Mobil dinas milik Rektor UNM terparkir di depan Menara Pinisi beberapa waktu yang lalu - (Foto: Dok. Profesi)
Mobil dinas milik Rektor UNM terparkir di depan Menara Pinisi beberapa waktu yang lalu – (Foto: Dok. Profesi)

PROFESI-UNM.COM – Pengadaan mobil dinas baru tengah dicanangkan oleh birokrasi Universitas Negeri Makassar (UNM). Perencanaan pengadaan mobil dinas baru ini ditargetkan dapat terpenuhi tahun ini. Namun rencana tersebut mendulang banyak tanggapan dari berbagai lapisan masyarakat UNM.

Saat Tim Asesor Akreditasi Institusi Perguruan Tinggi BAN-PT melakukan visitasi di UNM, Senin (3/4) kemarin, pelat merah kendaraan dinas Pembantu Rektor (PR) terpajang pada mobil bermerek Alphard. Mobil itulah yang digunakan menemani tim asesor mengelilingi kampus. Sebelumnya, kendaraan dinas yang kerap dipakai ialah jenis Innova.

Saat dikonfirmasi, Kepala Bagian (Kabag) Perencanaan, Biro Administrasi Perencanaan dan Sistem Informasi (BAPSI) UNM, Nikmah membantah mobil yang dipakai oleh PR merupakan bagian dari pengadaan mobil sewa yang tengah dicanangkan. “Sampai sekarang belum ada pengadaan mobil sewa. Saya tidak tahu menahu mobil yang dipakai kemarin,” bantahnya, Selasa (4/4).

Namun, Nikmah membenarkan mengenai pengusulan penggantian mobil untuk rektorat, meski hanya melakukan penyewaan. “Kami telah mengusulkan pengadaan mobil baru untuk rektorat, namun kami hanya akan melakukan penyewaan, bukan pembelian. Rencananya penyewaan mobil akan terlaksana tahun ini,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia membeberkan kondisi mobil pembantu rektor saat ini masih dalam kondisi mulus. “Walaupun sudah berumur, tapi sebenarnya masih layak pakai,” ujarnya. “Tapi kita tetap akan mengusulkan mengingat semua mobil PR tidak pernah diganti. Seharusnya mobil sekarang sudah menjadi mobil operasional,” tambahnya.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (Maperwa) Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS), Wahyu Gandi menolak rencana pengadaan mobil tersebut. Menurutnya, kebijakan pihak birokrasi dinilai kurang bijak. “Kalau kesannya mengejar kemewahan semata, saya kira itu langkah yang sangat tidak bijak. Kapan pimpinan bertindak mencukupi segala fasilitas penunjang yang ada,” tuntutnya.

Mahasiswa angkatan 2013 ini pun menuturkan, pengambilan keputusan mampu melibatkan semua elemen sivitas akademika. “Ada baiknya pertimbangkan dulu, harus melibatkan seluruh sivitas, tidak ada pro dan kontra seperti itu ,” tuturnya.

Terpisah, Ketua Maperwa UNM, Yunasri Ridho, menilai pengadaan mobil bagi PR adalah hal yang wajar. Namun hal tersebut dapat dianggap pemborosan bila kondisi mobil sebelumnya masih layak pakai. “Kalau mobil yang sekarang masih bagus, kenapa harus diganti,” ujarnya.

Mahasiswa angkatan 2012 ini menyarankan, pengadaan mobil yang dilakukan oleh birokrat harus sesuai dengan peran UNM sebagai institusi pendidikan. “Kalau diganti dengan mobil dinas yang baru, tidak perlu yang mewah, karena ini institusi pendidikan,” tuturnya. Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial ini pun mengimbau pejabat kampus agar lebih memprioritaskan fasilitas perkuliahan.

“Lebih baik sarana kampus yang itu saja diperbaiki daripada beli kendaraan dinas yang mahal” harapnya.

Sementara itu, Pembantu Rektor Bidang Administrasi Umum dan Keuangan (PR II) UNM Karta Jayadi, membenarkan adanya rencana pembaruan mobil dinas baru bagi pembantu rektor. “Memang benar akan ada pengadaan mobil dinas baru. Pengadaan itu sendiri untuk seluruh PR,” katanya. (tim)


*Tulisan ini terbit di Weekly News Edisi 6