Senat FPsi memakai jas almamater warna biru saat penyambutan mahasiswa baru beberap waktu yang lalu - (Foto: Ist)
Senat FPsi memakai jas almamater warna biru saat penyambutan mahasiswa baru beberap waktu yang lalu - (Foto: Ist)
Senat FPsi memakai jas almamater warna biru saat yudisium beberapa waktu yang lalu – (Foto: Ist)

PROFESI-UNM.COM – Setiap kampus pasti memiliki warna sebagai simbol. Seperti halnya dengan Universitas Indonesia yang memiliki warna Kuning sebagai simbolnya. Begitu pula dengan Universitas Negeri Makassar (UNM).

Kampus pencetak guru ini juga memiliki warna kebangaan almamateryaitu orange. Tentunya, dalam menentunkan warna jas almamater disesuaikan dengan warna kampus. Tapi beda halnya dengan FakultasPsikologi (Fpsi).

Mereka lebih memilih untuk membuat jas almamater khusus anggota senat dengan warna berbeda. Biru menjadi pilihan mereka. Dikonfirmasi, Muhammad Jufri selaku Dekan Fpsi mengungkapkan bahwa mereka memang sengaja membuat jas alamamater biru. Menurutnya itu sebagai pembeda dengan fakultas lainnya. Apalagi nwarna biru merupakan warna kebesaran psikologi.

“Kita membuat jas almamater berdasarkan kesepakatan bersama dan memutuskan memilih warna biru yang merupakan warna kebesaran Psikologi,” jelasnya saat ditemui diruangannya, Selasa (10/1).

Lanjut, Jufri menjelaskan untuk membuat kebijakan tersebut. Mereka tak perlu meminta izin ke pimpinan Universitas. Karena memang tak ada larangan. Lagipula hingga saat ini, belum ada aturan jelas menganai pembuatan jas alammater di setiap fakultas.

“Kan tidak ada larangan dalam pembuatan almamater, kenapa harus minta izin dulu ke Rektor, universitas tidak membuat ketentuan pelarangan pembuatan jas almamater,” jelasnya.

Menanggapi hal tersebut, salah satu Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Sainal menyarankan untuk tidak membuat hal tersebut. Pasalnya, yang dilakukan FPsi terkesan ingin membuat perbedaan. Padahal, menurutnya semua fakultas harusnya tidak membuat perbedaan yang sangat jelas. Baginya UNM itu satu.

“Saya baru tahu kalau ternyata psikologi membuat jas almamater sendiri, sebaiknya jangan begitu, karena mempertajam perbedaan diantara kita”. Tutup mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial (FIS). (*)


*Tulisan ini terbit di Tabloid Profesi Edisi 210