Mantasiah saat membawakan orasi ilmiah dalam Pengukuhan Professor di RuangTeater Lt.3 Menara Pinisi, Selasa (21/3) - (Foto: Abdul Wahid Muhsin - Profesi)
Mantasiah saat membawakan orasi ilmiah dalam Pengukuhan Professor di RuangTeater Lt.3 Menara Pinisi, Selasa (21/3) - (Foto: Abdul Wahid Muhsin - Profesi)
Mantasiah saat membawakan orasi ilmiah dalam Pengukuhan Professor di RuangTeater Lt.3 Menara Pinisi, Selasa (21/3) – (Foto: Abdul Wahid Muhsin – Profesi)

PROFESI-UNM.COM – Guru Besar Ilmu Linguistik Fakultas Bahasa dan Sastara (FBS) Universitas Negeri Makassar (UNM), Mantasiah menyebut bahwa bahasa daerah saat ini sudah mengalami kepunahan. Hal tersebut disampaikan saat membawakan orasi ilmiah dalam Pengukuhan Professor di RuangTeater Lt.3 Menara Pinisi, Selasa (21/3).

Ia menjelaskan, Indonesia menduduki peringkat kedua sebagai negara dengan bahasa daerah terbanyak yakni 742 bahasa. Banyaknya bahasa di Indonesia menjadi daya tarik bagi peneliti bahasa di Dunia. Namun, bahasa daerah ini mengalami kepunahan karena berbagai faktor.

“Papua nugini menduduki peringkat pertama sebagai bahasa daerah terbanyak, sementara Indonesia sendiri menduduki peringkat kedua. Namun dewasa ini bahasa daerah mulai ditinggalkan oleh penutur dan mengalami kepunahan,” jelasnya

Dalam orasi ilmiah yang berjudul ‘Revitalisasi Bahasa Daerah Sebagai Upaya Pemertahanan Bahasa Nusantara’, ia juga mengatakan bahwa kemajuan zaman dan masuknya budaya asing menjadi faktor utama semakin kurangnya penggunaan bahasa daerah.

“Karena modernisasi dan globalisasi, bahasa daerah jadi tidak sering di gunakan. Dominasi bahasa indonesia dan asing juga merupakan faktor pendukung bahasa ibu ditinggalkan oleh penutur,” katanya.

Lebih lanjut, Dosen Jurusan Bahasa Jerman ini menambahkan, pemerintah dan lembaga bersangkutan harus mengambil tindakan untuk mempertahankannya. Berusaha mencegah semakin punahnya bahasa ibu. Para orang tua pula memiliki peran penting dalam mengajarkan bahasa ibu kepada para penerus bangsa nantinya.

“Melihat hal ini, haruslah ada tindak lanjut dari pemerintah, dan lembaga tertentu dalam mempertahankan bahasa daerah yang ada. Para orang tua juga haruslah memastikan agar anak dapat memahami dan menggunakan bahasa daerah lebih aktif dalam keseharian.” tambahnya. (*)


*Reporter: Faisal Fajar