Cut Mini, Aktris. (Foto: Resa-Profesi)

PROFESI-UNM.COM – Jatuh bangun dunia perfilman Indonesia sejak pertama kali film diperkenalkan pada 5 Desember 1900 di Batavia tak luput dari catatan sejarah. Sempat terpuruk selama dua dekade (1980-1990an), insan film Indonesia tak berkutik akibat arus film impor, dana, sumber daya manusia hingga kebijakan pemerintahan.

Gairah baru industri perfilman mulai muncul kembali dengan munculnya sineas-sineas di era millenium. Diikuti munculnya kualifikasi aktor/aktris yang semakin profesional juga menambah semangat baru di industri perfilman Indonesia.

Lantas, seberapa penting peran anak-anak muda Indonesia turut mengembangkan kualitas film karyanya sendiri untuk bersaing di kancah Internasional?

Berikut wawancara khusus Reporter Profesi, Nurul Charimawaty S dengan aktris senior, Cut Mini disela-sela acara “The 5 min Video Challenge“ yang digelar oleh Telkomsel pada 24 Agustus lalu di Ruang Teater Menara Pinisi UNM.

Dari sudut pandang mana saja sebuah film itu bisa diambil?

Sebenarnyakan kehidupan kita sehari-hari tuh banyak ceritanya. Setiap menit setiap detik ada cerita. Tapi kalau orang-orang yg bikin film pasti setiap menit setiap detik tuh bakal jadi cerita, diginiin aja gitu.

Bagaimana dengan tema?, Apakah ada ketentuan khusus perfilman dalam mengambil tema?

Jadi tema itu apa aja bisa, gak cuma harus tentang kehidupan pribadinya, ntah dalam keadaan itu dia lebih sakit hati, atau dia lagi pengen bunuh diri atau dia pengen nangis itu semua bisa diceritain.

Bagaimana trik sebuah film bisa menyampaikan suatu pesan jika dibatasi dengan durasi?

Mm gini, kalau saya kan kurang paham yang gituan (read: penyutradaraan) saya cuman bisa main. Dalam satu film ada acting dan editing. Mungkin tadi itu filmnya sebenarnya satu jam, tapi hanya kita butuhnya 20 menit misalnya jadi gak diambil semuanya. Potong potong potong selagi diceritain nyambung nyambung nyambung jadi lima menit sperti itu dan mungkin akan nyambung jadi satu cerita.

Lantas, bagaimana dengan durasi lima menit. Apakah itu cukup untuk menyampaikan pesan secara kompleks?

Sebenarnya saya belum pernah sih dikasi film pendek lima menit. Tapi kalau anak2 sekarang sih kalau dikasi waktu mah menit mungkin jadi gitu loh. Karena antusias mereka untuk berkarya. Jadi kalau lima menit bikin ceritanya yang sederhana, tapi karakternya yang kompleks gitu. Jadi dengan lima menit ini bisa menjadikan sesuatu yang baik. Gak lima menit semuanya masuk, ada ibunya ada kakeknya ada neneknya gak bisa, itu mah hitungan jam.

Menurut anda, pembuatan film pendek berdurasi lima menit bisa digarap anak-anak muda tanpa basic perfilman?

Buat video lima menit, ya seperti yang saya bilang tadi anak sekarang tuh udah canggih-canggih kan. Mereka tuh dikasi kesempatan. Apalagi dia pikir kesempatan buat film
cuma lima menit atau segala macem, pasti mereka akan mencoba. Gak ada kesempatan pun dia akan mencoba.

Bagaimana sih tips yang paling ampuh untuk membuat sebuah karya film meski dibatasi oleh durasi?

Pastinya bila mengerjakannya dengan hati. Sesuatu yang dikerjakan dengan hati pasti bisa menjadi sebuah karya begitukan. Pastinya anak-anak sekarang, karena emang
dia suka dengan dunia film yah pasti lima menit itu bisa jadi sebuah karya.

Ada saran untuk pengembangan kreasi perfilman khususnya di kalangan mahasiswa?

Kalau dikatakan saran ya pastinya anak mahasiswa sekarang ya terus berkarya dan akan menghasilkan sesuatu yg baik gitu. Jadi terus aja bikin, mau lima menit kek, sepuluh
menit kek. Yang suka nyanyi ya nyanyi, yg suka film film ya bikin film apa segala macem terus aja dikembangkan. Kreatiflah dalam buat film. Mau itu film durasi pendek maupun film durasi lama, skala layar lebar, yah tidak usah diragukan lagi kemampuannya. Sisa di asah dan dikembangin aja. (*)

*Tulisan ini terbit di Tabloid Profesi Edisi 218