Redaktur investigasi Tempo, Wahyu Dyatmika. (Foto: Dok. Profesi)
Redaktur investigasi Tempo, Wahyu Dyatmika. (Foto: Dok. Profesi)

PROFESI-UNM.COM – Pers Mahasiswa (Persma) memiliki peran penting dalam perkembangan jurnalistik saat ini. Hal tersebut karena persma memiliki andil besar dalam melahirkan banyak Jurnalis muda. Profesi Jurnalis ini pun dinilai cukup menjajikan. Meski demikian, menjadi seorang jurnalis membutuhkan keberanian yang besar. Berbagai macam resiko siap dihadapi seorang Jurnasis.

Sebagai seorang yang berpengalaman di dunia jurnalistik, Redaktur Bidang Investigasi Harian Tempo, Wahyu Dyatmika pun membagikan pengalamannya selama menjadi jurnalis.

Berikut kutipan wawancara Reporter Profesi, Resa Saputra dengan Wahyu Dyatmika usai membawakan materi Jurnalisme Data di Pelatihan Jurnalisttik Tingkat Lanjut Nasional (PJTLN) Suara Kampus IAIN Imam Bonjol Padang, Sumatera Barat.

Bagaimana pandangan anda terhadap profesi Jurnalis?

Menjadi seorang Jurnalis seru. Banyak pelajaran kita dapatkan. Tidak cukup dengan modal berani saja, kita juga buth perpaduan antara hati dan otak.

Apakah anda pernah mengalami situasi yang beresiko saat menjalankan tugas sebagai Jurnalis?

Ia pernah. Selama 15 tahun saya menjadi Jurnalis, satu peristiwa yang betul-betul menguji adrenalin terjadi di Aceh. Saat itu saya ditugaskan dari kantor untuk peliputan disana, peristiwa kala itu antara pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

Bagaimana cara anda menghadapi situasi seperti itu?

Saya beranikan saja. Pernah kami ditahan selama beberapa hari karena dilarang melewati daerah yang menjadi pusat bentrokan. Intinya kita berani, untuk mendapat kesuksesan itu memang butuh pengorbanan besar terlebih dahulu.

Lalu bagaimana pandangan anda terhadap Jurnalis di Makassar, khususnya Pers Mahasiswa (Persma)?

Saya memperhatikan sejauh ini mereka cukup aktif, terlebih lagi pergerakan mahasiswa di Makassar kan sangat agresif (demonstrasi).

Bagaimana dengan LPM Profesi?

Untuk LPM sekelas Profesi yang berdomisili di UNM, mereka cukup eksis. Senantiasa memperlihatkan ruh seebagai lembaga pers.

Menurut anda, apa tantangan persma saat ini?

Sekarang persma sedang di uji, ancaman pembredelan seringkali terdengar saat mereka mencoba mengangkat isu-isu kampus yang sensitif.

Bagaimana cara agar persma bisa bertahan dari ancaman pembredelan?

Caranya, Persma harus meningkatkan profesionalitasnya dalam menerbitkan berita. Harusnya Persma lebih sering berkomunikasi dengan mahasiswa agar tahu kebutuhan berita yang diinginkan di kampus.

Apa pesan anda untuk Pers Mahasiswa?

Saya tahu betul bagaimana persma sekarag rentang akan intervensi. Namun bagaimanapun hambatannya, mereka harus berani memberitakan meskipun hal itu dapat membuat marah pihak kampus. Sekali lagi, sikap berani harus dipegang teguh. Jangan takut terkekang, karena sekarang era keterbukaan.

Berikut biodata singkat Wahyu Dyatmika

Nama: Wahyu Dyatmika
Ttl : Denpasar

Pendidikan:

S-1 Universitas Airlangga
S-2 Harvard University

Karir:

Pengurus AJI 2014-2017
Redaktur Investigasi Tempo. (*)


*Tulisan ini terbit di Tabloid Profesi Edisi 211