M. Yunasri Ridho, Mahasiswa Jurusaan PPKn (Ketua Maperwa UNM). (Foto: Ist.)
M. Yunasri Ridho, Mahasiswa Jurusaan PPKn (Ketua Maperwa UNM). (Foto: Ist.)

PROFESI-UNM.COM – Seperti benih, pikiran mahasiswa itu dirawat melalui tiga dunia: dunia pergerakan, dunia perkaderan dan dunia perkawanan. Pergerakan mengajarkan arti pengorbanan, perkaderan menanamkan tradisi ilmiah dan perkawanan menciptakan solidaritas. Tiga-tiganya menempa jiwa, membentuk pengalaman dan meneguhkan tekad. Itulah kenapa, hiduplah sebagai pendidik, pemimpin dan pejuang karena itu akrabkanlah dirimu dengan aktivitas belajar, berorganisasi dan berjuang.

Sebagai pembuka saya ingin memulai dengan ucapan “selamat datang untuk kalian kawan-kawan para Mahasiswa baru”. Kami turut berbahagia tetapi juga berduka atas kedatangan Anda-anda semua. Pertama, berbahagia karena kami berharap mudah-mudahan kedatangan Anda, menjadi titik awal bagi untuk mengasah, mengasih dan mengasuh diri menjadi pribadi yang semakin berkualitas, sederhana dan bijaksana. Dan itu berarti kehadiran Anda di kampus ini menjadi jembatan yang akan menghantar Anda untuk menjadi petualang, pejuang atau martir pelaku perubahan di keluarga, masyarakat, bangsa bahkan dunia nantinya. Kedua, berduka karena saya percaya bahwa banyak diantara Anda yang masuk kampus ini bisa jadi berasal dari anak keluarga pengayuh becak, petani, nelayan, atau buruh. Sedang, untuk menjadi mahasiswa mesti mengeluarkan biaya yang mahal. Atau boleh jadi ada yang masuk kampus ini dengan menjual sawah di kampung, masuk kampus ini dengan meminjam ke rentenir di desa, masuk kampus ini dengan ketidak pastian biaya hidup sehari hari. Atau pada akhirnya masuk kampus ini, dengan peluh karena harus bekerja sehabis kuliah, misalnya bekerja sebagai buruh pencuci motor atau jasa pengantar anak-anak ke sekolah.

Memasuki kehidupan kampus dan menyandang gelar Mahasiswa, tentu tidaklah mudah. Ada begitu banyak tugas dan tanggungjawab yang mesti Anda emban. Dan itu mesti Anda lalui. Mengapa demikian? Karena hakikatnya, mahasiswa adalah orang muda, orang terdidik dan orang tercerahkan, di dalam dirinya ada cita-cita, ada mimpi, ada semangat perubahan, ada hasrat perjuangan. Bangsa indonesia sudah membuktikan itu. Sejarah indonesia bahkan sejarah dunia adalah sejarah orang muda. Setiap fase sejarah kebangsaan selalu diisi, digerakkan oleh orang-orang muda. Revolusi kemerdekaan 1945 adalah bukti nyata kekuatan kaum muda. Para founding fathers generasi awal yang membangun pondasi perjuangan kemerdekaan adalah orang muda di masanya, kita mengenal HOS. Tjokroaminoto, Ahmad Dahlan, Hasyim Asy’ari, Tan Malaka, Agus Salim, Moeso, RA Kartini, Dewi Sartika, Semaoen, Misbach dll. Mereka-merekalah yang memulai pergerakan nasional. Dari mereka para pemuda revolusioner-pendiri bangsa seperti; Soekarno, Hatta, Syahrir, Yamin, Natsir dll lahir dan belajar. Para pemuda itulah yang menggerakkan bangsa Indonesia sampai ke dalam gerbang kemerdekaan.

Dan sejarah orang muda ini terus berjalan, tercatat dalam lembar-lembar sejarah kebangsaan. Ketika orde lama mulai diktator dan terjangkit penyakit kekuasaan, kaum muda kembali bersuara lantang, menyeru dan menggerakkan massa rakyat untuk menuntut Soekarno mundur dari tampuk kekuasaannya. Mereka menyeru bahwa generasi tua yang mengacau harus dibasmi. Akhirnya perjuangan itu berbuah hasil, orde lama tumbang, berganti orde baru. Tetapi ternyata, cita-cita, perjuangan kaum muda itu kembali terkhianati. Romantisme orang muda dan rezim orde baru tidak berumur panjang. Kaum muda mulai curiga, gerah, dan marah atas watak penguasa rezim orba. Rupa-rupanya orde baru lebih kejam dari rezim sebelumnya. Kejahatan kemanusiaan menjadi-jadi, hak asasi dilanggar—kebebasan berpikir, berpendapat, berserikat dilarang. Lebih dari tiga juta orang disiksa, dibunuh, dibuang, dipenjara tanpa proses peradilan—. Hukum menjadi alat legitimasi penindasan, agama dan pendidikan menjadi alat doktrinasi untuk mempertahankan status quo kekuasaan. Akhirnya, kaum muda kembali bersuara. Mereka marah, gejolak terjadi di mana-mana. Dari waktu ke waktu perlawanan terus digaungkan. Aksi golput 71, peristiwa malari (Malapetaka 15 Januari) 74, penolakan NKK/BKK 78, penolakan asas tunggal pancasila 83, peristiwa Amarah (April Makassar Berdarah), dan puncanya reformasi 98. Akhirnya, di tangan orang muda, para mahasiswa yang mengorganisir diri bersatu bersama rakyat berbuah tumbangnya orde baru, rezim modal-rezim sedadu akhirnya lengser.

