipercaya dimata pembaca. Pengolahan data untuk berita pun dibutuhkan, dengan tujuan memberi informasi yang jelas dan akurat. Berikut hasil wawancara Reporter Profesi, Masturi dan Wahyudin dengan Editor Tirto, Sarfah Fahri Salam.

Kenapa sih data itu penting dalam berita?

Data itu hal yang paling penting dalam berita bahkan sebelum berita online muncul, itu sudah digunakan untuk memperkuat pemberitaan. Data itu kan sangat penting, data itu kan bisa apa aja. Kita butuh data itu sebagai sampel dan bisa bercerita.

Untuk membuat data menarik itu bagaimana?

Generasi saat ini lebih suka secara visual jadi kalau kalian ingin membuat orang membaca data kalian. Kalian harus membuat data itu dalam bentuk video.

Bagaimana sih mengelola data untuk sebuah berita?

Kalau mengolah data itu jangan mengambil dari satu bagian saja. Usahakan tambahkan variabel lain misalnya yang jadi guru berapa, yang jadi PNS berapa, yang tidak bekerja berapa, dan masih banyak yang lainnya. Serta cara pengolahan datanya tidak mungkinkan di telpon satu-satu, makanya kita perlu orang ahli di bidang statistik.

Kalau di Tirto sendiri, itu kan kebanyakan data dan diubah menjadi narasi, terus cara mengubahnya itu bagaimana?

Kalau kami itu kebanyakan data yang di tampilkan kayak gaya feature gitu. Jadi kalo kalian buat riset usahakan wawancara juga sih, satu atau dua orang untuk memperkuat data. Jadi harus pake cerita mereka, karakter yang mengalirkan cerita kalian. Jangan cuma menggunakan pernyataan atau angka-angka semua.

Terus untuk mendapatkan data itu dimana?

Kalau data itu pastinya kita masih mengandalkan data dari pemerintah atau instansi yang bersangkutan. Nah kelemahan di Indonesia itu, belum ada tempat yang menyediakan semua data yang sudah kredible dia akurat atau tidak.

Selain dari pemerintah, ada lagi?

Kita juga bisanya diberikan data oleh sumber anonim, Kalau kita dapat data seperti itu tentunya harus di cross check lalu kita olah dan mencari orang untuk mencari studinya.

Kalau dapat data seperti itu, siapa yang harus di konfirmasi?

Tentunya harus pelakunya dahulu, walaupun dia membantah, ya kita bantah lagi kan kita suda punya data. Dalam jurnalisme itu kita tidak mungkin menangkap ikan yang besarnya dahulu kita mestinya cari yang kecilnya dulu. Yaitu kalau dapat data kita harus cari komentar dari orang sekitarnya dahulu lalu kita kepalakunya.

Terus kalau masalah yang biasa didapat ketika mengelolah data itu seperti apa?

Problem soal data itu nanti di uji apakah berbohong atau tidak. Data juga itu harus bisa dibaca oleh orang jangan sampai kalian olah data dan tidak bisa dibaca oleh orang lain. Kita juga harus bisa membuat data itu bercerita.

Sedangkan infografis itu apa sih dalam berita?

Info grafis itu cuman ngambil inti sari dari data itu sendiri. Dalam data itu kita harus wawancara jadinarasumber itu akan menyalurkan cerita kalian.

Mengelola data dan diubah menjadi infografis itu caranya bagaimana?

Kalau responden itu harus pake sampel, makanya kita butuh orang statistik. Karena kalau kita cuman nyebar angket itu biasanya orang akan bohong.(*)

*Tulisan ini terbit di Tabloid Profesi Edisi 219