Manajer Kasus UPT Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Sulawesi Selatan, Warida Safie saat menjadi pembicara pada Talkshow Pra Event 2 Psydea di Aula MTM FPsi, Jum'at (17/3) - (Foto: Abdul Wahid Muhsin - Profesi)
Manajer Kasus UPT Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Sulawesi Selatan, Warida Safie saat menjadi pembicara pada Talkshow Pra Event 2 Psydea di Aula MTM FPsi, Jum'at (17/3) - (Foto: Abdul Wahid Muhsin - Profesi)
Manajer Kasus UPT Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Sulawesi Selatan, Warida Safie saat menjadi pembicara pada Talkshow Pra Event 2 Psydea di Aula MTM FPsi, Jum’at (17/3) – (Foto: Abdul Wahid Muhsin – Profesi)

PROFESI-UNM.COM – Manajer Kasus UPT Pusat Pelayanan Terpadu PerlindunganĀ Perempuan dan Anak (P2TP2A) Sulawesi Selatan, Warida Safie mengungkapkan, saat ini tempat bermain anak-anak sangat kurang sehingga mereka lebih memilih bermain gadget.

Hal tersebut disampaikan saat menjadi pembicara pada Talkshow Pra Event 2 Psydea di Aula MTM FPsi, Jum’at (17/3). Menurutnya, anak-anak sangat tertarik hal itu lantaran dinilai lebih seru. Makanya, untuk itu tempat bermain mesti dibuat sebagus mungkin.

“Tidak ada tempat bermain yang ada di mesjid sehingga anak-anak lebih suka bermain game,” katanya.

Lanjut, ia mengatakan, peran lembaga perlu untuk membuat anak-anak dapat melakukan interaksi dengan orang tua. Pasalnya, hal tersebut sangat kurang sehingga anak-anak dapat melakukan semaunya tanpa pengawasan.

“Banyak lembaga saat ini kurang memfasilitasi anak-anak untuk berkomunikasi dengan orang tuanya,” lanjutnya.

Saat ini, jumlah kekerasan tertinggi pada anak di Sulawesi Selatan berada di Makassar dengan jumlah kekerasan 1172 kasus. Disusul Bulukumba dengan 214 kasus. (*)


*Reporter: Abdul Wahid Muhsin