Ternyata setelah orde baru bubar, orde reformasi juga mengulang kesalahan yang sama. Janji-janji kemerdekaan hanya menjadi teks-teks bacaan di setiap kali upacara bendera. Kaum muda kembali bersuara, menyeru perlawanan. Itu terbukti ketika para pemuda-mahasiswa kembali turun kejalan menolak UU No. 9 tahun 2009 tentang BHP, yang akhirnya di tahun 2010 setelah mendapat perlawanan dan melalui proses judicial revieu di MK, UU BHP dibatalkan dengan alasan bertentangan dengan konstitusi. Tetapi ternyata rezim neolib reformasi tidak kehabisan akal, pada tahun 2012 mereka kembali menerbitkan UU No. 12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi yang masih membawa semangat UU BHP; liberalisasi dan komersialisasi pendidikan. Kemasannya saja yang berbeda, tetapi esensinya sama saja. Dari sinilah sistem UKT-BKT lahir, yang menjadi legitimasi menaikkan biaya kuliah dan membentuk strata sosial di dalam kampus. Karena itu, para pemuda kembali dituntut agar mengorganisir dirinya, mengawal dan memperjuangkan bangsa ini untuk tetap berjalan di atas rel falsafah bangsa dan konstitusi. Masih banyak janji kemerdekaan yang tak kunjung tuntas—merdeka, bersatu, berdaulat, adil, makmur, mencerdaskan kehidupan bangsa, memajukan kesejahteraan umum dan melaksanakan perdamaian dunia. Janji-janji inilah yang mesti kaum muda terus perjuangkan. Itulah kenapa, ketika ada yang mengatakan bahwa mahasiswa tugasnya hanya kuliah, tidak usah berorganisasi, tidak boleh mengkritik. Maka, katakan TIDAK. Kaum muda, para mahasiswa harus bersuara lantang ketika terjadi penindasan, ketidakadilan, atau perampasan hak. Karena itu bukan hanya tanggungjawab kemahasiswaan tetapi juga tanggungjawab kemanusiaan.

Tetapi, Anda harus paham bahwa menyuarakan dan memperjuangkan kebenaran tidaklah mudah, modal niat dan semangat saja tidaklah cukup. Anda mesti memperkaya diri dengan modal intelektual, militansi dan kepekaan sosial. Karena itu, Anda harus mengakrabkan diri dengan aktivitas membaca, berdiskusi, meriset dan menulis agar keilmuan Anda semakin kaya. Anda juga mesti sering-sering terlibat dalam kerja-kerja advokasi, pendampingan-pendampingan kasus, pengawalan isu-isu tertentu, agar militansi dan kepekaan sosial Anda terasah. Sering-seringlah mencuri waktu tidur Anda untuk belajar, memikirkan dan memperjuangkan kebenaran. Banyak-banyaklah mencuri uang belanja pulsa, kuota internet, karaokean, games untuk beli buku-buku bacaan. Itu lebih produktif bagi Anda.

Pesan kami, ber-idealisme atau ber-aktivisme itu haruslah proporsional. Silahkan ber-idealisme terhadap dunia luar, tapi ingat idealisme tersebut harus dibarengi dengan mimpi-mimpi tentang pribadi di masa depan. Itu mesti diseimbangkan. Karena dengan itu Anda akan menjadi pribadi yang baik disaat yang sama juga menjadi pribadi yang berguna bagi yang lain. Jadilah mahasiswa yang berpikiran dan bertindak terbuka, berkawanlah dengan siapapun, tidak penting apa latar status sosialnya, Tuhan apa yang disembah, seperti apa warna kulitnya, atau bagaimana berbahasanya. Tetapi yang lebih penting adalah bagaimana Anda menjadi pribadi mahasiswa yang senantiasa mentransformasikan diri untuk terus menjadi pribadi yang lebih baik dan berguna bagi sesama. Karena itu kami mengharapkan Anda-anda semua tidak menjadi mahasiswa yang hanya terkurung dalam 6 tembok “kuliah, kos, kakus, karokean, kantin dan kampung” tetapi lebih dari itu, Anda mesti menjadi mahasiswa yang senantiasa haus akan pengetahuan, dan terus resah atau gelisah dengan kondisi bangsa, rakyat, manusia global dan alam yang semakin rusak dan jahiliah.

Sekali lagi kami sampaikan Selamat datang untuk Anda semua para mahasiswa baru. Selamat berproses, selamat bermimpi, selamat berjuang dan selamat berpetualang. Sekali lagi kami berpesan, jadilah manusia (mahasiswa) yang merdeka dan memerdekakan. Perhatikanlah kondisi di sekelilingmu dan sering-seringlah periksa hati nuranimu. Ingat, tugasmu adalah untuk bersekutu dengan kaum tertindas, dan bekerja untuk menghancurkan segala bentuk nafsu-nafsu kebinatangan; keserakahan, kesewenang-wenangan, ketidakadilan. (*)


*Penulis adalah M. Yunasri Ridho, Mahasiswa Jurusaan PPKn (Ketua Maperwa UNM)