(Foto: Int)
(Foto: Int)
(Foto: Int)

Asa Ku

Hey dengarlah kau yang ada disana
Hari ini akan kusampaikan, apa yang terjadi dalam hati ini

Aku anggap ini suatu kado untukmu
Ribuan mata melihatku disini, berdiri di depanmu
Sementara kau hanya diam duduk termenung

Kau bodoh
Tapi kau pandai beretorika
Kau berkata disaat ku tak disampingmu
Ooohh aku tahu, kau malu kan …?
Tapi, sudahlah

Kini kucoba melupakan bayang diatas senja, namun aku ternyata munafik dengan perasaan
Kucoba mengeja namamu dalam syairku, namun kau hanya menatapku dengan kekosongan
Salahmu buat aku jatuh cinta padamu, kau luluhkanku, lalu kini kau membuang wajahmu diatas senyumanku

Kutulis puisi dengan sanjungan, namun kau hanya menatap lunak tanpa berasa
Kukirim pesan dengan humoran, tapi kau membalas dengan duka
Sudah sekian lama aku mencinta, sekian lama pula aku menunggu ketidakpastiaan

Hey wanita yang ku sanjung,
Menolehlah, lirik aku dengan senyuman pelangimu
Pelangi yang dulu memberikan warna dalam hidupku, namun kini menjadi kehidupan kelamku

Hey wanitaku
Berbaliklah, lihat aku yang menitip asa dalam cintamu
Inilah kado untukmu, isinkan benih ini tumbuh dalam hatimu. (*)

*Penulis adalah Tommy Imam Prasetya, Mahasiswa Jurusan Akuntansi Universitas Negeri Makassar