Enaldi Mahasiswa Ilmu Administras Bisnis FIS UNM angkatan 2016

PROFESI-UNM.COM – Abad ke 21 diramalkan sebagi puncak peradaban umat manusia. Zaman ini mengalami goncangan dari semua sektor sehingga menimbulkan perubahan besar-besaran. Era ini dilihat sebagai peluang yang nyata oleh generasi milenialis, namun berbeda dengan generasi pendahulunya yang memandang perubahan ini sebagai ancaman yang selalu menghantui. Generasi pendahulu yang hanya stagnan atau hanya bergerilya pada comfort zone layaknya orang-orang yang berada di dalam terowongan yang tidak mampu membaca situasi yang sedang terjadi diluar lingkarannya. Mereka terkesan menolak perubahan yang amat begitu cepat.

Generasi milenialis yang lahir antara sebelum dan setelah pergantian milenium (Kasali 2017) yang dianggap sebagai anak tiri oleh generasi pendahulunya karena ia datang bersama dengan sejumah penghancuran. Kaum muda generasi langgas datang dan menciptakan kapasitas baru yang lebih empowring innovation seperti mata Tuhan dengan kemampuan mengkoneksikan segala sesuatu yang tidak pernah dilihat oleh generasi sebelumnya. Bukan tanpa sebab ia di cap sebagai pemberontak oleh kakaknya, karena terlalu ugal-ugalan atau liar dalam mengeksplor idenya hingga meluluhlantakkan tatanan kehidupan yang telah dibangun dengan kokoh sebelumya.

Generasi ini diyakini akan membawa semangat baru karena sedari kecil dia sudah akrab berbagi dan bermain di dunia digital. Mereka hadir bukan tanpa tantangan, sebab ia merasa lebih bebas dan terlepas dari aturan-aturan yang membelenggu. Sehingga kurang hati-hati dalam bertindak, terlalu berambisi, mudah bosan dan materialistis. Tetapi jangan lupa, ia lebih berpendidikan dan memiliki networking sumber daya dan informasi sehingga dengan mudah mereka berkolaborasi untuk menciptakan sesuatu yang baru. Gojek misalnya, dulu kita hanya bisa menemui tukang ojek yang mangkal di perempatan jalan ataupun di wilayah tertentu. Pelanggan kerap kali kerepotan jika ingin berpergian dan menggunakan jasa ojek karena harus jalan kaki terlebih dahulu ke tempat tukang ojek mangkal. Hal inilah dilihat sebagai mata rantai perekonomian yang jika dipoles menggunakan teknologi maka akan menciptakan lahan perekonomian yang baru. Dengan mengkoneksikan antara tukang ojek dengan pelaku jasa melalui smartphone sehingga lebih efisen dan pelaku jasa pun lebih nyaman.

Anak muda generasi milenialis yang menggagas Go-Jek tidak perlu memiliki benda fisik untuk menjalankan siklus perekonomian ini. Mereka hanya memanfaatkan teknologi dengan mengkoneksikan antara pelaku usaha dan pelaku jasa. Namun, belum lama ini kita banyak mendengar berita pengemudi Go-jek menjadi korban sweeping ojek pangkalan (Opang). Bukanya melemahkan, Go-Jek semakin populer dikalangan netizen dan terus berevolusi serta berkembang. Dulunya hanya sebatas produk jasa menjadi pasar untuk jasa-jasa yang lain. Go-Food, Go-Box, Go-Send, Go-Clean, Go-Message yang bisa ditemui di aplikasi Go-Jek. Seperti ini generasi milenialis, semakin dikekang maka akan semakin menjadi-jadi.

Begitupun dengan tatanan birokrasi terkhusus Universitas Negeri Makassar (UNM). Barisannya masih dipenuhi oleh incumbent yang terbelenggu di zona nyaman yang hanya melakukan iteretion (kurangnya inovasi). Menurut Rhenald kasali (2017) bahwa banyak kampus dalam negeri terkesan bagus, tetapi dunia akademiknya terbelenggu dengan aturan yang kaku dan terperangkap dalam birokrasi administrasi dan investasinya terhadap teknologi selalu
ketinggalan. Apalagi UNM telah menyiapkan diri untuk menyongsong World Class University. Sudah siapkah UNM dengan segala konsekuensinya? Tapi persoalanya adalah kampus cenderung mencari pengajar dari almamaternya sendiri. Padahal seyogianya ia harus mengisi pengajar dan mahasiswa yang terbaik lintas-almamater atau bangsa sebagai penguatan kapasitas dan juga mencerminkan keberagaman. “Peringkat kelas dunia hanya bisa kalau kampus pandai menjaring dana abadi, pandai mengelolahnya, transparan, pandai melakukan investasi, dan mendatangkan pengajar-pengajar hebat seperti juga mahasiswa-mahasiswanya”. Kutipan buku Disruption.

Kampus hakikatnya tempat untuk menempa diri, sudah sepantasnya mendapatakan fasilitas dan pelayanan yang prima, bukan bertemu dengan pengajar kurikulum yang terlalu kaku dan buta teknologi. Mahasiswa membutuhkan pengajar yang insfiratif, mampu membawa angin segar dan merubah pola pikir yang lama. Dilain sisi, seringkali pihak kampus memaksa diri untuk menerima mahasiswa yang banyak tetapi tidak disesuaikan atau diseimbangkan kapasitas jurusan/prodi dan tenaga pengajar yang mengisinya. Kurang harmonisnya hubungan antara pemangku kebijakan kampus dan mahasiswa yang aktif menyuarakan aspirasinya juga di tengarai sebagai suatu problem. Terlebih lagi ketika lembaga kemahasiswaan hadir di kampus sebagai pelengkap semata, sudah tidak lagi berada pada koridornya, parlemen jalanan pun sudah hampir punah, suara-suara mereka terkesan dibungkam sebab adanya sikap dari kampus untuk menciptakan suasana yang terlihat sedang tidak terjadi apa-apa, padahal sedang ada apa-apanya.

Sudah saatnya komponen birokrasi sedikit demi sedikit diisi oleh anak muda yang hebat dalam membaca situasi yang akan datang. Mereka yang paham kebutuhan masa kini dan menciptakan hubungan emosional yang romantis baik secara vertikal maupun hirizontal. ”Orang tua kaya pengalaman masa lalu, tetapi miskin tentang masa depan. Sebaliknya anak-anak muda miskin pengalaman masa lalu, tetapi punya banyak waktu dan tantangan masa depan” (CEO Bank BRI). Sekarang pertanyaannya adalah kita memilih yang mana untuk meramuh kampus ini. Apakah anak muda atau para pemain lama (incumbent). Sekiranya butuh secangkir kopi untuk memantapkan pilihan. (*)

*Penulis adalah Enaldi, Mahasiswa Ilmu Administras Bisnis FIS UNM angkatan 2016