Aksi unjuk rasa yang digelar Pedagang Kaki Lima (PKL) didepan Kampus UNM Parangtambung, Kamis (3/11). (Foto: Nurul Fildzah - Profesi)
Aksi unjuk rasa yang digelar Pedagang Kaki Lima (PKL) didepan Kampus UNM Parangtambung, Kamis (3/11). (Foto: Nurul Fildzah - Profesi)
Aksi unjuk rasa yang digelar Pedagang Kaki Lima (PKL) didepan Kampus UNM Parangtambung, Kamis (3/11). (Foto: Nurul Fildzah – Profesi)

PROFESI-UNM.COM – Rencana penggusuran Pedagang Kaki Lima (PKL) yang bermukim di depan kampus Universitas Negeri Makassar (UNM) Parangtambung, menuai pro dan kontra. Banyak mahasiswa yang menolak penggusuran tersebut. Hal itu ditandai dengan adanya demonstrasi PKL dan mahasiswa di depan kampus UNM Parangtambung, Kamis (3/11). Namun, tak sedikit pula yang pro terhadap kebijakan tersebut.

Mahasiswa Pendidikan Bahasa Jerman, Yulia Selviana misalnya. Ia mengungkapkan menolak keras penggusuran tersebut. Menurutnya, keberadaan PKL justru menguntungkan mahasiswa.

“Penggusuran PKL dapat menyusahkan mahasiswa, apalagi di dalam kampus tidak tersedia tempat fotocopy yang memadai,” ucapnya.

Mahasiswa angkatan 2013 ini, juga menjelaskan, para pedagang yang digusur akan kehilangan pekerjaan.

“Kasihan juga sama para pedagang, nanti mau pindah ke mana jika digusur” tambahnya.

Berbeda dengan Yulia. Salah satu mahasiswa Jurusan Bahasa Inggris, AR justru setuju dengan penggusuran tersebut. Ia beralasan keberadaan PKL mengganggu pemandangan kampus serta kadang menyebabkan kemacetan.

“Solusinya kan PKL bisa dipindahkan atau direlokasikan,” ujarnya. (*)


*Reporter: Irta Safitri/*Editor: Citra Jati Utami